Pidato Nomor Urut Pasangan Pilpres dan Indikasi Pelemahan Demokrasi

IMG 20231117 WA0057

Ajang pilpres 2024 telah berada didepan mata, seiring dengan prosesi pengambilan nomor urut pasangan kandidat Pilpres yang telah dilakukan pada hari Selasa 14 November 2023 lalu. Ada hal yang menarik yang perlu dicermati oleh publik dalam momen tersebut selain bahwa masing-masing telah secara resmi mendapatkan nomor urut yaitu pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar mendapat nomor urut 1, pasangan Prabowo Subianto- Gibran Rakabuming Raka mendapat nomor urut 2 dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD mendapat nomor urut 3 adalah pada isi dan substansi dari pidato sambutan masing-masing pasangan kandidat dalam momen tersebut.

Hal yang menarik adalah perihal penegasan masing-masing calon terkait terselenggaranya pemilu yang berlangsung secara fair tanpa kecurangan, sebagai manifestasi proses demokrasi elektoral di Indonesia. Dari ketiga pidato yang disampaikan, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD memberikan penekanan yang tegas dan kontekstual terutama terkait bahwa momen politik kali ini ditandai semacam pelemahan atas kondisi demokrasi, yang menyebabkan keadaan politik di Indonesia saat ini tidak sedang baik-baik saja. Sepertinya hal ini berhubungan dengan kontroversi terkait indikasi instrumentalisasi hukum bagi kepentingan kekuasaan dan terjadinya conflict of interest dari Ketua Hakim MK Anwar Usman dalam gugatan pasal yang disetujui yang memberi ruang bagi pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai kandidat wakil presiden dari Prabowo Subianto.

Bacaan Lainnya

Indikasi penghancuran etika politik yang tengah berlangsung dalam momen tersebut membuat sepertinya menurunkan kepercayaan publik atas terselenggaranya pemilu berlangsung secara jujur dan adil serta bebas dari intervensi (cawe-cawe aparat). Hal ini menyebabkan harapan atas momen pilpres untuk menuju Persatuan Indonesia (Sesuai dengan Sila Ketiga dan nomor urut pasangan GP-MMD) melalui politik yang riang gembira. Namun demikian harapan tersebut menurut Ganjar sayangnya dicederai oleh suguhan drakor (drama korea) yang membuat demokrasi kita tidak sedang baik-baik saja.

Sementara kedua pasangan lainnya seperti pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar maupun Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka secara normatif sama-sama menekankan tentang Pemilu yang fair dan bebas kecurangan. Pada pasangan Anies-Muhaimin seperti yang diutarakan oleh kandidat Wapres Muhaimin Iskandar ditegaskan tentang pentingnya sportifitas dalam pilpres ibarat pertandingan bola. Dimana penonton adalah warga yang bersuara dan mencatat apabila terjadi kecurangan. Sementara pada capres Prabowo Subianto menekankan pada pentingnya pemilu yang berlangsung secara adil dan tanpa kecurangan.

Sorotan publik kepada pidato Prabowo Subianto tentang pentingnya Pemilu yang fair jujur perlu diberikan catatan kritis mengingat bahwa pasangan beliau sebagai cawapres yakni Gibran Rakabumin Raka yang merupakan bagian dari keluarga dinasti Presiden Jokowi tampil menjadi cawapres dalam proses politik yang lahir dalam proses yuridis yang cacat etis. Sehingga hal ini memunculkan kontradiksi antara penegasan yang disampaikan dengan realitas politik yang terjadi.

Tekanan pada pentingnya merawat demokrasi agar dinamika politik kita tidak mundur kebelakang pada jaman ketertutupan otoritarianisme merupakan point yang penting dalam proses elektoral 2024 tersebut.

Penulis : Airlangga Pribadi Kusman Ph.D

Dosen Departemen Politik Universitas Airlangga Surabaya

Pos terkait