Mantan Rektor Universitas Bung Karno Luncurkan Karya Buku ‘Catatan Hidup Seorang Nasionalis, Pancasilais dan Islamis’

IMG 20230620 WA0019

Jakarta – Bertempat di kediamannya di kawasan Pluit Jakarta Utara, mantan rektor Universitas Bung Karno DR. Drs Soenarto MBA.MM merilis buku “CATATAN HIDUP SEORANG NASIONALIS, PANCASILAIS dan ISLAMIS”. Buku tersebut merupakan wujud cinta penulis terhadap sesama, agama, bangsa, negara dan keluarga.

Buku ini memberikan pelajaran hidup yang baik, walaupun berada pada usia yang tidak lagi muda dan dengan penyakit kanker yang diderita, penulis berusaha untuk dapat tetap teguh menjalani hidup dan selalu berusaha untuk menjadi manusia yang berguna untuk sesama, agama, bangsa, negara dan keluarga. Beliau juga aktif mengajar di Universitas Bung Karno periode 2012 – 2021 dan tercatat sebagai rektor terlama. Beliau juga Aktif dalam berorganisasi seperti Organisasi Shiddiqiyyah, Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI), Persatuan Alumni Gerakan Siswa Nasional Indonesia (PA GSNI), serta Yayasan Mandira Nitya Dharma Nusantara.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir untuk membedah buku yaitu, DR. Didik Suhariyanto, SH.MH, Rektor Universitas Bung Karno, Karyono Wibowo, Pengamat Politik Indonesian Public Institute, Susalit Setya Wibowo S.si. MT, Penyunting Buku, I Dewa Nyoman S. Hartana, Ketua Umum PCTA Indonesia, Kushatono, Penyunting Buku, Djafar Shodiq Wali Talqim organisasi Shidiqiyyah.

“Apa yang ditulis dalam buku ini dalam hemat saya menggambarkan karakter penulisnya yang nasionalis, pancasilais, dan Islamis. Apa yang saya baca dan saya saksikan secara langsung tentang rekam jejak penulis. Buku ini menunjukan realitas dan fakta. Karakter, pemikiran dan perbuatan si penulis buku ini memang merupakan perpaduan dari 3 unsur yaitu Nasionalis, Pancasilais dan Islamis.” ujar Karyono.

Didik Suhariyanto menambahkan, “Apa yang sudah dilakukan oleh Pak Soenarto merupakan nilai dan value yang ada dalam diri pak soenarto. Bagi kita semua dan saya juga yang terpenting adalah mentauladani. Apa yang dilakukan oleh beliau baik itu ideologis, nasionalis, islamis itu tidak hanya di teori saja tapi sudah di praktekan hal inilah yang menjadi tauladan.”

Memiliki dua orang guru besar selain kedua orang tua penulis, semakin menambah pembelajaran yang baik dalam beliau. Kedua guru tersebut yaitu Kyai Mochammad Muchtar Mu’thi yang merupakan pimpinan ponpes Shidiqiyyah dan Ir. Soekarno sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan Presiden ke-1 Republik Indonesia. Kedua Guru itulah yang menanamkan nilai dasar kepada penulis tentang “Islam Rahmatan Lil Al Alamin” dan “Cinta Tanah Air”.

“Pak Narto Mengispirasi saya, kedepannya saya jadi ingin menulis kalau pak Narto gurunya Pak Kyai dan Bung Karno, mungkin guru saya nanti pak Narto.” ujar Kushartono.

Djafar Shodiq menambahkan, “Jiwa islamis beliau kalau saya baca dari buku ini secara tersirat beliau menyampaikan, saya bisa mengamalkan nilai-nilai islam bukan untuk saya tapi untuk masyarakat banyak ketika saya sudah bertemu thotiqoh shiddiqiyah.”

“Yang sangat menarik dalam buku ini ada menceritakan tentang tembang, saya tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang tembang sebelumnya dan saya baru dapatkan di buku ini. Contohnya tembang mijil menggambarkan tentang prosesi dimana manusia dilahirkan. dan saya sangat menyukai bagian asmaradhana.” tambah Djafar.

Dengan adanya buku ini, anggapan masyarakat yang salah bahwa seorang “nasionalis” sering dianggap “kekiri-kirian” (diasosiasikan dengan ide-ide seperti kebebasan, persamaan derajat, solidaritas, pembelaan hak-hak, perjuangan sosial, reformasi dan internasionalisme) dan sebagai “abangan” (golongan penduduk Jawa Muslim yang mempraktikkan Islam dengan berbagai macam aliran, seperti Hindu, Buddha, dan animisme) dapat dipatahkan.

Anggapan yang demikian itu salah besar. Penulis meyakini “Nasionalisme, Pancasila, dan Islam” telah membentuk jiwa dan arah hidup penulis, sehingga seluruh perjalanan hidup penulis selalu dilandasi oleh nilai-nilai “Nasionalisme, Pancasila, dan Islam”.

Menurut penulis, “Nasionalisme, Pancasila, dan Islam” bukan merupakan hal yang saling bertentangan, tetapi merupakan nilai-nilai yang saling menguatkan sebagai bangsa yang memiliki jati diri.

“Minat baca dari masyarakat sangat rendah, 10 ribu orang indonesia cuma satu orang yang minat membaca apalagi untuk menulis dan ini saya sangat menaspirasi kepada saudara saya bapak soenarto. mudah mudahan buku ini bisa mengispirasi para tokoh muda untuk dapat menulis untuk kemajuan bangsa dan saya lihat buku ini sarat akan nilai-nilai nasionalis cinta tanah air dan tasawuf. sangat luar biasa.” ujar Nyoman.

“Kalau kita lihat dari sistematika penulisan buku ini,yang kita utamakan dan kita tekankan bukan dari riwayat, tapi ini merupakan warisan nilai, yaitu nilai nasionalisme, pacasilais dan islamis. Nilai-nilai itu sebenarnya sudah ada didalam prilaku kita. Kalau kita llihat episode buku ini ada 12 dan itu merupakan makna dari Laa Ilaaha Illallah dan Buku ini sebenarnya melambangkan kisah istri untuk menuju pada tembang Pucung dan tembang macapat itu bukan kejawen tapi merupakan ciptaan dari wali songo yang memiliki nilai-nilai islami.” tambah Susalit.

Sebagai penutup, Soenarto Sardiatmadja mendeklarasikan yayasan Mirah Delima yang kedepannya akan fokus pada pendidikan akan nilai-nilai cinta tanah air, islami serta kemanusiaan.

Pos terkait