Beranda Ekobiz Ekonomi Peran Alim Ulama dalam Perkembangan Ekonomi Indonesia

Peran Alim Ulama dalam Perkembangan Ekonomi Indonesia

61 views
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

JAKARTA – Ratusan alim ulama, para ustadz, ustadzah, mubaligh dan mubalighah dari daerah Jakarta dan sekitarnya, mahasiswa/i Pendidikan Dasar Ulama (PDU) dan para santri serta santriwati utusan pondok pesantren antusias menghadiri acara Halaqah Ulama Jakarta di Aula Serbaguna Masjid Jam’ Shodri Asshiddiq Cukung Jakarta Timur, Minggu (26/5/2019).

Acara tersebut dihadiri oleh MUI Jakarta Timur bersama Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCM) dan Muballigh Indonesia Bertauhid (MIB)

Dalam kesempatan tersebut, Sekjen DPP Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) KH Abdul Fatah menilai pentingnya peran alim ulama dalam perkembangan perekonomian di Indonesia di era zaman now.

“Alim ulama memiliki kekuatan ekonomi, kemampuan finansial, dengan mengikuti perkembangan bisnis terkini yang berbasis online,” tegas Kyai Abdul Fatah.

Ditempat yang sama, penulis buku Islam Nusantara Prof. Dr. KH Ahmad Baso menyampaikan materi tentang Tantangan Ulama Nusantara di Era Global. Dia menyebutkan bahwa kata Betawi telah dituliskan dalam bahasa Arab sebagai Darul Islam oleh seorang ulama dari kalangan habaib sejak awal abad ke-19. Dengan demikian Betawi merupakan salah satu wilayah penting bagi penyebaran dan perkembangan Islam di Nusantara.

Para ulama Nusantara terdahulu, mereka telah mampu menunjukkan kemampuan dan kapasitasnya dengan menjadi guru, pengajar di Kota Makkah.

“Ironisnya saat ini, justru kita di Indonesia kebanjiran paham dan ulama dari luar negeri. Seharusnya, kita seperti ulama terdahulu yang menyinari dunia dengan pemikiran dan karya-karyanya,” terang Kyai Ahmad Baso.

Karenanya, lanjut dia, bukan hanya foto ulama saja yang harus ada di rumah, melainkan karya-karya ulama Nusantara, terutama karya ulama Betawi.

“Namun yang terpenting, ulama Indonesia, khususnya di Jakarta, harus dapat menulis, memiliki karya tulis yang dapat dibaca oleh bangsa lain dalam bahasa Inggris dan Arab,” jelas Kyai Ahmad Baso lagi.

Sementara itu, Rektor Institute Agama Islam Al Falah Assuniyah Jember KH Rizal Mumazziq lebih menyoroti jejak genealogi ulama Nusantara. Kata dia, ulama di Betawi memiliki hubungan yang kuat dengan ulama Jawa sejak lama dalam ikatan persahabatan sejak sama-sama belajar di Makkah. Ia pun mencontohkan sosok KH. Abdul Wahid Hasyim, anak Hadratussyaikh KH Hasyim Asy`ari dan Menteri Agama RI, ketika dalam pelarian karena dicari oleh tentara Belanda dan sekutunya. Dia bersembunyi di rumah-rumah ulama Betawi, yaitu di rumah KH Baqir bin Marzuqi bin Mirshod, KH Abdurrazak Ma`mun, Guru Na`im Cipete, dan KH Hasbiyallah, Klender. Setelah itu, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, anak dari KH Abdul Wahid Hasyim, saat pertama kali mukim di Jakarta pada tahun 1975, tetap menyambungkan tali silaturrahim persahabatan ayahnya dengan para ulama Betawi tersebut walau ayahnya telah wafat, yaitu kepada dua ulama Betawi yang masih hidup: KH Abdurrazak Ma`mun dan KH. Hasbiyallah, Klender.

”Begitu besar kiprah dan jasa para ulama Betawi, seharusnya umat Islam, khususnya di Betawi, memajang foto-foto mereka di rumahnya masing-masing sehingga mereka tetap dikenang,” pungkasnya.