Alumni Afghanistan Blak-Blakan, Tepis Daya Tarik ISIS

JAKARTA – Selain menepis daya tarik ISIS, para anggota FKAAI juga berbicara secara blak-blakan mengenai stigma yang mereka hadapi ketika kembali kepada kehidupan warga sipil sebagai “bekas teroris”. Alumni Afganistan angkatan ke-4 tahun 1990, Darmuji alias Abu Jibril mengaku kembali dari Afghanistan dan Malaysia tanpa uang, dan berjuang keras sampai akhirnya bisa mandiri di usia separuh baya,

Hal-hal seperti ini, mengenai kesulitan kembali menjadi warga biasa setelah menebar teror di luar negeri, jarang diungkapkan dalam pesan-pesan kontra-terorisme. Dan barangkali efektif karena memudarkan mitologi jihad asing.

“Sebagai bekas jihadis, para eks-teroris itu memberikan nilai tambah di mata sesama eks-teroris, dan juga di mata warga Muslim yang awam seperti mahasiswa-mahasiswa yang menjadi target program kontra-radikalisasi kami dan BNPT,”

Farihin mengatakan FKAAI secara spesifik tidak berasosiasi dengan gerakan-gerakan Muslim moderat seperti NU dan Muhammadiyah karena, meskipun mereka melakukan pekerjaan yang baik, mereka “terlalu mainstream.”

“Anak-anak muda mendengarkan saya karena saya aktor dan saksi dalam jihad asing. Kami tidak punya banyak kesamaan dengan kelompok-kelompok seperti NU.”

Bapak Sugiarto mengatakan para mahasiswa yang ia temui sejauh ini memberikan tanggapan “sangat positif” terhadap pesan-pesan anti-radikalisme FKAAI.

“Setelah berbagi pengalaman dengan anak-anak muda, baik di SMA maupun pesantren, kesimpulan saya, mereka punya pengetahuan untuk memahami ancaman radikalisme,” “Ketika anak-anak muda itu melihat aktivitas tersebut, mereka mencoba menghindarinya.”

Serigala Penyendiri

Salah satu yang membatasi upaya FKAAI adalah keterbatasan hubungan dengan para aktor “serigala penyendiri” yang sekarang menjadi tipikal citra terorisme ISIS, menurut Sarlito.

“Para mantan pejuang Afghanistan ini bukan lagi mayoritas jihadis yang dipenjara. Saat ini ada teroris pro-ISIS dan ‘serigala-serigala penyendiri’, yang meradikalisasi diri melalui internet, dan tidak memiliki hubungan dengan para mantan pejuang Afghanistan,”

Ia mengatakan mereka tidak mau mendengarkan “siapa pun kecuali para pemimpin mereka,” dan sebagian besar lewat media sosial. Meski ada kendala struktural ini, para anggota FKAAI memiliki pengaruh yang tidak biasa di antara para murid dan mahasiswa karena masa lalu mereka sebagai jihadis.

“Ketika saya masih aktif, mereka bahkan tidak menyebut kami ‘teroris’,” katanya. “Kami semua ‘anarkis’!”

Menurut mereka, ekstremisme adalah masalah yang berputar dalam siklus dan dapat ditanggulangi secara intelijen. Para alumni Afghanistan ini berharap suara mereka dapat memutus lingkaran tersebut.