t
Beranda Kolom Opini Wujud Pendidikan di Abad 21

Wujud Pendidikan di Abad 21

Oleh: Ghilman Hanif / Ketua Umum HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Ciputat

WIB
135 views
| Estimasi Baca: 4 minutes
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Ujian Nasional (UN) yang sedang diselenggarakan pada tanggal 9 – 12 April 2018 untuk SMA/MA di seluruh Indonesia. Sebelumnya, siswa SMK sudah melaksanakan UN pada 2-5 April lalu. Jika siswa/siswi tersebut belum sempat mengikuti UN, maka ada UN susulan yang akan di selenggarakan pada 17-18 April 2018.

Pemerintah, melalui Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan mewajibkan sekolah mengadakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), walaupun secara substansi sama dengan tujuan mengevaluasi akhir siswa dari proses belajar di sekolah. Namun memakai media berbeda dengan biasanya.

Siswa/siswi bertaruh masa depannya di UN. Karena hasil dari UN tersebut menjadi instrumen penting dan utama untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya. Hasil evaluasi yang didapatkan hanya berdasarkan pengetahuan bukan soal karakter yang telah diajarkan sekolah, keluarga dan lingkungan pendidikan.

Pada abad 21 ini, pendidikan bukan hanya dituntut untuk memakai teknologi yang canggih, namun ada hal-hal yang fundamental dari problematika bangsa abad ini. Tidak salah, jika sekolah menggunakan alat yang canggih untuk mendidik siswa / siswinya, semua itu ada kekurangan dan kelebihannya.

Dengan menggunakan media yang canggih, proses belajar mengajar di sekolah bisa lebih efektif dan efisien. Namun, proses pendidikan itu bukan hanya efektif dan efisien.

Pendidikan pada abad 21 masih memiliki masalah tentang karakter, kompetensi dan literasi. Jadi, pelaku dipendidikan mengetahui langkah-langkah dalam upaya menyelesaikan masalah pendidikan di era-nya.

Karakter, Kompetensi dan Literasi

Fenomena sosial yang terjadi hari-hari ini sangat beragam, murid yang membunuh gurunya, guru yang memukul siswanya, anak yang memenjarakan orangtuanya, dan masih banyak lagi jika dituliskan semuanya, kebanyakan masalah karakter. Pendidikan menjadi peran yang sangat penting agar masalah-masalah bisa terasi, “walaupun tidak semua”.

Karakter menurut Kamisa, (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian. Ini soal pribadi bangsa yang menjadi pembeda dengan pribadi bangsa lain. Karakter itu bukan hanya soal karakter moral, tetapi karakter kinerja juga harus dimiliki setiap pribadi bangsa.

Jika ada pribadi yang ber-etika, jujur, dan santun, atau boleh dikatakan bermoral. Namun, pribadi tersebut malas, tidak ulet, dan bukan pekerja keras, maka tidak adanya proses membangun peradaban yang seimbang.

Sebaliknya, jika pribadi tersebut memilki karakter kinerja, namun tidak memiliki karakter moral (amoral -red), maka tidak akan bertahan lama peradaban tersebut, ada cerita fiksi yang mungkin jarang orang mendengar, ada sebuah daerah yang memiliki tembok besar untuk menjaga daerah kekuasaannya, dan tembok itu tidak bisa dihancurkan oleh senjata apapun, namun ada banyak penjaga yang dalam proses pendidikannya tidak diajarkan tentang karakter moral, alhasil banyak penjaga yang bisa disuap agar bisa menembus pertahanan.

Tidak usah repot-repot menghancurkan sebuah bangsa yang tidak memiliki karakter moral. Karena faktor karakter yang seimbang antara moral dan kinerja itu menjadi dasar dalam membangun karakter bangsa.

Pendidikan juga harus fokus ke masalah kompetensi, sudah membaik kompetensi bangsa ini dengan bangsa yang lain tapi ada hal-hal yang menjadi perhatian lebih, kompetensi harus memenuhi unsur 4K (kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif).

