Diskusi Pemuda Muhammadiyah & Ulama-Jawara Banten, Siapkan Sinergitas Hadapi Krisis Pangan dan Energi

IMG 20221024 WA0005

Banten – Krisis pangan dan energi global mulai memberikan dampak kepada Indonesia. Kondisi yang terjadi akibat dari perang antara Rusia dan Ukraina ini diketahui karena, kedua negara tersebut adalah eksportir minyak mentah dan bahan pangan terbesar di dunia. Menanggapi permasalahan tersebut, Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah menggelar diskusi dengan tema peran pemuda, ulama dan jawara dalam menghadapi krisis pangan dan energi dunia di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Falah, Lebak.

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Lebak, Saparudin mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan hasil dari kolaborasi PP Muhammadiyah dengan NU beserta akademisi dan pondok pesantren yang juga mengundang komunitas jawara di Lebak.

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak yang positif, serta menghilangkan konflik saling menjatuhkan baik antar organisasi maupun golongan lain di masyarakat.

“Kegiatan ini membawa aura positif untuk bersatu menghadapi krisis yang terjadi di dunia pada umumnya dan juga Indonesia pada khususnya,” kata Saparudin, Sabtu (22/10).

Salah seorang narasumber yang merupakan Guru Besar UMM, David Hermawan mengatakan, krisis pangan dan energi ini bukan hanya permasalahan Indonesia, namun menjadi masalah dunia. Menurutnya, hal utama yang harus bisa dilakukan adalah memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) di setiap wilayah yang berada di Indonesia.

“Negara kita ini memiliki lahan yang luas, sudah sepatutnya kita memaksimalkan itu. Namun, harus dengan kualitas SDM yang mumpuni. Seperti contoh Muhammadiyah dan NU yang kadernya ada di setiap ranting, hal itu bisa dimaksimalkan di tiap daerah,” kata David.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki kelebihan dalam menghadapi krisis pangan dunia, salah satunya adalah jenis tanah yang sangat cocok untuk ditanami jagung. Ia menyebut, jagung adalah komoditi utama setelah gandum di setiap negara. Dengan memaksimalkan hal tersebut, momentum bagi bangsa Indonesia untuk menjadi poros dunia di pasar global.

“Jagung ini bukan hanya sebagai bahan utama nasional, tapi bisa jadi alat tawar di dunia. Jadi ketika kita punya jagung ini, negara lain tidak akan berani menolak transaksi dengan kita. Karena itu tadi, jagung adalah bahan utama mereka,” jelas David.

Ia menerangkan, komposisi untuk menyatakan suatu negara kuat ialah harus memiliki tiga unsur, yakni militer, pangan dan energi. Dalam kasus krisis pangan-energi global ini, hanya tiga negara yang bisa menyelamatkan dunia. Di Asia terdapat Indonesia, di Amerika ialah Brazil dan di Afrika ada Kongo. Disetiap negara tersebutlah tersimpan peluang pangan serta energi yang bisa menyelamatkan dunia.

“Di Indonesia sendiri memiliki tanah luas, iklim yang selalu bisa bercocok tanam. Dengan demikian peran pemuda ini dibutuhkan dalam mengelola itu semua nantinya. Tentunya kita juga harus tetap menjaga dan melestarikan alam, sebab sudah mulai muncul krisis air bersih,” tandasnya.

Narasumber lain dari Pimpinan Ponpes Nurul Falah, Ahmad Arifudin mengatakan, dalam menjaga kestabilan Indonesia perlu menyatukan perbedaan dalam masyarakat. Menurutnya, saat ini masih banyak pemuda yang harus dibina dan diperhatikan oleh ulama dan jawara.

“Saat ini kita tau ulama sudah bisa saling berdamai, dan jawara disini bukan lagi tentang seberapa tajam goloknya, seberapa kuat fisiknya. Tapi, seberapa jauh pembangunan yang ia bisa berikan untuk masyarakat,” kata Ahmad yang juga Ketua Dewan Pembina Patriot Garuda Nusantara (PGN).

Sementara itu, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Horo Wahyudi mengatakan, adanya kegiatan ini membawa harapan untuk menyatukan seluruh elemen di Indonesia. Ketika pemuda, Ulama dan Jawara sudah bersatu, keselamatan Indonesia bisa maju dan berkembang lebih baik.

“Muhammadiyah dan NU adalah salah satu Organisasi Masyarakat terbesar di Indonesia. Saya yakin, dengan bersatunya kami demi kepentingan umat, dapat menciptakan suatu pemikiran dan gagasan yang memberikan manfaat untuk NKRI,” kata Horo.

Horo menjelaskan, Kegiatan ini bukan hanya sekedar acara seremonial, hasil dari diskusi ini akan ditindaklanjuti untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait krisis pangan-energi yang akan berdampak kepada Negara Indonesia.

“Pemuda Muhammadiyah akan lebih konsen terhadap permasalahan krisis tersebut, kita akan melakukan follow up pasca kegiatan ini dengan menggandeng semua elemen termasuk juga para stakeholder terkait,” tandasnya.

Pos terkait