oleh

Lawan Radikalisme dan Terorisme, 50.000 Aktivis 98 Bakal Rapat di Monas

JAKARTA, Redaksikota.com – Para tokoh aktivis 98 hari ini menggelar konferensi pers terkait dengan rencana mereka menggelar rembuk nasional 50.000 aktivis 98 di seluruh Indonesia.

Dalam kegiatan konferensi persnya itu, salah satu inisiator, Wahab Talaohu mengatakan bahwa rembuk nasion tersebut sangat perlu dilakukan lantaran kondisi nasional yang dinilainya mengalami kondisi genting.

“Kami punya tanggung jawab moral bahwa ada yang tidak benar selama ini terhadap negara. Yakni sebuah transfer ideologi yang dilakukan oleh segelintir kelompok yang coba import ideologi dari komunal yang dibawakan ke bangsa ini,” kata Wahab di Graha Pena 98, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (3/6/2018).

Paham ideologi transnasional tersebut dikatakan Wahab sangat mengancam peradaban yang selama ini berjalan di Indonesia, dimana paham tersebut kata Wahab hanya mengedepankan cara syariat mereka yang dianggap paling benar sementara syariat yang di luar darinya dianggap kafir dan sesat.

Bahkan yang lebih bahaya lagi disampaikan Wahab adalah kelompok tersebut akan mengupayakan Khilafah sebagai ideologi yang berlaku di Indonesia dengan menghapuskan Pancasila dan dasar negara lainnya seperti UUD45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Berawal dari monopoli kebenaran sekelompok orang atau golongan yang mengkalim mereka sebagai kelompok paling benar dan menganggap kelompok yang berbeda dengan mereka dengan sebutan sesat,” terangnya.

“Tidak ada yang namanya demokrasi dan ruang perbedaan pendapat, yang ada adalah pemaksaan kehendak, yang ada hanya keinginan yang sangat kuat yang kami lihat konstitusi negara ingin diganti dengan khilafah yang intinya adalah ingin gantikan konstitusi negara kita, menggantikan Pancasila, UUD45,” tambahnya.

Cara pandang dan pemahaman kelompok pengusung khilafah yang merupakan ideologi transnasional tersebut kata Wahab jelas membahayakan karena berpotensi melahirkan gerakan intoleran, radikalisme hingga berujung terorisme.

Maka demikian, Wahab pun mengatakan bahwa kondisi semacam itu perlu diantisipasi dengan sesegera mungkin. Dan inilah yang dikatakan aktivis dari Universitas Jakarta (UNIJA) itu menjadi alasan kuat mengapa para aktivis 98 tersebut harus melakukan rembuk nasional.

“Buat kami sebagai anak bangsa yang pernah 20 tahun lalu bersama-sama berbuat bagi bangsa ini karena kecintaan kami dan karena kami lahir di negara ini, dan kami punya semangat secara kolektif bahwa kami harus hadir, dan bahwa kami harus bersikap mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali menjadikan intoleransi, terorisme sebagai musuh rakyat,” tegasnya.

“Kami aktivis 98 dengan kesadaran ideologi dan moral, kami kembali berencana akan melakukan musyawarah dalam rembuk nasional untuk mengambil sikap dan ketegasan terhadap persoalan bangsa dan negara Indonesia,” tutup Wahab.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh para inisiator, bahwa rencananya, rembuk nasional tersebut akan digelar di Monas pada tanggal 7 Juli 2018 dan dihadiri oleh seluruh aktivis 98 di 28 provinsi. (ibn)

Komentar