Beranda Khazanah Politisasi Masjid “No”, Politik Masjid “Yes”

Politisasi Masjid “No”, Politik Masjid “Yes”

1.026 views
Tolak kampanye di Masjid. [source : RMOL]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Fenomena penggunaan masjid sebagai sarana untuk menjaring suara kelompok politik tertentu dewasa ini memang tengah gencar terjadi, bahkan fenomena tersebut semakin membeludak sejak pergulatan politik di Pilkada DKI 2017 lalu, dimana kelompok yang mengatasnamakan Gerakan kelompok agama tertentu menyuarakan pilih pemimpin tertentu di mimbar-mimbar masjid, baik ceramah terbuka maupun dalam rangkaian khutbah Jumat. Upaya tersebut sering disebut sebagai gerakan Politisasi Masjid.

Sementara dalam politik, kehidupan Islam tidak akan pernah bisa dipisahkan darinya. Dimanapun dan kapanpun hampir kehidupan Islam akan bersentuhan dengan yang namanya politik termasuk di dalam masjid sekalipun. Namun konotasi Politisasi Masjid ini bisa dihindarkan ketika umat Islam menjalankan Politik Masjid di dalamnya. Dimana umat Islam berbicara dan bersikap secara politik yang tidak melegitimasi gerakan partai tertentu untuk memenangkan calon tertentu, melainkan lebih pada politik yang sifatnya lebih umum yakni untuk kemaslahatan umat secara luas.

Hal ini yang disampaikan oleh salah satu pengurus Masjid Raya Al Isra, Ustadz Ikhwanuddin ketika dihubungi Redaksikota dalam sambungan telepon. Ia mengatakan bahwa bahwa umat Islam harus bisa memahami dua perbedaan tersebut, yakni Politisasi Masjid dengan Politik Masjid.

“Kita harus meluruskan dulu bedanya Politisasi Masjid dengan Politik Masjid itu berbeda. Kalau Politisasi Masjid memang masjid digunakan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu, untuk kepentingan-kepentingan golongan politik tertentu. Tapi kalau Politik Masjid, itu digunakan tidak dalam rangka mempolitisasi atau tidak dalam rangka memperjuangkan politik tertentu. Itu yang perlu kita pahami dulu,” kata Ustadz Ikhwanuddin, Senin (16/4/2018).

Ia mengatakan bahwa memang dalam kehidupan bersosial, umat Islam tidak akan pernah dipisahkan dengan persoalan politik. Bukan hanya di masjid saja, bahkan dimanapun termasuk di Pasar dan dimanapun tempat yang memiliki akses sosial di dalamnya. Apalagi dalam sejarahnya, kejayaan Islam selama ini juga terjadi lantaran ada persoalan politik di dalamnya yakni Politik Islam yang melihat aspeknya adalah demi kepentingan kemaslahatan umat dan manusia pada umumnya.

“Misalkan kita berbicara politik di masjid, itu apakah itu masuk dalam politisasi masjid atau enggak. Itu sebetulnya kita umat Islam harus paham jika politik tidak bisa lepas dari kehidupan Islam, karena baik di masjid dan di pasar bahkan di manapun itu ruh Islam tetap ada. Apalagi di Masjid yang itu dimana menjadi tempat berkumpulnya semua elemen masyarakat, semua elemen ormas, semua elemen unsur-unsur tertentu,” terangnya.

Namun yang menjadi catatan besar baginya, bahwa seluruh umat Islam sebetulnya sepakat bahwa yang tidak diperkenankan adalah menggunakan masjid sebagai gelanggang politik praktis yang justru sangat berpotensi membuat gesekan dan keresahan bagi antar sesama umat Islam, apalagi yang memiliki pandangan politik berbeda sementara Masjid adalah tempat untuk menyatukan umat Islam.

“Yang kita hindari itu adalah masjid digunakan untuk kepentingan-kepentingan kelompok, kepentingan politik tertentu yang merugikan umat Islam, yang tdk ada aspirasinya bagi umat Islam, itu yang kita hindari,” tegasnya.

Satukan persepsi konten ceramah dan khutbah

Sebagai pengurus Masjid di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu, Ustadz Ikhwanuddin merasa memiliki tanggungjawab yang sangat besar bagi keberlangsungan tempat ibadah yang juga mengelola tempat belajar mengajar formal itu. Salah satunya adalah dengan menyatukan persepsi positif antara pihak pengelola masjid dengan pendakwah dan khotib (pengkhutbah) terkait dengan materi ceramah dan khutbah mereka.

Konten dakwah dan khutbah menurut Ustadz Ikhwanuddin tidak boleh menyerang individu atau kelompok tertentu untuk kepentingan politik praktis. Namun konten ceramah maupun khutbah adalah menyangkut persoalan kehidupan umat Islam, pun jika menyinggung urusan politik maka narasinya tidak menyudutkan apalagi sampai membuat jamaah membenci individu atau golongan tertentu

“Memang kita dari awal penceramah yang kita undang ke sini yang jelas kita arahkan untuk membawa aspirasi umat Islam, tanpa harus merendahkan atau menghina,” kata Ustadz Ikhwanuddin.

