Beranda Ekobiz Ekonomi Sandi Sebut Walau Dolar Naik, Krisis Ekonomi Indonesia Masih Jauh

Sandi Sebut Walau Dolar Naik, Krisis Ekonomi Indonesia Masih Jauh

WIB
361 views
| Estimasi Baca: 2 minutes

Redaksikota.com – Masih tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat, ternyata belum cukup menjadi alasan kuat untuk menjastifikasi krisis ekonomi Indonesia terjadi. Hanya saja kondisi tersebut tetap menjadi peringatan agar negara mewaspadai potensi krisis tersebut.

“Depresiasi rupiah bukan menjadi satu-satunya negara akan mengalami krisis. Tapi hanya early warning system saja. Bahwa ternyata ada salah satu indikator krisis yakni mata uang jatuh walau ada indikator-indikator lainnya,” kata Dosen STIE GICI Consulting, Sandi Noorzaman dalam diskusi bertemakan “Dolar Menguat, Benarkan Indonesia Menuju Krisis?” yang digelar oleh Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) di Rumah Makan Mbok Berek, Jl Soepomo 6A, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (20/10/2018).

Selain itu, Sandi pun menyampaikan bahwa meskipun dolar saat ini terbilang menguat, hal ini tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

“Ada faktor internal dan eksternal, khususnya di eksternal ada perang dagang kemudian konflik dan kebijakan Trump,” terangnya.

Pun demikian, ia juga mengimbau agar rakyat Indonesia tedak terlalu mencemaskan itu.

“Perlu kita tidak terlalu cemas karena itu tidak hanya terjadi di kita, Indonesia masih bagus dibanding negara-negara lain seperti Turki, Afrika Selatan, Meksiko, Kolombia dan sebagainya,” paparnya.

Di sisi internal, salah satu yang menjadi penyebab mengapa dolar masih cukup menguat terhadap nilai tukar rupiah sampai saat ini yang masih menyentuh angka Rp15.171 (kurs hari ini -red). Adalah karena proyek infrastruktur yang dijalankan pemerintah pun masih qda yang menggunakan bahan baku impor.

“Kita sekarang sedang genjot infrastruktur yang juga menyedot dolar, karena infrastruktur yang kita bangun ada komponen impor seperti baja dan sebagainya sehingga memakai dolar juga,” tambahnya.

Kenaikan nilai tukar rupiah seperti saat ini dikatakan Sandi bukan tidak bisa diatasi. Hanya saja perlu upaya bersama seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga agar rupiah stabil kembali.

“Menekankan komponen-komponen lokal. Seperti bahan baku meterial agar tidak impor. Makanya banyak startup yang muncul, tapi kan sayangnya ujung-ujungnya startup itu juga ada yang membutuh komponen dari luar sehingga berpengaruh juga pada dolar,” tutupnya.

(ibn)