Beranda News Daerah PBNU Tidak Setuju Tamasya Al Maidah

PBNU Tidak Setuju Tamasya Al Maidah

111 views
Said Aqil Siradj
Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama periode 2010-2020.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Jelang proses pemungutan suara Pilgub DKI Jakarta yang akan berlangsung pada hari Rabu 19 April 2017 besok, situasi masih cukup panas, apalagi di kalangan grassroot. Dan salah satunya adalah dari kelompok pendukung paslon nomor urut 3, Anies Baswedan Sandiaga Uno. Salah satu yang akan diupayakan adalah menggelar pengerahan massa sebesar-besarnya dari daerah untuk mengawal jalannya proses demokrasi di DKI Jakarta tersebut.

Agenda yang dipimpin oleh Sanufri ID Sambo tersebut mengatakan jika upaya Tamasya Al Maidah tersebut tujuan utamanya adalah untuk memenangkan paslon Anies-Sandi, yakni dengan mengumpulkan sebanyak 100 orang dari kelompok mereka di masing-masing TPS. Dengan jumlah massa yang katanya diklaim sampai 1,3 juta orang tersebut akan disebar di seluruh TPS di Jakarta bak malaikat pencatat amal baik dan amal buruk.

Memandang kondisi yang semakin tidak karuan yang dilakukan oleh tim pemenangan Anies-Sandi tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Sirodj pun angkat bicara. Ia kemudian langsung mengimbau supaya kegiatan Tamasya Al Maidah tidak usah dilakukan. Kiai Said menegaskan, mobilisasi massa dari berbagai daerah ke Ibu Kota menjaga TPS-TPS tersebut justru akan semakin berpotensi memperkeruh suasana.

“Dari dulu saya tidak setuju. Menurut saya tidak perlu massa datang ke Jakarta,” ujar Kiai Said di Gedung PBNU, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (17/4/2017).

Kiai Said mengimbau jika terjadi gesekan, yang rugi seluruh rakyat Indonesia. Bahkan Kiyai yang merupakan alumnus Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta tersebut mengingatkan tentang yang terjadi di Suriah dan Somalia, dimana umat Islam terpecah sendiri dan menimbulkan kerugian yang sangat domino.

“Menurut saya tetap tidak usah demonstrasi, tidak usah ramai-ramai datang ke Jakarta. Mari dulukan kepentingan bangsa ini. Jangan sampai Indonesia seperti Somalia, Suriah dan lain-lain,” sebutnya memberi contoh.‎

Lebih jauh, Kiai Said berharap agar tidak ada intimidasi terhadap warga dengan embel-embel agama ketika hendak menggunakan hak pilihnya di TPS.

‎”Kalau senang A, silakan pilih. Yang senang B, silakan pilih. Yang menang si A ataupun si B itu tetap saudara kita,” tegas Kiai Said. ‎

‎Ditegaskan Kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat ini, aparat sudah memiliki mekanisme untuk mencegah adanya kecurangan. Seperti adanya saksi dari Panwaslu, Bawaslu, serta saksi dari pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta di setiap TPS. ‎

‎‎”Mari kita percayakan kepada penyelenggara pemilu. Di TPS juga ada Bawaslu, ada KPU, ada berbagai pihak dari saksi-saksi dari tim Ahok dan Anies juga ada,” pungkasnya.

Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang akan diselenggarakan besok, Rabu 19 April 2017 mendatang mestinya berlangsung damai dan tanpa tekanan. Semua pihak hendaknya tidak melakukan intimidasi dengan pengerahan massa. Apalagi sistem pengawasan dan pencegahan potensi gesekan di masyarakat juga sama sekali tidak dipersiapkan dengan baik oleh pihak penyelenggara. Bahkan ia malah membuat aparat kepolisian sebagai bantalannya jika ada kericuhan.