Beranda Ekobiz Ekonomi Neraca Perdagangan dan APBN Defisit, Salamuddin Daeng Pertanyakan Leadership Jokowi

Neraca Perdagangan dan APBN Defisit, Salamuddin Daeng Pertanyakan Leadership Jokowi

WIB
89 views
| Estimasi Baca: 1 menit

Redaksikota.com – Pengamat ekonomi, Salamuddin Daeng menilai kondisi ekonomi di Indonesia sudah sangat parah, dimana defisit masif terjadi dimana-mana baik dari perdagangan hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Makro ekonomi kita double defisit, neraca perdagangan dan jasa semuanya defisit. Kalau perdagangan defisit yang lain-lain akan defisit sepanjang masa. Kalau kemampuan kita memproduksi barang hidup sulit maka neraca eksternal kita akan parah sekali,” kata Salamuddin Daeng dalam sebuah diskusi di Hotel Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).

Maka dari itu, ia pun mempertanyakan sikap leadership Presiden Joko Widodo mengapa persoalan tersebut tidak kunjung terentaskan.

“Kembali kepada apa yang dipikirkan Presiden kita, jika memiliki leadership yang kuat dia pasti akan tahu harus kemana,” ujarnya.

Selain itu, di tengah-tengah kondisi serba defisit tersebut dikatakan Daeng adalah impor yang terus dilakukan oleh pemerintah pusat. Baginya, polemik impor tersebut tidak akan bisa dientaskan jika lembaga atau Kementerian terkait justru orientasi kerjanya by project semata.

“Kajian yang banyak saya ikuti masalah skandal impor ini terutama produk pertanian akan sulit sekali mendapatkan jalan keluarnya karena memang sudah sangat krodit. Lembaga pemerintah selama bekerja orintasinya bukan started tapi projek,” tuturnya.

Lebih lanjut, Salamuddin Daeng mengingatkan bahwa Presiden harus bersikap dengan tegas dalam membela kepentingan rakyat, dimana dampak impor khususnya di sektor pangan akan berdampak langsung terhadap komoditas para petani dalam negeri.

Jika tidak segera dilakukan kebijakan yang konkret dan berpihak pada rakyat, maka dampak yang buruk akan dialami oleh pata petani Indonesia yakni hancurnya sumber kehidupan mereka secara luas.

“Kebijakan impor punya dampak langsung di dalam negeri. Terkait dengan import akan disintensif bagi petani. Itu akan langsung menghancurkan sumber kehidupan kita sendiri,” pungkasnya.

“Seharusnya penjualan komuditas kita dihidupkan. Lama kelamaan di bawah ini sisanya utang semua karena tidak ada daya beli,” tutup Daeng.

(bar)