Kiyai di Bali Sebut Cadar Bukan Syariat, Tapi Fashion

Kiyai di Bali Sebut Cadar Bukan Syariat, Tapi Fashion

BERBAGI
Peggy Melati Sukma, Khadijah
Peggy Melati Sukma saat tampak bercadar dan mengganti namanya menjadi Khadijah. [foto : Redaksikota]

BULELENG, Redaksikota – Persoalan penggunaan cadar di Indonesia memang tengah banyak diperbincangkan, bahkan di salah satu Universitas Negeri sempat menyatakan larangan penggunaan cadar di wilayah kampus.

Namun persoalan ini ditanggapi dengan santai oleh salah satu ulama di Pulau Dewata Bali. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, Kiyai Taufiq As’adi mengatakan bahwa cadar yang biasa dipakai oleh kaum muslimah bukanlah syariat, melainkan fashion item kaum hawa semata.

“Yang memakai cadar harus dipertanyakan, fahamnya seperti apa, padahal auratnya perempuan adalah selain wajah dan telapak tangan, maka pantas jika kalau ada yang memakai cadar perlu dipertanyakan karena sudah tidak sama dengan faham (fashion) Islam yang ada di Indonesia, (tapi) adanya di Arab Saudi,” kata Kiyai Taufiq dalam sebuau seminar nasional di Buleleng, Bali, Minggu (25/3/2018).

Bagi Kiyai Taufiq, penggunaan hijab sudah cukup untuk kebutuhan menutup aurat sebagaimana diperintahkan agama. Pun demikian, ia tidak melarang adanya penggunaan cadar bagi muslimah selama mereka paham dengan fashion item yang mereka kenakan itu.

“Setiap sesuatu ada tempatnya, jika Indonesia memakai hijab saja sudah cukup. Jika yang memakai cadar sudah komunikasi dengan menyampaikan alasannya, maka insya Allah akan dimaklumi,” tuturnya.

Justru Kiyai Taufiq memperhatikan potensi terkenanya najis di pakaian muslimah itu, ketika tangannya tertutup dengan kain dan dia tidak sengaja terkena kotoran atau najis, maka akan berpotensi mengganggu syarat sahnya sholat.

“Jika gamis tangannya tertutup, jika ada kotoran tersapu, maka akan banyak pertanyakan apakah itu ada Indonesia, karena itu adanya di Arab Saudi, jadi ada tempat masing masing, jadi kita harus bisa menempatkan sesuai dengan lingkungan kita,” tegasnya. (ibn)