Ahok dan Kiyai Ma'ruf Amin
*istimewa
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Mantan hakim, Asep Iwan Iriawan menilai jika proses persidangan ke 8 yang menjadi penyebab polemik antara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan tim kuasa hukumnya dengan saksi ahli dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin adalah hal yang biasa.

Menurutnya, dalam persidangan ukurannya bukan soal etika atau pantas dan tidak pantas, melainkan norma bicara aturan beracara.

“Persidangan bukan bicara etika, (tapi) bicara norma bicara aturan beracara, itu perlu dipahami. Beracara itu tunduknya pada KUHP,” kata Asep dalam wawancara dengan MetroTV.

Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh pihak Ahok di persidangan tersebut, bagi Asep adalah hal yang wajar ketika seorang terdakwa sedang menggali sebuah pertanyaan.

“Saksi dihadirkan demi kepentingan persidangan yang dia lihat dan dia dengar. Ketika saksi ditanya oleh penasehat hukum atau JPU itu hak mereka, itu hal biasa,” tukasnya.

Ia juga mengatakan bahwa pertanyaan apapun dalam persidangan dianggap relevan dan tepat ketika pertanyaan tersebut tidak dihentikan oleh majelis hakim atau hakim ketua di persidangan tersebut.

“Sepanjang mereka tidak dihentikan oleh ketua majelis hakim, itu masih relevan,” terangnya.

Asep juga menekankan dalam persidangan, status seseorang adalah sama di mata hukum. Apapaun status sosialnya, status pekerjaan atau apapun.

Kiyai Ma’ruf Amin Tidak Dicecar di Persidangan
Lebih lanjut, Asep juga mengatakan jika dalam proses persidangan ke 8 kasus dugaan penistaan agama tersebut tidak unsur pencecaran atau penekanan terhadap saksi ahli yakni Kiyai Ma’ruf.

Hal ini disampaikan Asep lantaran sepanjang persidangan, majelis hakim juga menawarkan kepada saksi Kiyai Ma’ruf untuk beristirahat sholat dan makan (isoma -red), hingga mempertanyaan terkait dengan kesanggupannya meneruskan proses persidangan.

“Bahkan dalam perkara kemarin sepengetahuan saya, itu juga kan diberikan kesempatan untuk isoma. Bahkan katau tidak salah, ketua majelisnya menawarkan kepada saksi apakah Bapak masih bisa kesehatannya untuk diperiksa atau kita undur minggu depan,” terang Asep.

“Saksi pun menjawab, dan ini perlu di-clear kan kepada media, ini penjelasan. Dia (Kiyai Ma’ruf) ada acara minggu depan, maka pemeriksaan dilanjutkan. Jadi 7 jam tidak dari awal sampai akhir lho, bahkan diberi kesempatan isoma,” sambungnya.

Ia juga menekankan kembali bahwa siapapun orangnya, di mata hukum tetaplah sama. “Siapapun di mata hukum, sama,” tekannya.