Oleh: Agus Somamihardja
Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan soal kerusuhan di Cidahu, Sukabumi. Sebuah vila, sekelompok orang, dan kemudian: amarah.
Beberapa orang luka, kendaraan terbakar. Menyedihkan dan sekaligus menyakitkan, karena kerukunan dan kepercayaan sosial turut hangus terbakar juga.
Semula, kabarnya hanya soal izin. Lalu bergulir menjadi tuduhan soal aliran sesat, agama, penyebaran, dan sebagainya. Tapi dari semua riuh itu, saya curiga ini mungkin bukan soal vila semata. Ini tentang sesuatu yang lebih dalam: retaknya hubungan sosial, dan jauhnya kita dari rasa percaya.
Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di dalam vila itu. Tapi saya tahu satu hal: sebuah konflik sosial jarang lahir hanya karena satu peristiwa. Biasanya, ada luka yang lama terpendam. Ada interaksi yang tak pernah dibangun.
Bisa jadi, pengelola vila tidak cukup peduli dengan penduduk setempat. Datang sebagai tamu, tapi bersikap seperti tuan. Tidak menyapa, tidak membaur, tidak mengajak ngobrol orang warung. Lalu muncullah jarak, kemudian curiga.
Dan di sela curiga itu, selalu ada pihak yang sigap menabur api.
Siapa mereka? Bisa siapa saja. Bisa kelompok politik, bisa elite lokal, bisa juga sekadar orang-orang yang merasa terancam oleh kebaruan. Provokator, dalam sejarah kita, sering kali justru bukan pihak yang terlihat.
Mereka bekerja dalam senyap. Menyebar hoaks, membisikkan fitnah, menunggangi keresahan sosial. Kegiatan yang katanya keagamaan, atau edukatif, lalu diplintir menjadi “pembinaan agama sesat”, atau “upaya pemurtadan”, dan seterusnya.
Kita sudah terlalu sering mendengar cerita serupa. Di Lampung, di NTB, di Jawa Timur, bahkan di kota-kota besar. Polanya mirip: tempat tinggal warga minoritas dibakar, rumah ibadah disegel, kegiatan sosial dibubarkan. Masyarakat yang semula tenang tiba-tiba berubah beringas.
Neurosains menunjukkan bahwa reaksi semacam itu tidak datang dari ruang kosong.
Antonio Damasio menyebut bahwa emosi adalah fondasi dari keputusan kita, bukan musuhnya. Saat kita takut, marah, atau merasa terancam, otak kita cenderung bereaksi secara impulsif.
Amigdala, bagian otak yang mengatur emosi, mengambil alih, dan nalar jadi tumpul. Fenomena ini oleh Daniel Goleman disebut sebagai “amygdala hijack”. Dalam kondisi ini, satu hoaks bisa memicu ledakan sosial. Psikologi sosial menyebutnya sebagai ingroup-outgroup bias.
Manusia lebih mudah percaya pada kelompoknya, dan mencurigai kelompok lain. Jika tidak ada ruang perjumpaan dan pengenalan antar komunitas, maka prasangka akan tumbuh liar. Kita mudah diadu, bukan karena kita bodoh, tapi karena kita asing satu sama lain.
Bukan masyarakat yang salah sepenuhnya. Mereka bisa saja digerakkan oleh rasa takut. Dan rasa takut, seperti kita tahu, bisa direkayasa. Tinggal sebar satu video, satu potong kalimat, satu gambar yang dimanipulasi. Kita hidup di zaman di mana “narasi” lebih kuat dari kenyataan.
Intoleransi tumbuh bukan karena kita berbeda. Tapi karena tak ada ruang saling mengenal.
Di kampung dulu, beda agama itu biasa. Waktu lebaran, semua bantu masak. Waktu natal, semua bantu menghias. Tidak ada yang takut kehilangan iman karena ikut memasang lampu. Tapi sekarang, kita diajari curiga. Diminta menjaga kemurnian iman dengan menjauh dari sesama.
Cidahu mungkin hanya satu titik. Tapi ia menandakan ada yang rapuh dalam tubuh bangsa ini. Kita terlalu sibuk mengurus simbol, tapi lupa menjaga relasi. Kita terlalu cepat bereaksi atas hal-hal yang belum tentu benar, dan terlalu lambat membangun pemahaman.
Kalau kita terus begini, bangsa ini akan dipecah bukan oleh musuh asing, tapi oleh ketakutan yang kita pelihara sendiri.






