t
Beranda News Daerah Kegigihan dan Ketulusan Aslikah untuk Naik Haji Rela Jualan Jamu Gendong ‘Plus-Plus’...

Kegigihan dan Ketulusan Aslikah untuk Naik Haji Rela Jualan Jamu Gendong ‘Plus-Plus’ Pasca Ditinggal Suami

WIB
248 views
| Estimasi Baca: 2 minutes
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

SURABAYA, Redaksikota.com – Pergi berhaji memang butuh biaya. Aslikah yang kini berusia 68 tahun menyadari itu. Apalagi sumber pemasukan ekonominya didapat dari menjual jamu gendong keliling dari kampung ke kampung. Namun, atas dasar niat dan kegigihan janda beranak tujuh ini pun berhasil menunaikan Rukun Islam kelima dan masuk dalam kloter 79, begini kisahnya.

Warga Paku Buwono 75 RT 004, Mojopahit, Jombang memang tak menyangka dirinya akan berangkat ke tanah suci. Janda yang telah ditinggal mati suaminya 31 tahun silam ini harus menghidupi tujuh anaknya yang masih kecil sendirian.

Untuk menyambung hidup diri serta anak anaknya selepas suaminya meninggal tahun 1987, Aslikah mulai mencoba berjualan jamu gendong keliling sambil jalan kaki. Tak hanya menjual jamu saja, layanan plus-plus pun dilakukan demi meraup pundi-pundi rupiah. Meski demikian ia tak mematok biaya plus-plusnya tersebut.

Layanan plus-plus ini bukanlah hal yang mengarah negatif. Aslikah mencoba memberikan bonus pijatan pada pembeli usai meminum jamunya. “alhamdulillah, banyak yang cocok dengan pijatan saya,” jelasnya pelan saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), Senin (13/8/2018)

Karena banyak yang cocok dengan pijatan Aslikah, tak sedikit penduduk sekitar Jombang yang menggunakan jasanya. Tiap hari, sejak terbit dan terbenamnya matahari ia terus melangkahkan kakinya demi menjajakan jamu plus-plusnya itu. Mulai pukul 05.30 sampai 21.30 dari rumah ke rumah ia datangi. “Kalau capek saya menggunakan sepeda saya agar terpenuhi targetnya,” jelasnya.

Ia membeberkan, dalam satu hari ia memiliki target memijat hingga puluhan orang. Hal ini dilakukannya demi menghidupi ketujuh anaknya yang masih kecil-kecil. “Saya butuh untuk biaya hidup anak yatim saya yang banyak itu,” beber Aslikah.

Namun, ia kesehariannya tak pernah merasakan capek ataupun putus asa. Karena kondisi itulah ia justru memanfaatkan fisiknya yang masih energik meski usianya telah menginjak senja. Hanya bermodalkan tenaga membopong jamu plus-plusnya tersebut.

Ditanya resepnya agar selalu kuat, Aslikah memberikan bocoran agar setiap hajatnya terpenuhi. Ia mengatakan bahwa surat Al Waqiah, Al Mulk, Ar Rohman, permulaan dan akhir Al Baqarah setiap hari tiga kali tak pernah putus dibacanya.

“Kalau gak baca surat tersebut sehari saja, rasanya badan jadi lemas dan gak kuat. Jadi mudah sedih, pokoknya ada yang kurang jadi gak enak,” terang Aslikah terkait surat yang ia anggap sebagai jimatnya ini.

Aslikah yang tak pernah mematok tarif untuk jasa pijatannya ini justru membuahkan hasil. Baginya, membantu antar sesama adalah tujuan hidupnya. Menurutnya, banyak orang yang memberinya uang belasan ribu hingga puluhan ribu sekali datang. “ya gak menentu, kadang ada yang ngasih lima puluh ribu. Banyak juga yang ngasih lima belas,” tuturnya.

Aslikah mulai mendaftar haji dari tahun 2010 menggunakan dana talangan. Waktu itu, tutur jamaah calon haji (JCH) yang tergabung dalam kloter 79 asal Jombang ini, ia memiliki uang Rp 6,5 juta.

Uang tersebut bukanlah untuk berhaji, Aslikah justru ingin memperbaiki rumahnya yang mulai berlubang tersebut. Namun si anak bungsunya menyarankan untuk menggunakan uang tersebut daftar haji. Akhirnya, uang tersebut ia gunakan daftar haji dengan dana talangan.“Alhamdulillah, dana talangan tersebut sudah lunas dalam waktu 2 tahun,” ujarnya.

Namun, lagi-lagi Aslikah kembali mendapatkan ujian yakni anak bungsunya meninggal dunia tahun 2014 lalu. Dan Aslikah sudah tidak berkeliling memijat. Ia sekarang hanya menerima mijat di rumahnya.

Menurutnya, selama ini ia telah meninggalkan anak anaknya di rumah sejak pagi hingga malam demi mencari nafkah. “Jamaah salat saya pun banyak yang bolong karena pas lagi keliling mijat,” terangnya.

Sepulang ia dari tanah suci nantinya, Aslikah memantabkan pilihannya untuk tetap memijat. Karena, bagi Aslikah dengan memijat itulah bagian dari amal kebaikannya.

“Saya kan juga ingin amal, ikut kumpulan yasinan, manakiban, tahlilan dan lain-lain, itu kan butuh uang,” pungkas Aslikah yang akan diterbangkan menuju tanah suci pada hari Selasa (14/8) pukul 02.30 WIB.