Jangan Terjebak Perang Hegemoni, Indonesia Harus Tampil Unggul dan Berjuang!

Oleh : Hasto Kristiyanto

Perang Rusia-Ukraina sepertinya begitu mengagetkan dunia. Analisis pun bermunculan termasuk isyarat akan terjadinya Perang Dunia Ketiga. Banyak analisis yang tidak melihat perspektif historis tentang asal muasal perang dalam peradaban manusia. Dalam sejarahnya, perang menjadi jalan penaklukkan dalam membangun hegemoni negara-negara kuat di kawasan yang ingin mendapat pengakuan secara global. Semuanya bermuara pada hal yang sama, yaitu hasrat untuk membangun hegemoni. Pembenaran atas perang pun bisa disusun dengan 1001 cara.

Perang, sebagaimana halnya terjadi pada era modern dengan Perang Dunia I, dan Perang Dunia II, secara jernih telah dianalisis sebab musababnya oleh Bung Karno, Proklamator dan Bapak Bangsa Indonesia. Dalam kajiannya yang mendalam, Bung Karno menegaskan tentang bahaya kapitalisme sebagai akar berbagai persoalan dunia. Dalam pandangannya, kapitalisme menciptakan krisis. Krisis merupakan penyakit inheren dalam tubuh kapitalisme. Belum selesai krisis yang satu, muncul krisis lainnya. Dampaknya pun makin dalam, sehingga suatu saat, Amerika Serikat dan Eropa Barat akan mengalami krisis ekonomi bersamaan. Suatu analisis yang sangat tajam pada tahun 1945, dan baru terjadi pada tahun 2008 ketika Amerika Serikat menghadapi krisis finansial akibat kapitalisme. Krisis finansial di Amerika menjalar hingga ke Eropa dan dunia.

Kapitalisme dalam bahasa yang mudah dimengerti rakyat, dikatakan sebagai nafsu. Nafsu yang digerakkan oleh hasrat mengakumulasi kapital. Akumulasi kapital ini terus menggulung hingga terkonsentrasi di tangan segelintir kapitalis global. Hasrat ini mempengaruhi cara berdagang, sistem sosial, sistem ekonomi, hingga menjadi penggerak dalam sistem politik yang menopang seluruh hasrat penguasaan kapital. Kapitalisme ini sejarahnya panjang, dan semakin hebat ketika Revolusi Perancis pada abad ke-18. Revolusi Perancis merupakan koreksi atas hegemoni feodalisme yang berlindung di balik kekuasaan para bangsawan yang mendapat legitimasi agama dalam hal ini gereja yang telah masuk ke ranah politik. Hasilnya liberté, egalité, dan fraternité berkumandang, mendorong zaman baru yang digerakkan oleh nilai-nilai liberalisme. Dalam tatanan politik, liberalisme mendorong lahirnya sekularisme atau pemisahan yang ketat antara urusan agama dan urusan negara.

Namun, Revolusi Perancis juga membawa berkah. Abad pencerahan bersinar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi motor perkembangan peradaban. Mesin uap ditemukan yang akhirnya membawa perubahan dalam sistem produksi dengan kapasitas besar yang semakin menempatkan pentingnya konsentrasi kapital. Revolusi industri tersebut merubah banyak sendi kehidupan. Kapitalisme-liberalisme bersekutu dan menciptakan struktur sosial baru, berupa kelas pemodal dan kelas buruh. Muncul dialektika baru. Karl Marx dengan pandangan materialisme terhadap sejarah (materialisme historis) memelopori paradigma kritis mengkritisi kapitalisme. Dalam pandangan Marx, kaum kapitalis mengambil nilai lebih yang dihasilkan oleh kaum buruh sehingga menciptakan kemiskinan yang akut yang diderita oleh kaum buruh, buruh teralienasi dari aktivitas kerjanya.

