Beranda Life Style Tekno Tim Jokowi-Maruf Nilai Kasus Idris dan Subaidi di Sampang Contoh Buruk Bersosial...

Tim Jokowi-Maruf Nilai Kasus Idris dan Subaidi di Sampang Contoh Buruk Bersosial Media

641 views
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

JAKARTA, Redaksikota.com – Direktur IT dan Sosial Media – Relawan Millenial Jokowi – Ma’ruf Amin (REMAJA), Ainor Rosid menilai bahwa seharusnya kecerdasan dan kebijakan dalam bermedia sosial menjadi hal mitlak yang dimiliki oleh seluruh pengguna sosial media.

“Ujaran kebencian, hoax, menyinggung SARA masih marak dilakukan oleh berbagai oknum atau individu yang tidak memahami bahwa berperilaku di media sosial, seharusnya tetap berpegang teguh terhadap etika kemanusiaan yaitu tidak menyinggung apalagi membuat marah pihak lain dan menyebabkan konflik,” kata Ainor dalam keterangan persnya yang diterima Redaksikota, Rabu (28/11/2018).

Padahal menurut Ainor ketika seseorang mampu bijak dan cerdas bersosial media sosial, platform tersebut sebetulnya mampu memberikan manfaat dan nilai lebih bagi para penggunanya, termasuk dalam upaya meningkatkan kualitas ekonomi, serta memudahkan berbagai aspek kehidupan masyarakat luas

“Banyak pihak tentu mengharapkan dampak positif dari media sosial itu sendiri, seperti membantu dalam meningkatkan pendapatan ekonomi karena mudahnya akses untuk melakukan promosi dan bertransaksi,” tuturnya.

Kemudian ia pun menyinggung kasus penembakan yang terjadi di Sampang yang melibatkan Idris dan Subaidi. Dimana dalam kasus tersebut pemicunya adalah status di laman sosial media Facebook.

“Kasus Idris dan Subaidi yang terjadi di Sampang Madura pada Rabu (21/11) memberikan bukti nyata perlu adanya etika dalam berperilaku di media sosial, apalagi menjelang Pilpres 2019 media sosial menjadi alat efektif untuk melancarkan black campaign melalui ujaran kebencian, fitnah, hoax dan sebagainya,” ujar Ainor.

Belajar dari kasus dua orang yang saat ini kasusnya sudah ditangani oleh aparat kepolisian itu, Ainor pun mengajak kepada masyarakat luas untuk selalu bijak dan cerdas dalam bersosial media. Salah satunya adalah dengan menahan diri untuk tidak menyebarkan konten negatif.

“Oleh karena itu, pengguna media sosial harus cerdas dalam menggunakan media sosial, bisa menahan diri untuk tetap bisa beretika sehingga mampu memfilter kalimat atau ujaran seperti apa yang akan membuat marah, menginggung dan memprovokasi pihak lain,” pungkasnya.

Dengan beretika dalam bersosial media, Ainor juga mengatakan bahwa stabilitas sosial akan berjalan dengan baik, khususnya menjelang perhelatan politik elektoral seperti Pileg dan Pilpres di Pemilu 2019 nanti.

“Melalui perilaku yang beretika di media sosial diharapkan; pertama, akan tetap tercipta stabilitas sosial menjelang Pilpres 2019 yang akan membawa terhadap proses demokratisasi yang maksimal tanpa black campaign,” kata Ainor.

“Kedua, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti konflik sosial dan pembunuhan. Kasus Sampang salah satu bukti dampak provokasi yang dilakukan melalui media sosial,” tutupnya.

Perlu diketahui bahwa seorang warga Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, Sampang, Madura bernama Subaidi tewas karena diduga ditembak oleh Idris alias Andika karena persoalan status Facebook.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan dari Bidang Humas Polda Jatim, Senin (26/11), menceritakan kronologi kejadian yang terjadi 21 November 2018 sekitar pukul 09.00 WIB itu.

Penembakan dilakukan di sebuah jalan yang terletak di Desa Sokobanah Laok, Sokobanah.

Polisi, kata Budi, juga telah menangkap pelaku penembakan, Idrus.

“Motifnya sakit hati karena Korban meng-upload video tersangka di Facebook dan dengan kata-kata kasar hingga mengancam akan membunuh Tersangka,” kata Budi.

Peristiwa penembakan berawal pada Minggu 28 Oktober 2018 sekitar pukul 16.00 WIB. Ketika itu seorang lelaki bernama Bahrud dan mengaku dari perwakilan Organisasi Masyarakat (Ormas) mendatangi rumah pelaku Idris.

(ibn)