Pancasila sebagai Living and Working Ideologi, Benny Susetyo : Pentingnya Konten Positif Demi Efektivitas Implementasi

JAKARTA – Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo menyatakan bahwa masyarakat Indonesia di era digital ini sangat membutuhkan konten yang bisa mengisi ruang publik dengan hal positif, menambah gairah dan semangat serta optimisme dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ketika kita membicarakan mengenai konten bermuatan Pancasila hal ini tidak semata-mata mengenai isi lima sila, butir butir atau teori filsafatnya saja,” ungkap Romo Benny, hari ini.

Menurutnya, konten bermuatan Pancasila yang efektif serta dapat merasuk ke hati masyarakat adalah konten yang harus mengena dan dapat dilaksanakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari hingga Pancasila dapat menjadi living and working Ideologi.

“Dan dapat menjadi dasar juga tata perilaku serta menjadi perwujudan nyata dari nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan yang selama ini hidup dan berkembang secara turun temurun di dalam kehidupan Bangsa Indonesia,” ungkap Benny dalam Workshop Produksi Konten Trik membuat Video Kreatif dan Menarik dengan tema ‘Pancasila dan Seni Budaya Sebagai Perekat Nilai – nilai Sosial Kemasyarakatan’ yang diselenggarakan pada Rabu 16 Februari 2022.

Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika ini dibuka oleh Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Menkominfo Bapak Wiryanta yang menyatakan bahwa Pancasila merupakan dasar berkehidupan bangsa yang berisi nilai-nilai bangsa.

Maka konten yang dikreasikan hendaknya dapat membumikan nilai-nilai Pancasila dalam wadah dunia maya hingga kearifan bangsa yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dapat terjaga dan tidak terlindas oleh kebudayaan asing.

“Jangan sampai terlindas oleh budaya asing yang tidak sesuai dengan keberadaan kita sebagai manusia indonesia yang berpancasila, hendaknya kita selalu kritis membaca, menggali dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam berkehidupan agar cita-cita luhur bangsa dapat terlaksana,” bebernya.

Antonius Benny Susetyo yang juga seorang Budayawan dan Pakar Komunikasi Politik ini dalam paparannya lebih lanjut menyatakan persoalannya adalah bagaimana asset paling nyata yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia saat ini adalah sumber daya manusia.

Namun dalam era digital ini justru menjadi agen perpecahan dan olok-olok yang dibuktikan dengan “prestasi” Indonesia sebagai Negara dengan warganet paling tidak sopan di dunia.

Karenanya kita sebagai bangsa Indonesia lebih lanjut harus berintrospeksi dan berpikir bahwa keanekaragaman, suku , bangsa, budaya dan agama yang ada di Indonesia merupakan Anugrah Tuhan yang harus disyukuri dan dirayakan dengan terus mengacu pada nilai-nilai luhur dan budaya Bangsa.

“Yang terangkum dalam Pancasila
Media sosial dan Digital sebenarnya merupakan wadah yang potensial untuk mengakomodir usaha melestarikan nilai nilai bangsa,” kata dia lagim

Maka para kreator hendaknya dapat membuat konten yang tidak hanya memiliki nilai tukar namun dapat memiliki nilai guna. Para konten Kreator hendaknya dapat membuat Produk yang tidak hanya berhenti sebagai hal yang bisa dinikmati. Namun juga bisa merasuk hingga terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Buatlah konten yang dapat mengangkat pesan kehidupan nilai-nilai luhur dalam kemasan yang lebih aktual terkait dengan fenomena fenomena dalam masyarakat,” jelasnya.

Kaum Muda lebih lanjut juga dapat belajar kepada Bung Karno dimana beliau adalah orang yang Jenius Khususnya dalam pembuatan “konten” dan Branding untuk Nasionalisme dan pemersatu bangsa.

“Seperti ketika beliau meminta pengrajin batik solo bernama Jo untuk membuat Batik Nusantara, dimana kain batik yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dapat diubah sedemikian rupa tidak hanya sebagai pakaian namun juga Identitas Pemersatu Bangsa,” ungkapnya.

Benny kemudian menutup paparannya dengan menyatakan bahwa bukan hanya kaum muda namun seluruh bangsa Indonesia memiki kekuatan dan kemampuan dalam membuat konten media sosial.

“Semua terserah pada kita untuk menggunakan kekuatan itu sebagai sarana pemenuhan nafsu menyebar kebencian, atau menjadikan potensi itu sebagai tenaga dalam upaya tidak hanya mempersatukan namun juga mencerdaskan bangsa serta membawa Indonesia kedalam setiap aspek kehidupan yang lebih baik. Hendaknya kita semua memahami, sebelum akhirnya sadar dan menyesal,” tutup Benny dalam acara yang antara lain dihadiri oleh Youtuber Brian Barcelona dan Cindy Gulla itu.