Bersama Forum Pembauran Kebangsaan Mendirikan RPK, Ganjar: Titik Temu Untuk Perbedaan

images36

Jakarta – Calon Presiden Ganjar Pranowo, mengungkapkan bahwa Rumah Pembauran Kebangsaan memiliki potensi menjadi titik pertemuan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada serta menjadi wadah untuk berbagi pemikiran dan belajar dari perbedaan demi mencapai persatuan.

Sebelumnya, Ganjar Pranowo pernah meresmikan Rumah Pembauran Kebangsaan (RPK) di Jawa Tengah (Jateng) semasa jabatannya. Dikelola bersama oleh Forum Pembauran Kebangsaan Jateng dan pihak Pemerintah Provinsi, Rumah Pembauran Kebangsaan (RPK) ini didirikan dengan tujuan utama untuk memelihara kesatuan dan persatuan antara berbagai kelompok etnis, sambil menerapkan prinsip-prinsip Pancasila.

Bacaan Lainnya

Perlu dicatat bahwa Provinsi Jateng merupakan provinsi pertama yang memiliki Rumah Pembauran Kebangsaan. Saat ini, Forum Pembauran Kebangsaan Jateng telah menghimpun 19 kelompok etnis yang mencakup beragam suku dari Sabang hingga Merauke. Mereka telah tinggal dan mendalami budaya serta tradisi yang ada di Jawa Tengah selama bertahun-tahun.

Ganjar menyebut peserta yang hadir pasca peresmian Rumah Pembauran Kebangsaan sebagai pionir dan tokoh-tokoh yang mewakili berbagai suku di Jawa Tengah, termasuk suku Nias, Jawa, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua. Mereka bersatu dalam pandangan bahwa diperlukan adanya tempat seperti Rumah Pembauran ini agar mereka memiliki titik temu untuk berinteraksi.

“Ini para pionir, para pelopor tokoh-tokoh dari banyak suku yang ada di Jawa Tengah. Ada Nias, ada Jawa, ada Maluku, ada NTT, tadi berkumpul dari Papua juga berkumpul. Mereka sepakat, bahwa perlu kiranya ada rumah pembauran ini agar ada meeting point untuk mereka bisa bertemu,” kata Ganjar usai peresmian Rumah Pembauran Kebangsaan Jawa Tengah.

Ganjar berharap bahwa Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Jawa Tengah, yang menjadi penggagas Rumah Pembauran Kebangsaan, dapat memperkuat toleransi yang telah tumbuh di Jawa Tengah selama ini. Forum Pembauran Kebangsaan Jawa Tengah terdiri dari beragam kelompok etnis yang ada di Indonesia, termasuk suku Jawa, Sunda, Dayak, Minang, dan Papua.

“Janganlah kemudian nanti kita membawa isu-isu SARA. Maka rumah ini menjadi begitu penting buat kita untuk mendinginkan situasi,” kata Ganjar.

Menurut data yang dirilis oleh Setara Institute pada awal April 2023, empat dari sepuluh kota paling toleran di Indonesia terletak di Jawa Tengah. Kota-kota tersebut meliputi Salatiga, Surakarta, Semarang, dan Magelang. Indeks intoleransi di Jateng mencatat skor 6,8, yang jauh lebih rendah daripada indeks intoleransi nasional yang mencapai 12,6 persen.

Selain itu, Provinsi Jawa Tengah baru-baru ini menerima penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai daerah yang berkomitmen dalam menerapkan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang berpotensi terkait dengan tindakan terorisme (RAN PE).

Pos terkait