Menurut Stephen Robbin (2007:38) bahwa kompetensi adalah kemampuan (ability) atau kapasitas seseorang untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, dimana kemampuan ini ditentukan oleh 2 (dua) faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Selain kompetensi, Literasi menjadi problem dasar pendidikan di bangsa ini.

Literasi bermanfaat agar memberikan keterbukaan wawasan yang dimilki pribadi-pribadi bangsa ini. “Minat baca” di Indonesia bisa dikatakan “tinggi” namun daya baca di Indoneisa masih sangat rendah.

“Minat baca” yang dimaksud adalah minat membaca status media sosial. Menurut survey yang dilakukan oleh global web index, rata rata penggunaan media sosial di Indonesia cukup tinggi. Dalam seharinya, orang mengakses media sosial selama 2 jam 51 menit. Dari sisi jumlah, ada 79 juta user Facebook. Lebih dari 90% adalah usia produktif, antara 13 tahun-40 tahun. Hal ini membuat kita merasa nyaman, tetapi menurunkan kemampuan membaca kita secara mendalam. Akibatnya berpikir dan berkontemplasi menjadi berkurang.

Sosial media membuat kita cenderung, berenang di permukaan, bukan menyelam di kedalaman. Minat baca kita bisa baik, namun daya baca kita masih sangat jauh dari kata baik. Bahkan dari 61 negara yang di survey oleh Studi Most Littered Nation In the World 2016, Indonesia berada di tingkat 60. Sedangkan yang kita ketahui bersama ada pepatah yang mengatakan “Buku adalah jendela dunia” dan saat ini tampaknya pepatah kata tersebut sudah hanya menjadi sebuah kata-kata saja.

Namun menurut alberta (2009) arti literasi bukan hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan menulis namun menambah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dapat membuat seseorang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks, mampu berkomunikasi secara efektif dan mampu mengembangkan potensi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Literasi juga bukan hanya tentang baca, tulis dan hitung (batutung). Problematika abad ke 21 ini banyak menyentuh aspek budaya, teknologi dan keuangan. Jadi pendidikan harus menyentuh literasi membaca, literasi teknologi (seperti kemampuan coding) dan literasi keuangan.

Masa Lalu dan Masa Depan

Ucapan Anies Baswedan ketika membuka kegiatan Seminar Nasional yang berada di salah satu lembaga pendidikan di Jakarta yaitu, “Janganlah puas dengan masa lalu, tapi gelisahlah dengan masa depan”.

Kemudian kata-kata Bapak Proklamator kita Ir Soekarno “Jas Merah” atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Itu bukan berarti kita harus selalu mendambakan sejarah yang hanya masa lalu, namun sebagai seorang manusia yang pada hakikinya harus bisa mendidik, seyogyanya mampu membicarakan masa depan dan membangun masa depan yang gemilang.

Pendidik banyak mempertanyakan kepada anak didik, “cita-cita kamu mau jadi apa?”. Pertanyaan seperti itu harus diperbaharui, karena dahulu ada seorang anak didik yang ditanya oleh pendidik dengan pertanyaan seperti itu, dan jawabannya adalah menjadi tukang pos, yang berguna kepada masyarakat agar surat-surat bisa dibagikan. Namun sekarang, sudah jarang tukang pos.

Alangkah lebih eloknya jika pertanyaannya diubah menjadi “cita-cita kamu mau membuat apa untuk bangsa ini?” jadi yang ditanyakan tentang bagaimana, bukan apanya. Ketika masa depan sudah dipersiapkan, maka tidak akan sulit untuk menghadapinya.

Indonesia akan mendapat momentum bonus demografi, dan masyarakat dari berbagai negara sudah banyak berkompetensi di Indonesia, jika tidak dipersiapkan, maka akan sulit untuk membangun peradaban oleh warga Indonesianya sendiri.

Berikan pengetahun seluas-luasnya, berikan pengalaman yang berharga, dengan mengajarkan Karakter, Kompetensi dan Literasi. Lalu biarkan mereka terbang agar siap menghadapi masa depan.

Selamat melaksanakan Ibadah Ujian Nasional Berbasis Komputer untuk siswa/siswi di Indonesia.