Beranda Ekobiz Ekonomi Jubir Sebut Prabowo-Sandi Menang, Tak Jamin Ekonomi Membaik

Jubir Sebut Prabowo-Sandi Menang, Tak Jamin Ekonomi Membaik

WIB
215 views
| Estimasi Baca: 2 minutes
istimewa

JAKARTA, Redaksikota.com – Jubir Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi Handi Risza Idris mengatakan bahwa memang banyak faktor yang mempengaruhi mengapa nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika masih mengalami depresiasi.

Bahkan ia juga tak bisa menjamin ekonomi dalam negeri bisa cepat membaik sekalipun Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno menjadi Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres 2019 mendatang.

“Apakah Prabowo nanti kuasa terjadi krisis, saya tidak bisa menjamin dan mendahului takdir karena saya bukan peramal. Tapi minimal kita bisa mempelajari apa yang terjadi di era pak Jokowi. Mudah-mudahan dengan ini kita mendapat solusi apa yang tidak dijalankan oleh pemerintahan saat ini,” kata Handi dalam diskusi publik bertemakan “Dolar Menguat, Benarkan Indonesia Menuju Krisis?” yang digelar oleh Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) di Rumah Makan Mbok Berek, Jl Soepomo 6A, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/2018).

Hanya saja ia mengatakan bahwa sejauh ini keberadaan Prabowo-Sandi masih menjadi alternatif masyarakat untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara saat ini.

“Kita hanya berkeyakinan harapannya akan lebih baik agar kita terhindar dari problem krisis,” tuturnya.

Kemudian, Handi juga mencoba menjelaskan kepada publik bahwa persoalan ekonomi di dalam negeri memiliki dua faktor yang menjadi penyebab apakah ekonomi membaik atau justru mengalami keterpurukan.

Dua faktor tersebut dikatakannya adalah faktor eskternal maupun internal yang tidak bisa dinafikkan begitu saja.

“Ada dua faktor eksternal dan internal,” tuturnya.

“Faktor eksternal biasa pengaruh kebijakan-kebijakan negara-negara besar atau pengaruh kebijakan negara yang paling banyak pengaruhnya ke kita,” imbuhnya.

Pun demikian, faktor eksternal yang dipengaruhi karena kebijakan negara terkait juga pasti telah diberikan warning jauh sebelum kebijakan tersebut dijalankan secara penuh.

“Faktor eksternal itu tidak terjadi tiba-tiba, pra kondisinya pasti ada. Contoh bank centralnya Amerika pasti sudah umumkan jauh-jauh hari saat mau naikkan suku bunganya,” terang Handi.

Walau begitu, Handi juga menyatakan bahwa apapun kondisi luar negeri yang mempengaruhi naik turunnya ekonomi di Indonesia juga tidak bisa diintervensi.

“Faktor eksternal tidak bisa kita kontrol. Ya masak kita minta, Hey Trump, jangan naikkan suku bunganya dulu dong, kan enggak begitu,” kelakarnya.

Terakhir, Handi juga mengatakan penyebab baik atau buruknya ekonomi di Indonesia adalah faktor internal yakni konteks yang dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri.

“Faktor internal tentu ada bauran kebijakan baik bank sentral maupun pemerintah. Ada hal-hal yang seharusnya bisa dikondisikan dan diperbaiki tapi belum dapat dimaksimalkan,” paparnya lagi.

Salah satu contoh yang disebutkan Handi adalah potensi naiknya jumlah ekspor barang dari Indonesia di tengah-tengah melonjaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika.

“Contoh, saat nilai tukar rupiah naik, harusnya ekspor kita melonjak karena kita produksi pakai rupiah dan kita jual pakai dolar. Tapu faktanya jumlah impor lebih tinggi dibandingkan ekspor, dan ini terjadi defisit dan pengaruhi current account,” jelasnya.

“Banyak faktor internal lainnya juga, bisa kebijakan intensif yang tidak bisa diterapkan pengusaha, produksi kita belum baik dan bersaing, buruh kita masih dianggap sangat mahal sehingga lapangan kerja tidak bisa bersaing,” lanjut Handi.

Maka dari itu, ia pun mengharapkan semua pihak dapat bekerjasama untuk membuat kurs rupiah normal kembali. Termasuk mengantisipasi berbagai hal yang menjadi penyebab rupiah anjlok.

“Berbagai faktor harus kita antisipasi, sehingga ketika terjadi depresiasi mata uag rupiah dapat kita urai satu persatu,” tutupnya.

(**)