lawan hoax
Ustadz Haji Slamet Baedowi saat mengisi tausiyah di Silaturrahmi Majelis Ta'lim Mushallah Al Hikmah. [foto : Redaksikota]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Masyarakat Pisangan Timur sepakat dengan perlawanan terhadap hoax atau berita bohong. Hal ini disampaikan mereka dalam kegiatan silaturrahmi yang digelar oleh Majelis Ta’lim Musholla Al Hikmah.

Dalam ceramahnya, ulama setempat yakni Ustadz Haji Slamet Baedowi menyampaikan bahwa penyebaran hoax atau berita bohong hukumnya haram.

“Sejak jaman Rasulullah SAW, yang namanya hoax itu haram,” kata Ustadz Slamet dalam tausiyahnya di Musholla Al Hikmah, Pisangan Timur, Jakarta Timur, Jumat (20/4/2018).

Ia mengakui bahwa sebelumnya ia pernah menjadi terjebak penyebaran hoax melalui sosial media. Lantaran yang mengirimkan informasi tersebut adalah seorang kiyai, maka ia pun mempercayainya sehingga ia langsung menyebarluaskan melalui jejaring media sosial. Beruntungnya tak lama ia menyebarkan berita tersebut, ada klarifikasi dari pihak korban yang disebutkan dalam berita tersebut.

“Dulu saya terjebak, ‘Innalillahi Ustadz Cepot meninggal‘, karena kebetulan yang sebar itu kiyai, ya saya kira benar makanya saya share. Tiga hari kemudian saya dapat kabar itu hoax, yang bersangkutan masih dirawat masih diinfus dan belum meninggal. Istighfar saya, minta ampun,” kata Kiyai Slamet mengisahkan pengalamannya.

Melihat pengalamannya itu, ia pun mengingatkan kepada seluruh jamaah Musholla Al Hikmah dan warga Pisangan Timur untuk tidak mudah termakan hoax seperti dirinya. Ia menyarankan agar ke depan masyarakat yang mendapatkan informasi apapun harus diklarifikasi terlebih dahulu keabsahannya, sekalipun itu adalah kiriman dari tokoh agama atau kiyai.

“Makanya kalau kalian dapat info itu harus dicek dulu benar atau tidak, jangan asal sebar berita,” tuturnya.

Fitnah lebih kejam dari pembunuhan

Kemudian dalam syariat Islam sama sekali tidak dibenarkan seluruh pemeluknya untuk menyebarkan hoax, berita bohong, kabar fitnah, namimah dan sejenisnya. Bahkan kiyai Slamet mengatakan bahwa “Alfitnatu Asyaddu Minal Qatli” alias fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan.

“Membunuh manusia sesama muslim itu dosanya sangat besar sekali kan, nah fitnah dan hoax ini lebih kejam dari itu, coba bayangkan berapa dosa kita kalau kita sebarin hoax,” kata Kiyai Slamet.

Selain itu, dalam menyebarkan hoax ada konsekuensi hukum syariat yang sulit dibendung. Yakni dosa tersebut hanya bisa dihapus oleh Tuhan ketika orang yang berkata hoax atau menyebarkan hoax tersebut meminta maaf kepada orang yang dibicarakan dalam hoax tersebut.

“Apalagi jelang ramadhan seandainya kita punya kesalahan tinggal istighfar dan taubat, selesai, Allah bisa memaafkan dosa-dosa kita. Tapi kalau sama hablum minannas atau hubungan dengan manusia itu yang repot, harus saling maaf memaafkan,” terangnya.

Dan paling mengerikannya itu ketika hoax yang disebarkan melalui media sosial sudah viral dan menjadi catatan digital yang sulit sekali dihilangkan, semakin banyak orang percaya dengan hoax yang terlanjur tersebar itu maka dosa akan terus mengalir.

“Manusia yang mau selamat dunia akhirat, jagalah lisannya. Mau kiyai sekalipun kalau gak bisa jaga lisannya pasti hancur. Jangan suka bohong, jangan suka sebarkan hal yang bohong dan gak jelas, makanya jagalah lisan, berbicaralah yang benar dan baik. Jika bicaranya baik maka dengan tetangga akan akur, sama keluarga juga akan akur,” kata Kiyai Slamet. (ibn)