Beranda Ekobiz Ekonomi Utang Tak Masalah, Asal Untuk Kepentingan Rakyat

Utang Tak Masalah, Asal Untuk Kepentingan Rakyat

WIB
165 views
| Estimasi Baca: 2 minutes

Redaksikota.com – Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai bahwa utang dalam sebuah pemerintahan adalah hal yang sangat wajar. Bahkan ia mengkategorikan jika ada pihak yang mengatakan ketika ia terpilih tidak akan utang, maka dipastikan itu hanyalah bualan kampanye semata.

“Tidak mungkin dalam siklus politik tidak ada utang, itu gak mungkin. Kalau ada yang bilang gak ada utang, dipastikan itu hanya narasi kampanye saja,” kata Yustinus dalam dialog Rembug Nasional Cipayung Plus di Gedung DHN, kawasan Gedung Joeang 1945, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/10/2018).

Ia menilai bahwa dalam hidup di era seperti saat ini, utang adalah hal yang wajar. Hanya saja, ia menyebutkan utang tersebut baik atau tidak adalah bagaimana utang tersebut dimanfaatkan.

“Kita terjebak berfikir bahwa utang itu gak baik. Padahal yang beli motor atau beli rumah pasti utang atau kredit. Maka perdebatannya bukan soal utang atau tidak utang, tapi bagaimana utang itu digunakan,” tuturnya.

Sementara terkait dengan hebohnya narasi utang luar negeri yang diambil oleh pemerintahan Indonesia saat ini dianggap telah menyusahkan rakyat, harga-harga kebutuhan pokok langsung melonjak drastis, apalagi sampai ada narasi gara-gara utang luar negeri ditambah naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat membuat tempe setipis kartu ATM.

Menyikapi narasi semacam itu, Yustinus pun menegaskan bahwa Pilpres 2019 banyak sekali narasi persepsi yang dibangun. Padahal menurutnya, realitasnya tidak separah yang disampaikan itu.

“Arah pembangunan 4 tahun terakhir, hampir semua indokator ekonomi gak ada masalah. Kita hanya hidup di dunia persepsi. Dolar sudah 15 ribu sekian, tp inflasi kita gak naik, September kita malah deflasi,” ujarnya.

Kemudian ia juga mengaku sudah membandingkan kondisi ekonomi di beberapa negara tetangga. Ternyata temuannya, ekonomi Indonesia juga tidak separah yang dinarasikan.

“Saya bandingkan meskipun rupiah melemah signifikan, tapi kalau saya bandingkan 5 negara seperti Vietnam, Thailand dan sebagainya, rupiah tidak melemah. Itu mejelaskan karena negara-negara itu juga terkena dampak naiknya dolar AS. Itu dari sisi mata uang,” paparnya.

Pun demikian, ia tetap memberikan catatan terkait masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Bahkan pemerintah Indonesia harus segera mencari jalan keluar secara cepat agar tidak ada bom waktu yang meledak di bulan Januari nanti.

“Ini ibaratnya dolar Amerika sedang pada pulang kampung, apalagi suku buka The Fed 2,25%. Tapi ini bukan berarti gak ada masalah, kalau kurs tidak bisa dimanage, maka Januari harga-harga kebutuhan pokok bisa berdampak parah,” tutupnya.

(ibn)