Kyai Miqdad Ali Ajak Masyarakat Bijaksana & Cerdas Sambut Pemilu 2024

IMG 20231213 WA0025

JAKARTA – Pimpinan Pondok Pesantren Nida Al-Har Kota Bekasi, Kyai Miqdad Ali Azka Lc memberikan gambaran seputar hajat demokrasi lima tahunan, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu) yang terdiri dari pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Serentak 2024.

“Pemilu dalam demokrasi merupakan bentuk kedaulatan masyarakat yang memilih dan mengangkat pimpinan negara dan wakil rakyat yang terpilih,” ujar Kyai Miqdad, hari ini.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, Kyai Miqdad menyampaikan situasi politik menjelang Pemilu 2024 yang terus memanas, utamanya terkait pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang saat ini ada dalam tiga poros koalisi yang mengikuti kontestasi pilpres. Ketiganya adalah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

Selain Pilpres yang menentukan kepemimpinan nasional lima tahun mendatang, ia menilai Pilkada Serentak Tahun 2024 sebenarnya tidak kalah penting. Sayangnya, di tingkat nasional isu tersebut kurang mendapatkan perhatian. publik, terutama di media sosial. Kyai Miqdad menilai masyarakat lebih asik melihat dan memantau dinamika politik capres dan cawapres.

“Pemilu merupakan elemen yang sangat penting dalam demokrasi dan dalam proses penyelenggaraannya sebagai sarana demokrasi harus tunduk pada supremasi hukum. Salah satu parameter mengukur demokratis atau tidaknya suatu negara adalah bagaimana negara itu melakukan proses pemilihannya.” bebernya.

Ia menjelaskan bahwa Pemilu merupakan bagian sah dari lembaga demokrasi dan sebagai parameter berfungsinya forum politik demokrasi. Melalui pemilu, suara dan kehendak rakyat menjadi dasar penentuan jabatan publik. Suatu sistem politik dikatakan demokratis jika memiliki prosedur pemilihan umum yang teratur untuk sirkulasi elit.

“Pemilu sebagai proses politik rentan terhadap pelanggaran aturan pemilu, khususnya kecurangan pemilu, yang dapat mempengaruhi kampanye pemilu, kejahatan pemilu, kebijakan moneter, dan hasil pemilu. Pelanggaran yang berujung pada sengketa pemilu,” urai Kyai Miqdad yang juga merupakan mantan tokoh pergerakan di Kota Bekasi.

Lebih lanjut, Kyai Miqdad membahas terkait debat capres-cawapres merupakan uji kapabilitas dan kemungkinan akan menggerus dukungan dari masing-masing pasangan calon.

“Debat itu ibarat buah simalakama bagi paslon, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati,” ungkap Kyai Miqdad

Menyampaikan bahwa kondisi Pemilu 2024 saat ini eskalasinya semakin hari semakin memanas, beliau meminta masyarakat harus menyikapinya secara bijaksana, secara dewasa dan tidak boleh terprovokasi.

“Masyarakat Indonesia khususnya di Kota Bekasi pandai-pandailah, cerdaslah, bijaksanalah dalam menyikapi kontestasi Pemilu 2024 karena setelah Pilpres beberapa bulan kemudian akan dilanjutkan dengan pemilihan anggota legislatif.” pesannya.

Kyai Miqdad juga mengharapkan para pelaku politik harus menjadikan wilayah Kota Bekasi menjadi daerah yang sejuk dan mampu mengayomi seluruh masyarakat.

“Mari wujudkan Kota Bekasi yang mengayomi masyarakat dalam kebijaksanaan, keadilan dan kenyamanan sehingga jangan sampai karena ada Pemilu, Pileg, ataupun Pilkada kita semua terpecah belah,” pungkasnya.

Pos terkait