Beranda Khazanah Banyak Orang Tak Paham Agama Tapi Jadi Mubaligh di TV

Banyak Orang Tak Paham Agama Tapi Jadi Mubaligh di TV

"Sekarang sudah banyak orang-orang yang tidak paham (agama) tapi langsung menjadi mubaligh atau penceramah di televisi. Bahkan pernah penceramah di televisi, menulis huruf arab salah. Orang seperti itu kok ceramah?," ujarnya.

194 views
Maruf Amin
Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin. [istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin mengingatkan kepada para santri untuk bersiap diri menghadapi tantangan global yang semakin semerawut seperti saat ini. Bahkan ia meminta agar pondol pesantren terus dihidupkan.

“Jangan sampai (pondok pesantren) tidak tersisa. Saat ini, ulama masih banyak saja, pesantren sudah menjamur dimana-mana,” kata Kiyai Maruf di tengah-tengah kegiatan peringatan Haul ke-15 KH Muhammad Dawam Anwar, di Aula Pondok Putra Yapink, Jalan Sultan Hasanuddin, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (27/1/2018) malam.

Apalagi menghadapi fenomena ustadz dadakan yang tidak paham agama namun percaya diri berceramah di televisi. Bagi Kiyai Maruf, fenomena ini sangat mengkhawatirkan bagi generasi bangsa dalam bidang keagamaan.

“Sekarang sudah banyak orang-orang yang tidak paham (agama) tapi langsung menjadi mubaligh atau penceramah di televisi. Bahkan pernah penceramah di televisi, menulis huruf arab salah. Orang seperti itu kok ceramah?,” ujarnya.

Ulama yang juga ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut juga mengatakan jika MUI saat ini tengah menggalakkan seruan “Ayo Mondok” sebagai bentuk gerakan kesadaran masyarakat betapa pentingnya pendidikan pondok pesantren. Dimana pembekalan pendidikan agama benar-benar dipukul dari bawah.

Selain itu, gerekan Ayo Mondok tersebut dikatakan Kiyai Maruf juga untuk menyadarkan para orang tua saat ini untuk mengirimkan anaknya ke Pondok Pesantren untuk dididik agama yang benar tidak hanya menelan mentah-mentah isi ceramah mubaligh atau penceramah karbitan itu.

“Maka, kalau ngirim anak ke pondok, kirimkan anak-anak yang cerdas karena dia yang akan menuntun masyarakat, yang akan mencari solusi dari berbagai problematika kehidupan masyarakat. Supaya anak-anak yang dimasukkan ke pondok itu mampu menghadapi beragam permasalahan yang terjadi di lingkungannya,” tuturnya. (*)