Beranda Khazanah Anggota Wantimpres: Intoleransi Jadi Masalah di Indonesia

Anggota Wantimpres: Intoleransi Jadi Masalah di Indonesia

WIB
103 views
| Estimasi Baca: 1 menit
toleransi
Ilustrasi

Redaksikota.com – Ketua kelompok kerja (Pokja) Toleransi Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), KH Agus Salim mengatakan bahwa salah satu problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah intoleransi.

Ketidakbisaanya menerima perbedaan pemikiran masih menjadi momok tersendiri bagi kalangan masyarakat saat ini. Apalagi narasi-narasi yang dibangun juga tak jarang dilontarkan oleh sebagian oknum pemuka gama.

“Kalau mereka ngerti yang katanya Ulama akan malu kalau mereka tidak bertoleransi. Itu yang saya sampaikan di Watimpres,” kata Agus Salim di Jakarta Selatan, Selasa (6/11/2018).

Menurutnya, perbedaan adalah bagian dari nikmat Tuhan yang diberikan kepada umat manusia. Dan salah satu upaya untuk menjaga agar perbedaan tidak membuat umat manusia terpecah-belah, maka perlu adanya toleransi. Namun demikian, dalam urusan syariat agama, masing-masing memiliki koridor sendiri-sendiri.

“Ketika kita tidak bertoleransi, artinya kita menentang perintah Allah. Soal perbedaan aqidahnya, ya lakum diinukum waliyadiin. Tapi dari segi kemanusiaan kita harus harmonis dan saling menyayangi,” tuturnya.

Kiyai Agus Salim juga memberikan contoh akhlaq seorang manusia beragama dengan manusia yang lainnya, bahwa mencintai seseorang sama halnya dengan mencintai Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta, dan begitupun sebaliknya.

“Karena kalau kita benci dengan seseorang maka kita benci dengan yang membuat dia. Tapi masalah aqidah ya kita masing-masing,” tegasnya.

Bahkan secara pribadi, Kiyai Agus Salim juga mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur dapat dilahirkan di Indonesia dengan begitu kompleksnya perbedaan di sana. Bahkan ia menilai Indonesia adalah bagian dari karunia dan nikmat Tuhan yang diberikan di dunia.

“Saya pribadi bersyukur lahir di Indonesia. Karena Indonesia adalah negara besar, karena banyak sekali suku dan budaya ada di sini. Ini adalah nikmat, makanya kita harus bertoleransi,” tutupnya.

(red/ibn)