Dalam analisis Marx, kapitalisme akan tumbang melalui perjuangan kelas kaum buruh melawan antipodenya sendiri yaitu kaum kapitalis. Di atas reruntuhan masyarakat kapitalisme tersebut akan tumbuh masyarakat baru yaitu suatu masyarakat tanpa eksploitasi antar manusia. Teori Marx ini dipatahkan oleh Bung Karno. Kontradiksi yang terjadi di negara-negara terjajah, bukan seperti tesis Marx yaitu pertentangan antara kapitalis dan proletar, melainkan pertentangan antara bangsa terjajah dan bangsa yang dijajah. Marx tidak hidup di alam kapitalisme yang sedang meninggi dalam wajah baru yaitu jaman imperialisme. Bung Karno melalui pledoi Indonesia Menggugat (1930) menganalisis dengan sangat tajam tentang imperialisme dengan meminjam teori dari Pieter Jelles Troelstra, H.N. Brailsford dan Otto Bauer. Dalam jaman ini, menurut Bung Karno, negara-negara imperialis dan kapitalis global saling berkompetisi satu sama lain dengan membagi dan memperebutkan dunia jajahannya. Pada jaman ini pula, negara-negara imperialis dapat mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain (kolonialisme). Dalam bahasa Bung Karno, kolonialisme dan imperialisme merupakan anak kandung dari kapitalisme Barat.

Pada saat itu, dunia dihadapkan pada perang hegemonik, yang bertujuan mencari sumber daya alam dalam bentuk bahan mentah untuk kepentingan industri negara maju, ataupun mencari perluasan pasar bagi kepentingan industrinya. Perdagangan internasional pun berkembang, yang didukung oleh dukungan militer bagi memastikan keamanan dagang dan terjaminnya investasi di negara-negara baru. Tahap inilah yang mendorong ekspedisi bangsa-bangsa Eropa Barat yang diikuti dengan penguasaan teritorial dengan segala cara. Akhirnya kapitalisme yang bersenyawa dengan kebijakan luar negeri suatu negara melahirkan watak geopolitik yang ekspansionis, dan mencari ruang hidup (lebensraum) sebagai bentuk hegemoni suatu bangsa yang lebih maju terhadap bangsa lain yang lebih rendah. Kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme akhirnya menjadi satu kesatuan tata pergaulan hidup yang mengeksploitasi bangsa lain.

Akibat dari sistem imperialisme ini, menurut Bung Karno telah menimbulkan “urat-urat dan syaraf-syaraf sistem imperialisme”. Pertama, sistem imperialisme melahirkan politik devide et impera; Kedua, sistem imperialisme memarjinalkan rakyat Indonesia; Ketiga, sistem imperialisme melahirkan “superioritas kulit putih”; Keempat, sistem imperialisme telah mengelabui dan menjinakkan rakyat Indonesia dengan membangunkan kepercayaan di dalam hati dan pikiran rakyat Indonesia, bahwa kepentingan rakyat sesuai dan sama dengan kepentingan para kapitalis global. Sehingga rakyat jangan menjalankan politik self-help dan politik ingin merdeka, tetapi haruslah memeluk politik bersatu dengan kolonialis dan imperialis, yakni politik asosiasi.

Bung Karno dalam seluruh pemikirannya di atas, menggambarkan kepada kita untuk melihat perkembangan kapitalisme menuju imperialisme modern. Analisis Bung Karno tentang imperialisme sangat visioner dan masih sangat relevan sampai hari ini dalam kaitannya dengan konflik geopolitik dunia, khususnya yang saat ini terjadi di Ukraina dan Rusia. Bung Karno mengajarkan kepada kita bahwa konflik geopolitik internasional tidak bisa dilepaskan dari konflik perebutan pasar dan sumber daya, serta perlombaan menampilkan hegemoni kekuatan militer. Begitu juga dengan pembentukan pasar-bebas, blok-blok perdagangan dan kawasan perdagangan bebas, serta peran dominan dari Bank Dunia, IMF, WTO yang merupakan fenomena dari watak imperialisme-modern sebagaimana digambarkan Bung Karno pada tahun 1930.

Dengan analisis yang tajam dari Bung Karno tersebut, apa yang terjadi antara Rusia-Ukraina harus ditempatkan dalam perspektif pertarungan hegemoni, yang di dalamnya melibatkan kepentingan strategis NATO yang berhadapan secara diametral dengan Rusia. Dalam perspektif Rusia, ekspansi NATO tersebut semakin menciptakan ketidakseimbangan kekuatan militer di kawasan yang sangat strategis secara geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi tersebut. Tentu saja, Indonesia sebagai negara yang memelopori politik luar negeri bebas-aktif, apa yang dilakukan Rusia juga bertentangan dengan prinsip bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa.

