Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Surabaya, Redaksikota.com – Menyikapi dinamika perkembangan virus COVID-19 yang mulai hangat diperbincangkan awal Januari 2020 di tanah air, perlu sekiranya untuk memperhatikan beberapa kebijakan dan langkah strategies yang dipilih oleh pemerintah dalam rangka pencegahan penyebaran Pandemi COVID-19 khususnya dilingkungan pendidikan, Melalui Kementrian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), bahwa sampai hari ini diketahui Social distancing merupakan salah satu solusi kebijakan yang diambil sebagai upaya pencegahan penularan virus sehingga setiap perguruan tinggi berlomba-lomba menerbitkan surat edaran ataupun keputusan Rektor pada intinya menghimbau untuk meminimalisir kegiatan kampus serta menerapkan sistem kuliah online, Daring, E-learning dan lain sebagainya kepada seluruh civitas akademika dilingkungan kampus di berbagai daerah.

Namun dalam prakteknya ternyata terdapat
beberapa hal yang paradoks dengan semangat tetap belajar ditengah pencegahan virus COVID-19, Realitanya justru banyak Perguruan tinggi yang tidak siap menghadapi sistem ini sehingga timbul pertanyaan apakah tenaga pendidik cukup mumpuni melaksanakan sistem kuliah online, Daring, E-learning? Dan bagaimana sistem yang telah dibangun oleh masing-masing kampus?,
Melihat kondisi ini penulis berpendapat perlu dilakukan pembedaan antara yang dimaksud dengan kuliah online, E-learning, ataupun daring dengan diliburkan dan perlu di lakukan evaluasi dari penerapan sistem pembelajaran tersebut, Mengingat virus ini baru akan selesai pada bulan April apabila penanganannya dilakukan dengan cepat dan tidak dalam kompleksitas yang tinggi, ujar peneliti Institute Pertanian Bogor (ITB) Nuning Nuraini dalam keterangan tertulis, pada Kamis (19/3/2020).

Hemat penulis benar bangsa kita sedang dilanda COVID-19 tetapi tidak boleh dilanda kebodohan dan kepatuhan absolut, dalam keadaan darurat sekalipun ruang-ruang kritisisme terhadap Publik policy tetaplah terbuka luas sebagai media nalar yang hidup, melihat fakta lapangan yang terjadi apa salahnya kampus jujur untuk mengatakan bahwa perkuliahan diliburkan sembari memberi wacana, Mungkin sedikit insentif ruang bebas agar Mahasiswa dapat turut serta memecahkan masalah, walaupun mungkin hanya dengan membuat Hand sanitizer dari aloe vera, alcohol, dll, Kemudian membagikannya kepada yang membutuhkan sebagai antisipasi kelangkaan atau membuat bilik sterilisasi, daripada melaksanakan Kuliah online, daring atau E-learning yang terbukti tidak optimal dengan dampak pada: (1) fakta bahwa mahasiswa hanya dibebani tugas yang bertumpuk (Dosen pilih cara instan ketimbang mempersiapkan E-Learning, daring dan online) (2) sistem E-learning yang sama sekali lambat disediakan oleh pihak kampus (3) ketidaksiapan tenaga pengajar dalam menerapkan sistem E-learning, daring dan online (4) tidak memberi kontribusi sama sekali dalam penanganan virus Covid-19 selain hanya harapan akan mahasiswa berada dirumah saja, (5) mahasiswa tidak dapat menggunakan fasilitas kampus untuk turut serta mengambil peran sebagai Agent of change atau pemecah masalah saat ini.

Menurut saya memberikan ruang bebas dalam upaya menghadirkan solusi dan wacana gagasan Seharusnya dapat menjadi pilihan bijak dan solutif ketimbang membebani dengan tugas yang nihil kontribusi pada masalah COVID-19. Namun Kritik ini jangan dipahami secara sempit, melainkan secara luas, pada dasarnya semua dilatar belakangi oleh kebijakan terhadap penanganan Pandemi COVID-19 yang terlalu percaya diri dan sembrono! Terkesan
menyepelekan hingga keliru dan akhirnya merugikan masyarakat, Rizal Ramli misalnya
mengatakan “bahwa telah terjadi kekeliruan yang salah dan benar salah saat rapat kabinet memutuskan memberi insentif bagi penerbangan dengan tujuan spot wisata guna menarik wisatawan, memberi anggaran influencer Rp.72 Miliar saat negara lain menutup akses” (Rabu 18 Maret 2020).

Meskipun pemerintah pada beberapa waktu yang lalu telah mengambil langkah Re-kebijakan kembali hal ini justru mencerminkan ketidaksiapan pemerintah, kesalahan dalam mengambil keputusan sehingga berdampak pada situasi hari ini, dan berdampak pula terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat, Dengan ini penulis bermaksud memberikan beberapa saran terhadap pihak berwenang diantaranya: (1) Perlu dilakukannya evaluasi atas penerapan sistem belajar Kuliah online, daring dan atau E-learning di masing-masing kampus, (2) Kampus paling tidak perlu melakukan persiapan lebih matang untuk menerapkan sistem Kuliah online, daring dan atau E-learning, (3) Pemerintah harus lebih cepat dalam mengambil tindakan tehnis dilapangan guna pencegahan penyebaran COVID-19 termasuk bagaimana teknis lapangan tes massal yang digaungkan oleh Presiden, (4) Mendorong pemerintah agar melakukan tindakan Cooperatif dengan lebih terbuka dan jujur akan data penyebaran COVID-19 di Indonesia, terakhir pada intinya saya menyimpulkan bahwa sejak awal telah terjadi kekeliruan dalam menentukan kebijakan yang dapat diambil, pemerintah terkesan lamban dalam menangani masalah, ketidaksiapan alat medis yang dibutuhkan sehingga justru mengakibatkan problem yang tidak terselesaikan, Dalam kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan mendukung gerakan Social distancing, menghimbau pula masyarakat agar patuh dengan metode ini, semoga dapat meminimalisir penularan, akhir kata saya suguhkan kalimat dari filsuf tokoh besar mazhab filsafat Stoa yang populer pada Abad 4 SM (Sebelum Masehi) sampai Abad 2 M (Masehi) semoga dapat membuka kesadaran moral kita dan membuka pikiran untuk segera melakukan evaluasi serta mawas diri, denger nih ya! “Salus populi suprema lex esto (hukum tertinggi dalam sebuah negara adalah kesehatan masyarakat)” Cicero.