Beranda Headline Benarkah Prabowo Bohongi Rakyat Soal Data Markup Proyek LRT?

Benarkah Prabowo Bohongi Rakyat Soal Data Markup Proyek LRT?

717 views
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa ada dugaan kuat markup anggaran proyek pembangunan Light Rapid Transit (LRT) yang kini tengah digarap oleh pemerintahan Joko Widodo.

Bahkan ia pun mengklaim mendapatkan informasi akurat terkait dengan data bahwa proyek pembangunan LRT di Indonesia terbilang jauh lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

“Kalau ini, Rp 12 triliun untuk 24 km, berarti 1 km 40 juta dolar. Bayangkan. Di dunia 1 km 8 juta dolar, di Indonesia, 1 km 40 juta dolar. Jadi saya bertanya kepada saudara-saudara, markup, penggelembungannya berapa? 500 persen. Ini bangsa ini pintar atau bodoh,” ujar Prabowo pada acara silaturahmi kader Gerindra di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (21/6/2018).

Bahkan Prabowo juga menilai proyek LRT tersebut sama sekali tidak ada manfaatnya bagi rakyat. Apalagi dengan biaya proyek pembangunannya yang terbilang terlalu fantastis.

“Tadi dalam perjalanan di airport, wah ada LRT, kereta api. Ingat, kita tahu, tidak jelas bermanfaatnya untuk siapa. Saya tanya harganya berapa proyeknya. Rp12,5 triliun. Luar biasa. Rp12,5 triliun untuk sepanjang 24 km,” tuturnya.

Lantas dari mana informasi yang didapat oleh Prabowo sehingga ia sampai menyebut proyek LRT di Indonesia tersebut terlalu mahal. Ternyata mantan Danjen Kopassus tersebut mendapatkan bisikan dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan.

“Saya diberi tahu oleh Gubernur DKI yang sekarang, Saudara Anies Baswedan, dia menyampaikan kepada saya: Pak Prabowo, indeks termahal LRT di dunia 1 km adalah 8 juta dolar,” terang Prabowo.

Tanggapan Anies

Kemudian saat dikonfirmasi oleh warrtawan, Anies pun tak menampik bahwa dirinya lah yang membisikkan informasi tersebut kepada Prabowo Subianto. Sementara Anies enggan membeberkan data yang diperolehnya sembari mempersilahkan wartawan mencari data akuratnya sendiri.

“Menurut saya begini, tugas jurnalistik adalah melakukan verifikasi, melakukan validasi. Jadi saya malah anjurkan pada media, statement Pak Prabowo itu dijadikan pemantik,” kata Anies.

Anies juga meminta agar wartawan melakukan perbandingan data proyek LRT di seluruh dunia. Jika sudah, maka akan ditemukan bahwa proyek sebenarnya tidak sampai USD40 juta /km.

“Anda tinggal buka data proyek LRT seluruh dunia dan Indonesia, dari situ malah dapat,” tuturnya.

Benarkah biaya proyek LRT Indonesia terlalu mahal?

Jika merujuk statemen Gubernur Anies tersebut, maka dapat ditemukan adanya rata-rata biaya proyek pembangunan LRT di beberapa negara. Data tersebut bisa dirujuk dari International Union of Railways (UIC) yang merupakan sebuah wadah industri transportasi kereta api secara profesional.

Secara umum, harga paling rendah muncul dari regional Amerika Selatan dengan nilai proyek $18,5 juta per km. Besaran harga tertingginya muncul dari regional Amerika Utara dengan nilai $99,7 juta per km. Sementara itu, untuk regional Asia, ditemukan informasi bahwa harga rata-rata proyek light rail per kilometernya adalah $69,7 juta.

Kemudian data dari Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) juga bisa menjadi bahan rujukan terkait dengan asumsi rata-rata pembiayaan proyek LRT.

Berdasarkan data yang didapat, ternyata proyek LRT termurah ada di China dengan asumsi rata-rata USD12,9 juta /km. Proyek tersebut saat ini ada di kota Shenyang dengan panjang rute 60 km.

Lalu bagaimana dengan proyek LRT di Asia Tenggara sendiri?

Beberapa ditemukan informasi bahwa biaya proyek pembangunan LRT di Indonesia terbilang jauh lebih murah dibandingkan dengan proyek LRT di beberapa negara di Asia Tenggara.

Sebut saja di Filipina, proyek LRT yang digarap di Kota Manila tersebut menelan biaya USD74,6 juta /km. Kemudian untuk proyek LRT di Malaysia tepatnya di kota Kelana Jaya juga memakan biaya USD65,52 juta /km. Sementara proyek LRT di Indonesia memakan biaya USD40 juta /km.