t
Beranda Khazanah RA Kartini, Sang Pelopor Emansipasi Wanita

RA Kartini, Sang Pelopor Emansipasi Wanita

WIB
136 views
| Estimasi Baca: 2 minutes
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Tanggal 21 April hari ini adalah hari dimana Raden Ajeng (RA) Kartini dilahirkan. Nama wanita kelahiran Rembang, Jawa Tengah tersebut selalu harum, karena dianggap sebagai pelopor kebangkitan kaum perempuan Pribumi saat itu.

Kartini adalah wanita tangguh dan inspiratif yang lahir pada 19 April 1879. Lahir di Kabupaten Rembang dan merupakan keturunan bangsawan Jawa yakni Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan pula sebagai Bupati di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sementara ibunda RA Kartini adalah M.A Ngasirah yang merupakan putri KH Madirono dan Ny Hj Siti Aminah dan sebagai seorang tokoh sekaligus guru agama di Telukawur, Jepara.

Karena posisinya adalah seorang keturunan bangsawan, anak ke 5 dari 11 bersaudara ini pun berhasil mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS), di sana Kartini muda di usianya yang ke 12 tahun itu diajari banyak pelajaran, namun bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Belanda.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Singkat cerita, karena gemerannya menulis surat dan memang tertarik dengan upaya membuat emansipasi wanita Hindia-Belanda (sekarang Indonesia) itu, pada tahun 1922, Balai Pustaka akhirnya menerbitkannya kumpulan surat-surat Kartini dalam bahasa Melayu, dengan judul yang diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran”, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara.

Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Dalam kumpulan surat-surat RA Kartini itu, memuat berbagai keluhan dan kegelisahan seorang Kartini terhadap kehidupan kaum perempuan yang seperti berada di kelas yang terendah. Banyak literasi yang bisa diambil dari berbagai surat karya RA Kartini tersebut.

Dan saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Dan pada usianya yang ke 24 tahun itu, kemudian oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.

Sang suami ternyata sangat mengerti betul keinginan istrinya itu, dan kemudian Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka saat ini.

Namun usia pernikahan dirinya dengan sang Bupati Rembang tak berjalan lama. Hal ini lantaran di usainya yang ke 25 tahun, RA Kartini meninggal dunia. Ia kemudian dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang, Jawa Tengah.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.