Beranda Ekobiz Ekonomi Dani Setiawan: Harga BBM Boleh Naik Asal Perhitungannya Jelas

Dani Setiawan: Harga BBM Boleh Naik Asal Perhitungannya Jelas

WIB
318 views
| Estimasi Baca: 2 minutes

Redaksikota.com – Dosen Fakutal Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah, Dani Setiawan menegaskan bahwa dalam pengambilan kebijakan publik termasuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan mempertimbangkan faktor politik dan ekonomi sangat sah-sah saja.

“Dalam setiap pengambilan kebijakan pasti ada faktor politik dan ekonomi karena berkaitan langsung dengan isu-isu tersebut. Jadi bagi saya dua hal itu normal saja. Apalagi dalam public policy,” kata Dani dalam diskusi publik bertemakan “Dilema Kenaikan Harga BBM: Antara Harga Pasar dan Daya Beli Rakyat” yang digelar oleh Lingkar Studi Politik Indonesia (LSPI) di D’Hotel, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018).

Hanya saja ada yang perlu diperhatikan juga oleh pemerintah sehingga kebijakan yang diambil tersebut tidak menimbulkan kegaduhan yang lebih besar. Salah satunya adalah dengan mempertimbangkan kenaikam harga BBM jenis solar dan premium.

“Konsumsi BBM masyarakat Indonesia masih sangat tinggi baik premium maupun solar yang hari ini masih disubsidi pemerintah. Kenaikan harga di dua komoditas ini akan berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Selain itu, perhitungan yang matang terkait dengan untung rugi ketika ingin menaikkan harga bahan bakar minyak juga menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh pemerintah.

“Berapa yang dibutuhkan kalau misal harga BBM premium dan solar tidak dinaikkan. Harus ada hitung-hitungan teknokrat yang bener. Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan harus melakukan itung-itungan begitu sehingga kebijakan yang dikeluarkan tidak bermasalah dan lebih teknokratis,” tuturnya.

Kemudian Dani juga menyampaikan bahwa menaikkan harga BBM dengan nominal tertentu tidak bisa hanya dilakukan dengan melihat faktor kenaikan harga minyak mentah dunia. Faktor lain juga harus menjadi rujukan lanjutan yakni besaran keuntungan yang dihasilkan dari sektor hilir.

“Kita tahu kuncinya kalau kenaikan harga minyak internasional yang untung sebetulnya di sektor hilir, ada windfall profit. Ini perlu dihitung juga. Perlu dibuka juga windfall profit nya berapa,” paparnya.

Terakhir, Dani pun mengajak kepada masyarakat luas agar dapat bersama-sama mengurangi tingkat konsumsi energi kotor dan beralih dengan energi terbarukan.

“Poin kita harus mulai pikirkan kurangi signifikan energi kotor atau energi tidak terbarukan, sudah jadi isu publik yang sangat kuat di tengah-tengah kita. Ini harus selalu didorong apalagi banyak negara sudah tidak begitu menggunakan energi kotor seperti minyak bumi dan batubata,” tutupnya.

(ibn)