Bicara Film untuk Anak, Benny Susetyo : Mesti Dibangun dari Kuatnya Karakter Tokoh

Jakarta – Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo mengatakan pentingnya penokohan atau karakter dalam membuat film untuk membangun kecintaan anak-anak akan membaca buku, khususnya buku bahan ajar Pancasila.

Hal itu disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) Review Bahan Pendukung Kajian Pembinaan Ideologi Pancasila yang diadakan oleh Kedeputian Bidang Pengkajian dan Materi di Jakarta, Selasa (27/09/22). Akan ada dua film pendek dan satu video animasi bagi anak-anak SD dari kelas 1 sampai 3 yang dicanangkan akan dibuat sebagai bahan pendukung dari buku bahan ajar Pancasila.

Romo Benny menyampaikan pendidikan harus menciptakan ekosistem yang baik, jika dari film maka dimulai dari judul, kemudian mampu membuat tokoh idola yang menjadi dambaan anak-anak. Romo mencontohkan seperti film Si Unyil dimana dari film tersebut, anak-anak dibangun karakternya dengan dikenalkan mana hal yang baik dan yang buruk, sikap jangan berbohong, bertanggung jawab dan lain-lain.

“seperti dalam teori psikologi, kan anak harus diajarkan untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sikap jangan berbohong atau jujur, pertemanan dan lain-lain. Jadi pertama, kekuatan kita adalah kekuatan tokoh, dari karakter-karakter itu yang penting adalah story. Kedua, siapa yang akan menjadi bintangnya itu yang diharapkan menjadi idola anak-anak”, ujar Romo

Namun, Romo juga menyampaikan pesan bahwa di era yang serba digital, perlunya menanamkan kecintaan anak akan budaya atau sejarah bangsa lewat film yang dikemas secara menarik.

“kita menghadapi anak-anak dalam era digital dalam era global, bagaimana anak-anak memiliki eksistensi dan memelihara budaya kita, artinya kita beradaptasi akan globalisasi, tapi tetap memiliki eksistensi budaya kita, jadi bagaimana ini menarik, fun, lucu, dialog yang menarik dengan bahasa anak dan dialek kedaerahan, bikin se-Indonesia, bikin yang orisinil, karena yang orisinil itu menarik, maka pemainnya cari anak-anak daerah”, tuturnya.

Lebih lanjut, selain dikemas menarik untuk anak-anak, Romo Benny menekankan film pendek dan video animasi yang dibuat harus membawa narasi yang dikaitkan dengan tantangan zaman, seperti krisis pangan, krisis lingkungan hidup dan krisis finansial.

“Aktor-aktor harus mampu membuat visi Indonesia kedepan yang dikaitkan dengan tantangan kita kedepan, seperti krisis global, maka seperti yang dikatakan Bung Karno, anak-anak harus mencintai dunia pertanian, jadi misalnya anak-anak diajak agar suka berkebun”, ucap Stafsus Ketua Dewan Pengarah BPIP.

Hal lain yang disampaikan Romo seperti masalah krisis finansial, maka pendekatan yang dapat ditanamkan kepada anak-anak dalam film adalah sikap hemat atau rajin menabung.

Hal penting lain dalam pembuatan film dan video animasi adalah durasinya, Romo menekankan durasi menjadi krusial dan penting agar anak-anak tidak mudah bosan, “durasi jangan terlalu lama, paling lama 7 sampai 8 menit, bagaimana ini di kemas yang membuat rilek anak-anak, supaya dari film ini anak-anak terdorong untuk mau membaca buku”, jelasnya.