Beranda Life Style Olahraga Alumni GMNI Pertanyakan Nalar Menpora Soal Wacana Perubahan Nama Gelora Bung Karno

Alumni GMNI Pertanyakan Nalar Menpora Soal Wacana Perubahan Nama Gelora Bung Karno

GBK
Gelora Bung Karno (GBK)

JAKARTA, Redaksikota.com – Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Suryokoco Suryoputro mengaku sangat geram dengan sikap pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang akan mengubah nama Geloba Bung Karno (GBK) menjadi Blibli Arena berdasarkan keinginan sponsor perawatan gelanggang olahraga milik Indonesia itu.

“Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi tak mempersoalkan pergantian nama Istana Olahraga (Istora) di kompleks Gelora Bung Karno. Istora Senayan akan berubah nama menjadi Blibli Arena, sesuai nama sponsor penyumbang dana untuk perawatannya,” kata Suryokoco dalam keterangan persnya kepada Redaksikota.com, Selasa (15/5/2018).

Upaya untuk menghilangkan nama besar Bapak Proklamator di Stadion bersejarah tersebut menurut Suryokoco merupakan tindakan yang tidak bisa diterima.

“Menghilangkan penghormatan kepada Proklamator Kemerdekaan Indonesia, atas alasan apapun saya tidak bisa menerima,” tegasnya.

Ia khawatir dengan perubahan nama GBK menjadi nama lain termasuk Blibli Arena hanya karena alasan ketidakbecusan pemerintah dalam melakukan perawatan gelanggang olahraga tersebut, maka potensi Monumen Nasional atau tempat-tempat bersejarah lainnya yang ada di Indonesia bisa berubah nama jika pemerintah merasa tak mampu mengeluarkan biaya perawatan.

“Kalau alasannya adalah ketidakmampuan membiayai operasional, akankah Monumen Nasional bisa menjadi nama Lazada Monumen?. Akankah ketidakmampuan membiayai museum-museum dan peninggalan sejarah juga akan diberi nama Tokopedia Museum?,” ujar Suryokoco.

Desoekarnoisasi?

Kemudian dijelaskan oleh Suryocoko bahwa stadion Utama Gelora Bung Karno adalah sebuah stadion serbaguna di Indonesia yang merupakan bagian dari kompleks olahraga Gelanggang Olahraga Bung Karno. Stadion ini umumnya digunakan sebagai arena pertandingan sepak bola tingkat internasional.

Karena upaya Soekarno untuk menghadirkan stadion utama milik Indonesia tersebut, maka stadion yang mulai dibangun sejak tahun 1969 tersebut akhirnya dinamai untuk menghormati Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini.

Dalam rangka de Soekarnoisasi pada masa Orde Baru sebut Suryokoco, nama stadion ini sempat diubah menjadi Stadion Utama Senayan melalui Keppres Nomor 4 tahun 1984. Namun setelah bergulirnya gelombang reformasi pada tahun 1998, nama Stadion ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2001.

Jika melihat dari sekelumit sejarah itu, justru Suryokoco mempertanyakan apakah Menpora sedang mencoba untuk melakukan de-soekarnoisasi.

“Apakah menpora sedang dalam agenda de Soekarnoisasi ?,” tanya Suryokoco.

Lebih lanjut, Suryokoco pun meminta dengan tegas kepada pemerintah pusat dalam hal ini Menpora untuk menghentikan upaya perubahan nama apapun tempat-tempat sejarah dan kebangsaan bangsa Indonesia.

“Saya pengagum Soekarno dan saya tidak bisa bisa memahami cara pikir Menteri. Saya meminta untuk ide gagasan penggantian nama Istora Gelora Bung Karno menjadi Blibli Arena segera dihentikan,” tutupnya. (ibn)