Namun yang terpenting bagi Indonesia bukanlah pada analisisnya. Dalam gerak setiap negara, semua negara berlomba untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya dan sekaligus membangun “daya pengaruhnya” bagi dunia. Dengan demikian menjadi penting untuk bangsa Indonesia melihat ke dalam, guna merumuskan apa kepentingan nasional Indonesia di tengah pertarungan hegemoni, yang tampilannya semakin kompleks tersebut.

Dalam masa kepemimpinan Sukarno, diplomasi luar negeri dan pertahanan begitu piawai digunakan. Demikian halnya dalam bidang perekonomian dan diplomasi kebudayaan. Semua dipergunakan bagi daya tawar Indonesia di dalam mewujudkan kepentingan nasionalnya. Hasilnya, begitu banyak kerjasama strategis yang dilakukan, termasuk mengirimkan ribuan pemuda ke luar negeri agar bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Itulah jawaban yang bisa diberikan di tengah pertarungan hegemoni, bagaimana Indonesia membangun seluruh proyeksi national-powernya sehingga memiliki daya unggul. Daya unggul ini dalam desain awalnya dimulai dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga memiliki progresivitas tinggi untuk melakukan riset dan inovasi dengan meningkatkan seluruh nilai tambah dalam proses produksi yang berdampak pada peningkatan daya unggul bangsa, khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Pada saat bersamaan, Indonesia tidak bisa berdiam diri atas berbagai “gejolak” pertarungan hegemoni dunia. Indonesia tidak bisa mengatakan “netral”. Sebab netralitas bukanlah garis kebijakan luar negeri. Indonesia berpihak pada perdamaian dunia, dan seharusnya mengambil setiap prakarsa bagi tata dunia baru yang lebih demokratis, lebih berkeadilan, dan bebas dari ancaman perang. Indonesia juga harus tegas menyuarakan kembali bahwa berbagai persoalan dunia selalu saja disebabkan oleh pertarungan hegemoni negara-negara besar. Hal ini sangat jelas disuarakan oleh Bung Karno dalam pidato To Build the World a New pada tahun 1960, dan kini terbukti kembali kebenarannya.

Dalam berbagai prakarsa kepemimpinan Indonesia bagi dunia tersebut, setidaknya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan, dan Kementrian Perdagangan harus diperkuat semangatnya untuk ikut berjuang menghadirkan pemikiran geopolitik Indonesia yang digerakkan oleh nilai-nilai kemanusiaan dan internasionalisme. Kepemimpinan diplomasi memerlukan rasa percaya diri, keyakinan pada nilai-nilai dasar terhadap kebijakan luar negeri yang oleh Bung Hatta dikatakan ‘mendayung diantara dua karang’.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus tampil menjadi core kemajuan. Gagasan progresif dari Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim tentang Kampus Merdeka-Merdeka Belajar harus dimaknakan sebagai energi kebangkitan untuk menjadikan kampus sebagai pusat kemajuan. Kalau Bung Karno saja tahun 1953 sudah mencanangkan kampus sebagai city of intellect, maka yang dilakukan Nadiem Makarim memberikan kerangka strategis bagi kampus sebagai pusat kemajuan.

Jadi, melihat perang Rusia-Ukraina mengingatkan kita semua, bahwa ketegangan di Laut Tiongkok Selatan, Timur Tengah, maupun bara api konflik di Semenanjung Korea setiap saat bisa mencapai eskalasi tertinggi, dan menjadi persoalan serius bagi kepentingan nasional Indonesia. Di sinilah bangsa Indonesia tidak boleh berhenti pada analisis, namun mendorong perbuatan nyata secara kolektif, agar semangat kepemimpinan Indonesia di seluruh aspek kehidupan tersebut bisa dijabarkan dalam kebijakan teknokratis yang memicu kemajuan bangsa. Karena itulah berbagai energi yang masih melihat masa lalu; ataupun energi yang masih mempertentangan antara Pancasila dan agama; ataupun pembiaran atas politik identitas di sekolah, harus diubah menjadi semangat memerdekakan dari kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan tanpa dikotak-kotakkan isu primordial. Di sinilah pentingnya imajinasi bagi masa depan, dan cara apa yang harus dilakukan untuk mencapai imajinasi itu sangat penting untuk dijabarkan. Sebab ide, spirit, tekad, dan tindakan bagi kemajuan adalah nilai-nilai perjuangan yang sangat penting untuk ditumbuhkan, Dalam proses ini, Indonesia harus menampilkan diri, agar tidak terjebak pada perang hegemoni. Merdeka!!!