Beranda Khazanah Deradikalisasi Harus Sentuh 3 Dunia Pendidikan Ini

Deradikalisasi Harus Sentuh 3 Dunia Pendidikan Ini

Aksi teror yang sangat menyita perhatian publik adalah yang dilakukan oleh Dita Soeprianto dalam melakukan serangan bom bunuh dirinya di Surabaya. Betapa tidak, ia melalukan serangkaian aksi teror bom bunuh diri tersebut ternyata tidak sendiri, ia bersama-sama dengan istri dan empat orang anaknya yang sama-sama melakukan aksi bom bunuh diri tersebut.

Salah satu yang disoroti dari sosok Dita ini adalah latar belakangnya. Yang cukup unik dari Dita adalah sosok pria tersebut ternyata merupakan salah satu alumni salah satu sekolah favorit di Surabaya.

Tidak hanya itu, ia juga merupakan salah satu Ketua organisasi Rohani Islam (rohis) di kampus Universitas Airlangga (Unair). Pemahaman bengisnya itu ternyata sudah tertanam sejak muda sampai ia memiliki anak dan Istri.

Yang menjadi uniknya lagi adalah, sosok Dita ini ternyata di kalangan masyarakat di sekitarnya sangat ramah dan baik, namun demikian ia cenderung tertutup dengan sekitar. Namun dalam menjalankan misi sesatnya itu, Dita justru berhasil mendoktrin anak dan istrinya untuk ikut melakukan aksi bom bunuh diri.

Melihat situasi semacam itu, Ketua PC ISNU Sidoarjo dan Bidang Penjaminan Mutu PW Maarif Jatim, Solehuddin memandang ada yang perlu diperbaiki dari pendidikan di Indonesia.

“Basis persoalan pada Tiga Pusat Pendidikan sebagaimana digagas Ki Hajar Dewantara, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat,” kata Sholehuddin dalam keterangan persnya di Sidoarjo, Kamis (17/5/2018).

Apa lagi dalam sebuah penilian dan pengembangan yang ada, ditemukan 1% dari siswa di Indonesia terpapar paham radikal dan ekstremis itu.

Maka yang paling pokok dikatakan Sholehuddin adalah penguatan di pendidikan formal. Dimana pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah-sekolah formal maupun non-formal harus lebih dikuatkan bukan hanya sekedar kajian, melainkan harus ke wilayah praktik.

“Karena itu penguatan pendidikan karakter jangan sekadar menjadi materi pelatihan dan bimtek guru, tapi harus sudah ada aksi. Muatan kurikulum yang mengarah pada upaya terkonstruksi sosial sudah menjadi keniscayaan,” turur Sholehuddin.

Selain pendidikan karakter, pendidikan agama juga harus semakin dikuatkan dengan pemahaman yang lurus dan benar. Dimana segala firman Allah dipaparkan dengan pemahaman makna kontekstualnya.

“Pendidikan Agama di sekolah dan madrasah dengan aspek-aspeknya harus mampu mendialogkan antara teks firman Tuhan dengan makna secara konteks. Ini agar pesan Tuhan akan cinta-Nya dan cinta sesama tersampaikan secara masif kepada peserta didik,” tambahnya.

Namun yang tidak kalah jauh penting dari dua pendidikan di atas adalah pedidikan orang tua yang ternyata menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Kualitas orang tua menjadi salah satu modal utama apakah generasi bangsa Indonesia ini akan damai atau radikal.

“Sementara sebagai keluarga, ada kerapuhan ketahanan. Orang tua sebagai madrasah pertama, justru kontra produktif dengan sikap radikalnya yang ditularkan kepada anggota anggota keluarga lainnya, terutama anak,” tegasnya.

Salah satu yang diambil contoh oleh Sholehuddin adalah peristiwa ledakan bom di sebuah Rusunawa Wonocolo, Taman Sidoarjo, Jawa Timur. Dimana anak-anak dari pelaku bom tersebut ternyata menolak keras ajaran dan doktrin radikal yang disampaikan orang tuanya.

Pun demikian, Sholehuddin menilai memang harus ada perhatian khusus di kalangan orangtua dan keluarga di Indonesia, yakni menjauhkan mereka dari pikiran dan pendidikan radikal dan intoleran.

“Tapi ini menjadi pekerjaan bagi semua pihak untuk meningkatkan ketahanan keluarga melalui penyuluhan. Pemerintah bisa menggandeng ormas seperti NU dan Muhammadiyah untuk sosialisasi,” tuturnya.

Untuk di lingkungan masyarakat, salah satu upaya yang paling tepat untuk menangkal radikalisme dan munculnya para teroris untuk melancarkan aksinya itu adalah tokoh masyarakat dan pemerintahan di tingkat desa baik RT/RW.

“Kelompok ini harus diperkuat melalui jalinan RT-RW. Bahwa lingkungan itu sangat berpengaruh memang betul. Karena itu ajaran Nabi tentang pentingnya seorang mukmin yang bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi lingkungannya harus terus disuarakan. Jalinan komumikasi terus disambung, sehingga jika ada yang tidak wajar, segera dilakukan tindakan prefentif,” kata Sholehuddin.

Ramadhan jadi sekolah terbaik

Lebih lanjut, Sholehuddin mengajak seluruh stakeholder bangsa Indonesia untuk saling introspeksi diri dan meningkatkan kualitas pendidikan yang ada.

“Ramadhan ini harus menjadi momentum menyatukan peran sekolah, keluarga dan masyarakat. Muatan Pesantren Ramadhan di sekolah harus diarahkan pada pemahaman Islam moderat seperti Aswaja. Mentor-mentornya harus selektif seperti yang dilakukan PCNU Sidoarjo dalam beberapa tahun terakhir yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Sidoarjo,” papar Sholehuddin yang juga Dosen di IAI Al Khoziny dan Unusida itu.

“Demikian pula dengan keluarga dan lingkungan yang religi melalui berkah Ramadhan, harus bersemai bersaan dengan perilaku sosial,” imbuhnya.

“Dengan demikian, Ramadhan akan penuh makna reflektif bagi yang menjalankannya. Marhaban ya Ramadhan,” tutup Sholehuddin. (ibn)