JPPR Ajak Rakat Amar Maruf Nahi Mungkar, Hindari Ujaran Kebencian di Pemilu 2024

MITA
Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Nurlia Dian Paramita. Foto : Instagram

JAKARTA, Redaksikota.com- Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Nurlia Dian Paramita menilai bahwa salah satu kunci pemilu 2024 berjalan dengan baik adalah kesadaran semua masyarakat dan semua komponen banga Indonesia tentang apa itu demokrasi.

Di mana semua memiliki kebebasan memilih terhadap apa yang diyakini atas apa yang dinilai dari sosok calon pemimpin dengan kesadaran sendiri tanpa adanya paksaan dari siapa pun.

Bacaan Lainnya

“Tidak memaksakan pilihan masing-masing,” kata wanita yang karib disapa Mita tersebut kepada wartawan, Senin (11/10).

Kemudian, saat mengampanyekan sosok tertentu, tidak boleh menggunakan cara-cara yang tidak baik, misalnya menyampaikan ujaran kebencian, hoaks, fitnah dan black campign kepada pihak lain demi menaikkan citra idolanya.

Menurut Mita, hal itu justru bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, bahkan melanggar norma agama.

“Kalau dalam agama yang saya anut, amar maruf nahi mungkar itu mungkin. Jadi kita menyebarkan sesuatu yang benar dan kemudian kalau kita keliru ya harus (mengakui) keliru. Kemudian kalau kita bicara soal keliru juga harus hati-hati, apakah yang kita sampaikan itu pencemaran nama baik atau tidak, berkaitan dengan ujaran kebencian tidak?,” tuturnya.

Hal ini menurut Mita sangat penting agar iklim demokrasi di Indonesia tidak mendung apalagi hujan badai. Akan tetapi demokrasi yang sejuk, terang dan menggembirakan untuk semuanya.

“Kosa kata dan narasi harus kita sampaikan secara dialogis, jangan sampai terkesan menjelekkan nama seseorang, itu memang harus pintar-pintar sekali, harus hati-hati,” sambungnya.

Di sisi lain, Mita juga mengajak kepada semua para pemegang hak pilih khususnya pemuda yang akan mendomoinasi DPT (daftar pemilih tetap) untuk lebih mengedepankan pemilihan pemimpin misalnya Capres-Cawapres dengan melihat gagasan dan program yang ditawarkan. Dengan menimbang-nimbang ide dan gagasan serta visi misi maka masyarakat bisa mengukur apakah ide dan gagasan itu realistis atau tidak.

Bagi Mita, itulah cara yang cukup dewasa untuk memilih pemimpin masa depan, bukan terjebak dengan ujaran kebencian dan hoaks yang ditebarkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

“Artinya kalau memilih itu ajakan ya, harus melihat program visi misinya seperti apa, kemudian kita turunkan dalam kenyataannya,” tadasnya.

Lebih lajut, Mita juga mengajak semua masyarakat Indonesia yang memiliki hak suara untuk ikut berpartisipasi dalam menyalurkan hak suara mereka di TPS pada saat pemungutan suara dilakukan, yakni di tanggal 14 Februari 2024 mendatang.

Partisipasi dan peran aktif masyarakat untuk memilih adalah cara yang konkret ikut menyukseskan pemilu 2024.

“Orang-orang baik tidak memilik, maka kemudian dikuasai oleh orang-orang yang bisa jadi bermaksud tidak baik dengan pemilu kita. Karena kita tahu kan narasi saat ini sudah cukup berpotensi provokatif, kecurangan, yang kemudian seakan-akan ada privilage oleh pasangan calon tertentu. Nah ini yang kemudian harus dicermati betul-betul. Saya memilih calon ini ya karena dia memang sesuai dengan kapasitas yang saya harapkan,” pungkasnya.

Pos terkait