KOMANDO : Kami Mengendus di BUMN Sedang Membangun Dinasti Thohir

Jakarta – Barisan dari elemen masyarakat, mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Indonesia (KOMANDO) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Telkomsel, Gatot Subroto, Jakarta Selatan dan Kantor BUMN, Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (22/10) siang.

Aksi tersebut mengangkat tema terkait beberapa isu yang ada di Badan Usaha Milik Negara yang dipimpin oleh Bapak Erick Thohir. Sejumlah massa aksi tersebut memulai aksinya sekitar pukul 14.30 WIB di depan Kantor Telkomsel, Gatot Subroto, Jakarta Selatan dan dilanjutkan ke Kantor BUMN, Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada pukul 16.00 WIB. Beberapa diantaranya membawa poster dan spanduk yang meliputi seputar beberapa isu yang terjadi di BUMN hasil dari kajian yang dilakukan sebelumnya.

“Jadi, aksi ini merupakan bentuk kekecewaan kami kepada Erick Thohir sekaligus agar masyarakat seluruh Indonesia tau bahwa BUMN kita sedang tidak baik-baik saja. Dan ini hasil kajian kami lewat webinar yang sudah kami sepakati bersama,” kata Korlap Aksi Prasetyo.

Prasetyo melanjutkan bahwa KOMANDO mendapati beberapa isu yang menurutnya sangat bermasalah dan sangat berdampak kepada negera Indonesia di masa Pandemi Covid-19.

“Hasil kajian kami menyatakan bahwa hari ini BUMN sedang tidak baik-baik saja mulai dari isu investasi Telkomsel ke Gojek, merger Indosat -Tri, sampai Rencana IPO Mitratel yang mana pasti akan merugikan negara dan rakyat Indonesia di masa Pandemi Covid-19,”ujarnya.

“Pertama, soal investasi Telkomsel ke Gojek, dimana Telkomsel menyuntikan 6,4 Triliun kepada Gojek, apa urgensi sekelas Telkomsel menyuntikan dana segar ke perusahaan swasta yang notabene baru seumur jagung ? padahal Growth Signal saham Gojek sampai hari ini hanya 4% saja, masih banyak perusahaan lain yang mempunyai Growth Signal bagus untuk bisa disuntikan dana investasi,” kata Prasetyo melanjutkan.

Massa aksi juga mempertanyakan soal urgensi merger Indosat-Tri dan rencana IPO Mitratel.

“Lalu soal merger Indosat-Tri, ketika saham ini belum di merger saham negara di Indosat punya 14,3 %, setelah merger kok saham negara menjadi turun 9,6 % ? terus ngapain kita merger kalo toh hasilnya malah membuat negara merugi ? , juga soal rencana IPO Mitratel, sekilas ini menjadi sebuah keuntungan negara, tetapi apakah kalian tahu bahwa perputaran uang di dalam anak perusahaan BUMN tersebut ujung-ujungnya kembali lagi kepada Menteri BUMN ?,” katanya.

Lebih lanjut, KOMANDO mencurigai ada kepentingan keluarga dalam investasi Telkomsel ke Gojek, merger Indosat – Tri, juga rencana IPO Mitratel dimana pelaku utama yaitu Erick Thohir dan kakaknya Boy Thohir.

“Ketika kami kaitkan dengan konteks ekonomi politik, kami mengendus ada kepentingan pribadi yang dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir untuk mencoba membangun dinasti Thohir. Mengapa ? Pertama, Komisaris Utama dari Gojek merupakan kakak kandung dari Erick Thohir yaitu Boy Thohir, kemudian tidak ada urgensi yang menguntungkan negara dalam hal investasi Telkomsel ke Gojek. Kedua, dengan adanya Merger Indosat – Tri, saham negara turun dari 14,3% menjadi 9,6%, kemudian rencana IPO Mitratel, kami menduga ada kongkalikong bisnis antara Menteri BUMN Erick Thohir dan Kakak kandungnya Boy Thohir,”Ujarnya lagi.

“Terakhir, kami meminta agar Presiden Jokowi segera mengusut tuntas dugaan-dugaan praktik penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Menteri BUMN Erick Thohir karena ini sudah merugikan negara Indonesia di tengah Masa Pandemi Covid-19. Jika memang Erick Thohir kedapatan menyalahgunakan kekuasaannya, kami meminta Presiden Jokowi untuk me-Reshuffle Menteri BUMN,”Ucap Prasetyo.