Beranda Khazanah Milenial Jadi Korban Doktrin Radikalisme, Psikolog Ini Ingatkan Peran Aktif Orang Tua

Milenial Jadi Korban Doktrin Radikalisme, Psikolog Ini Ingatkan Peran Aktif Orang Tua

156 views
Arijani Lasmawati
Psikolog dan Peneliti Radikalisme, Arijani Lasmawati (foto : Redaksikota)
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Psikolog, Arijani Lasmawati mengingatkan kepada seluruh orang tua agar lebih aktif melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap anak-anak mereka agar tidak mudah terpapar paham intoleransi, radikalisme bahkan hingga menjadi pelaku aksi terorisme.

“Minimalisasi radikalisme itu adalah peran orang tuanya. Anak sejak usia 12 bulan harus banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tua,” kata Arijani dalam seminar nasional “Muslim Milenial: Menguatnya Radikalisme dan Tantangan Wawasan Kebangsaan” yang digelar oleh Rumah Demokrasi di Diradja Hotel, Tendean, Jakarta Selatan, Jumat (30/11/2018).

Kemudian Arijani menyampaikan bahwa anak-anak apalagi dalam masa pertumbuhannya sangat memerlukan sosok atau figur yang dapat dijadikan contoh dan panutan. Maka dari itu orang tua harus mampu menjadi tokoh panutan bagi anak-anak mereka sehingga para buah hati tidak mencari figur di luar yang berpotensi salah.

“Orang tua harus bisa menjadi figur contoh pada anak, karena anak-anak akan mencari siapa tokoh panutannya. Kalau tidak, maka anak akan mencari figur di luar sana,” tuturnya.

Selain itu, setiap akan tidak bisa dipaksakan untuk bisa menjadi apa yang diinginkan oleh orang tuanya, hal ini lantaran setiap anak memiliki potensi masing-masing yang dapat digali dan dikembangkan untuk menunjang masa depannya agar lebih baik lagi di kemudian hari. Maka dari itu, Arijani pun menyarankan agar seluruh orang tua mampu mengarahkan anak-anak mereka untuk memperdalam potensi positif yang dimiliki.

“Orang tua harus bisa mengarahkan potensi anak-anaknya. Jangan berpikir anak dokter harus menjadi dokter, anak polisi harus menjadi polisi. Ketika anak tidak mampu, mereka akan merasa tertolak di keluarganya. Dan ini berbahaya mudah terpapar (paham ekstrem),” pungkasnya.

Lebih lanjut, Arijani yang juga merupakan peneliti radikalisme tersebut mengingatkan kepada seluruh orang tua dan masyarakat luas bahwa paham radikalisme dan intoleransi sangat banyak menyerang pemikiran anak-anak muda. Alasan kuatnya lantaran situasi psikologis mereka memang rentan terpapar paham yang tidak sesuai.

“Menurut subyek yang saya temui pada dasarnya mereka (kaum milenial) rentan. Semua remaja ekstrem cara pemikirannya begitu. Secara hormonal mereka awarness dengan sesuatu di luar keluarganya. Pendek pikir dan fase itu mereka masih mencari jati diri. Dlm kondisi ini pengaruh besar adalah famili,” tutupnya.

(ibn)