Angkutan Batu Bara di Batu Sopang Paser Kaltim Ricuh, Para Sopir Minta Pemerintah Segera Atasi

IMG 20240101 WA0021

Kaltim – Aksi pencegatan truk angkutan batu bara oleh masyarakat di Desa Batu Kajang, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur masih terus berlangsung.

Masyarakat meminta ada respon dari pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap truk angkutan batu bara yang kerap melintasi jalan umum.

Bacaan Lainnya

Sementara di sisi lainnya, gabungan sopir truk angkutan batu bara yang terdampak dari aksi pengadangan tersebut meminta agar pemerintah bisa memberi solusi terhadap persoalan tersebut.

Salah satu Sopir PS Roda 6 Lintas Kaltim-Kalsel, Bambang mengaku para sopir truk angkutan batu bara sangat terdampak dengan adanya aksi pencegatan yang dilakukan.

“Kami dilarang melakukan hauling, sementara kami semua (sopir truk) di wilayah Batu Sopang ini bukan truk perusahaan yang digunakan, melainkan milik pribadi yang sehari-hari kami gantungkan hidup mencukupi kebutuhan keluarga,” terang Bambang kepada TribunKaltim.co, Minggu (31/12/2023).

Pihaknya menginginkan agar pemerintah dapat memberi solusi, sehingga para sopir truk angkutan batu bara dapat beroperasi kembali.

“Truk-truk kecil yang ada di wilayah Paser ini sekitar dua ratusan unit, kalau dikolaborasikan dengan yang di Kalsel ada sekitar hampir 700 unit truk yang pemuatannya di Seradang Kalsel,” tambahnya.

Para sopir truk angkutan batu bara lokal di wilayah Kecamatan Muara Komam, Batu Sopang dan Kuaro hanya mengandalkan ikut dalam kegiatan hauling dari PT. Mantimin.

Bambang menginginkan agar pemerintah maupun pihak lainnya dapat mengambil peran agar bisa memberikan solusi yang terbaik.

“Jangan hanya menyalahkan kami, sementara kegiatan hauling ini sudah berlangsung sejak lama dan kami cuma mencari makan untuk menghidupi keluarga kami,” ungkapnya.

Jika permasalahan tersebut tidak mendapat titik temu, sambung Bambang dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Keinginan kami sederhana, truk-truk kecil di kampung ini bisa beroperasi dengan normal kembali. Seperti beberapa tahun lalu yang tidak pernah ada persoalan, karena baru kali ini yang dari Mantimin tidak boleh lewat,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu sopir truk yang tergabung dalam Ikatan Driver Urang Banua (IDUB), Anto mengaku ada sekitar 200 orang yang menggantungkan hidup di angkutan batu bara PT. Mantimin.

“Kami punya kontrak di situ, kalau kontrak tidak terpenuhi tahun ini maka kami tidak akan dibayar, istri-istri kami di rumah juga sudah mulai resah bahkan beras juga sudah menipis. Kalau kami tidak diperjuangkan, bagaimana nasib kami kedepannya,” keluh Anto.

Selama aksi pencegatan yang dilakukan oleh masyarakat, diakui sama sekali tidak ada pemasukan yang diperoleh.

“Sama sekali tidak ada, seandainya kami bisa berkebun kami nyangkul tanam singkong, tapi kami tidak bisa. Syukur -syukur kalau punya mobil, kalau kami hanya menyupirkan mobil orang juga kami mau makan apa, ini terus terang dari hati kami ini,” luapnya.

Diakui Anto, para sopir meminta bantuan dari pemerintah maupun pihak lainnya agar dapat memberikan solusi yang terbaik.

Para sopir berharap agar bisa tetap bekerja untuk mengangkut batu bara, seperti sedia kala karena aktivitas tersebut yang dijadikan sebagai sumber penghasilan.

“Kalau alasan dari ibu-ibu jalan rusak, maka itu bisa dibicarakan ke perusahaan. Kemudian banyak juga truk-truk lain yang lewat seperti truk semen dan sawit, itukan juga bisa merusak jalan masa yang disalahkan cuma kami saja,” singgungnya.

Jika pencegatan masih terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan para sopir truk angkutan batu bara beserta istrinya akan melakukan aksi.

“Istri-istri kami kami juga sudah sepakat mau turun ke lapangan kalau tidak ada titik temu, semua kendaraan kami akan dijejer di jalan, dan rencananya tiga hari mendatang akan kami lakukan aksi itu,” tutup Anto.

Pos terkait