“Artinya penceramah-penceramah yang datang ke sini itu sebelumnya kita sudah komunikasi, itu memang membicarakan politik tapi pada dasarnya hanya untuk mencerdaskan ummat, bukan untuk dogma atau doktrin tertentu,” imbuhnya.

Ustadz Ikhwanuddin juga mengatakan bahwa selama ini para ulama besar Islam sudah banyak yang mengajarkan persoalan politik dalam Islam. Kearifan berpolitik secara Islam yang diajarkan pun sudah banyak ditulis dalam kitab-kitab yang bisa dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

“Kita hanya bicarakan politik secara umum. Kalau kita bicara politik Islam, kita punya pegangan, para ulama itu kan sudah menuliskan tentang politik Islam, tentang isu pemerintahan, pengelolaan negara dan sebagainya, tinggal kita bagaimana menggali saja,” tutur Ust Ikhwanuddin.

Pilkada damai

Untuk menghindari gesekan sosial yang berarti, Ustadz Ikhwanuddin menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk kembali mempelajari sejarah peradaban Islam. Bagaimana Islam berpolitik yang arif dan benar dan bagaimana umat Islam berpolitik di tengah-tengah kehidupan heterogen.

“Saya bersama jamaah dan umat Islam, itu serunya kembali untuk pelajari sejarah peradaban Islam. Berpolitik kan harus ada ilmunya, kemudian ilmu yang sudah ada di dalam Islam inilah yang sebetulnya para ulama dahulu sudah memberikan kaidah-kaidahnya, bagaimana sikap terhadap pemerintahan, bagaimana sikap terhadap tata kenegaraan, bahkan ulama-ulama nusantara juga sudah menuliskannya,” tutur Ustadz Ikhwanuddin.

“Bagaimana ulama-ulama dulu di panggung politik, sejarah bagaimana non-islam dulu di panggung politik itu kan sudah ada, tinggal bagaimana sekarang itu umat Islam cerdas di dalam menggunakan Fiqihnya, baik Fiqih secara hukum maupun Fiqih secara realitas,” tambahnya.

Ia juga menyerukan kepada seluruh politikus dan siapapun yang sedang menjadi peserta dalam gelanggang politik untuk tidak hanya mencari kekuasaan semata, melainkan lebih pada poin utama yakni murni untuk kepentingan dan kemaslahatan seluruh umat yang akan dipimpinnya atau diwakilinya nanti.

“Kami serukan kepada para politisi baik itu terutama politisi Islam, mari kita gunakan politik parpol, ormas dan sebagainya itu adalah sebuah kendaraan. Tapi pada intinya itu, kepentingan kita adalah kepentingan umat Islam, kepentingan bangsa dan kepentingan Islam. Bahkan bagaimana umat ini bisa bertahan di dalam sistem seperti ini, adalah bagaimana cara kita memandang harus benar dulu dalam berpolitik, harus benar dulu dalam memandang ilmu dan sebagainya,” kata Ustadz Ikhwanuddin.

Kearifan dalam berpolitik, kearifan dalam berilmu dan kearifan dalam seluruh sendi-sendi kehidupan justru akan membawa kepada kebaikan bukan hanya bagi satu golongan tertentu melainkan kepada seluruh kelompok. Ia pun menaruh banyak harapan kepada para politisi agar berjuang bukan hanya untuk satu golongan saja melainkan seluruh golongan yang bisa menghantarkan bangsa pada titik kejayaanya, termasuk umat Islam yang mampu mewarnai panggung-panggung internasional.

“Ini semua nanti yang akan memberikan pengaruh-pengaruh positif dalam tatanan kehidupan nasional, internasional. Dan lebih luas lagi adalah umat Islam bisa mewarnai percaturan dunia ini. Itu yang kita kita serukan kepada jamaah sendiri maupun di halaqoh-halaqoh yang kita kelola,” ujar Ustadz Ikhwanuddin.

Lebih lanjut, pengurus Masjid yang berbasis Muhammadiyah ini juga mengingatkan kepada seluruh umat terkhusus bagi umat Islam untuk tidak mudah terprovokasi dan bersikap politik secara kotor. Apalagi di tahun politik seperti saat ini pengaruh apapun untuk melegitimasi gerakan politik tertentu yang justru membuat antar umat terpecah-belah seperti saat ini sangat rentan terjadi.

Maka dari itu, bagi Ustadz Ikhwanuddin, umat Islam maupun seluruh elemen bangsa secara umum harus cerdas dalam menyikapi politik, sehingga dapat mengambil sikap yang tepat.

“Tahun politik atau tidak, kita tetap harus cerdas dalam menggunakan segala perangkat yang kita punya. Menjaga sikap, tidak mudah terprovokasi, dan tidak mudah diadudomba, dan itu semua kuncinya ada di keilmuan yang kita punya,” tutupnya. (hs/ibn)