Perilaku Terorisme Upaya Memecah Belah Bangsa

Redaksikota.com, Jakarta  – Kelompok aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus DKI Jakarta menggelar Diskusi Virtual dengan tema “Lawan Terorisme, Perkokoh Persatuan Nasional”, Kamis, (8/4/2021).

Sejumlah narasumber yang hadir dan memberikan pandangannya dalam diskusi daring tersebut yakni Poni Dwi Setiadi (Ketua Umum PC PMII Jakarta Pusat), Andreas Simanjuntak (Kordinator Wilayah 3 GMKI), Ahmad Husein (Ketua HMI Jakarta Pusat Utara), Edgar Joshua (Ketua Umum Bakerda Gmni DKI Jakarta), Christo Maria Sultan (Ketua Umum PMKRI Jakarta Pusat) dan terakhir Rivaldi selaku Ketua GPII Jakarta Selatan.

Membuka diskusi, Andreas Simanjuntak selaku Korwil 3 GMKI menegaskan bahwa isu radikalisme dan terorisme adalah nyata bukan sebuah hal yang dibuat – buat ataupun rekayasa dari pihak manapun. Ia menyebut perilaku – perilaku terorisme ini berupaya memecah belah kita sebagai sebuah bangsa.

Andreas menambahkan bahwa kaum muda usia 18 – 23 tahun menjadi kelompok yang rentan untuk direkrut sebagai pelaku teror dikarenakan adanya pemahaman ajaran agama yang keliru dan seringkali disalahtafsirkan, dan juga kurangnya pemahaman akan ideologi pancasila.

“Kalau kita berkaca pada sejumlah penelitian, ditemukan kecenderungan bahwa anak muda usia 18 – 23 tahun rentan terpapar paham radikalisme yang berujung pada terorisme, ini akibat adanya pemahaman ajaran agama yang disalahtafsirkan, lalu kurangnya pemahaman akan ideologi pancasila,” kata Andreas.

Lalu Ahmad Husein selaku Ketua HMI Jakarta Pusat Utara memaparkan bahwa fenomena terorisme bukan hanya terjadi di Indonesia, namun telah menjadi fokus dunia internasional.

Ahmad Husein mengungkapkan perlunya pengetatan kontrol pemerintah terhadap peredaran bahan peledak untuk memperkecil penyalahgunaan hal tersebut. Ia pun menegaskan bahwa tindakan terorisme tidak ada kaitannya sama sekali dengan ajaran agama islam, karena dalam islam tidak ada satupun dalil yang membenarkan tindakan terorisme, justru islam mengajarkan kepada umatnya untuk bermanfaat dan berguna bagi bangsa serta negara.

“Saya kira ke depan Pemerintah perlu memperketat peredaran bahan peledak agar tidak disalahgunakan, dan saya juga mau tegaskan bahwa dalam Islam yang saya yakini, tidak ada satupun dalil yang membenarkan hal tersebut, karena Islam mengajarkan umatnya untuk bermanfaat dan berguna bagi bangsa serta negara,” ungkapnya.

Selanjutnya Ketua Umum PMII Jakarta Pusat menjelaskan bahwa konsep terorisme, intoleransi dan radikalisme tidak dapat diterima oleh belahan dunia manapun. Ia juga mengutuk tindakan – tindakan intoleransi dan terorisme yang berupaya merusak kekhusyukan peringatan hari besar keagamaan.

Ia pun menantang Pemerintah, Polri & TNI untuk bersinergi serta berkolaborasi dengan mahasiswa terkhusus organisasi kepemudaan dalam rangka merumuskan metodologi yang tepat dan efektif guna membendung penyebaran paham radikalisme, terorisme dan intoleransi.

“Kami menantang Pemerintah, Polri & TNI serta pihak terkait untuk bersinergi dan berkolaborasi, merumuskan sebuah metodologi yang tepat dan efektif guna membendung penyebaran paham radikalisme, terorisme dan intoleransi,” ujarnya.

Di forum yang sama Edgar Joshua Silalahi selaku Ketua Bakerda Gmni Jakarta menyampaikan bahwa selain karena pemahaman agama yang keliru, terorisme seringkali terjadi karena adanya kesenjangan secara ekonomi, sosial dan politik, sehingga hal – hal ini perlu juga menjadi perhatian Pemerintah.

“Selain karena faktor pemahaman akan ajaran agama yang keliru, terorisme juga bisa terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi, sosial dan politik, sehingga kami rasa perlu untuk memperkuat peran elemen mahasiswa terkhusus Cipayung Plus guna memerangi bibit – bibit radikalisme dan terorisme,” pungkasnya.

Narasumber lainnya, Christo Maria Sultan selaku Ketua Umum PMKRI Jakarta Pusat, bahwa sebagai mahasiswa yang kerap kali disebut dengan agent of change, kita harus selalu terdepan dalam melawan upaya – upaya oknum atau pihak manapun yang mencoba memecah belah bangsa, termasuk tindakan terorisme yang sudah menjadi tantangan global.

Christo juga mengapresiasi Pemerintah melalui Kementerian Kominfo yang telah bergerak cepat dengan memblokir sejumlah situs yang memuat konten – konten radikalisme dan ajakan – ajakan terorisme.

“Kita perlu mewaspadai pola rekrutmen teroris yang berkembang melalui media sosial, untuk itu saya mengapresiasi gerak cepat Pemerintah melalui Kementerian Kominfo yang telah memblokir sejumlah situs yang memuat konten radikalisme dan ajakan terorisme,” tegasnya.

Terakhir Rivaldi selaku Ketua GPII Jakarta Selatan, menyampaikan bahwa terorisme yang terjadi di Indonesia bertujuan untuk menyebarkan ketakutan dan kekhawatiran kepada umat beragama, sehingga akan timbul rasa saling curiga yang berpotensi memecah belah kita sebagai sebuah bangsa, untuk itu kita sebagai pemuda harus ambil peran dalam meminimalisir dan mencegah perilaku – perilaku intoleransi dan terorisme ini, selain itu perlu juga BPIP melakukan penguatan ideologi pancasila sampai pada tingkat sekolah.

Menutup acara diskusi virtual ini, Aliansi Cipayung Plus DKI Jakarta menyampaikan Seruan Kebangsaan yang berisi:

1.Mengutuk keras teror bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar dan aksi teror penembakan yang terjadi Mabes Polri karena hal tersebut bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan ajaran agama manapun

2.Mendorong dan Mendukung Pemerintah bersama Polri & TNI untuk memberikan rasa aman, nyaman dan damai kepada seluruh umat beragama di Indonesia

3.Mendorong serta Mendukung Pemerintah bersama Polri & TNI untuk menindak tegas para pelaku terorisme yang berupaya merusak tenun kebangsaan dan persatuan bangsa

4.Mendorong Pemerintah untuk memperkuat kurikulum pemahaman Ideologi Pancasila terhadap generasi muda sebagai upaya membendung ideologi radikalisme, sekularisme dan komunisme

5.Mengajak seluruh umat beragama di Indonesia untuk terus bergandengan tangan, memperkokoh semangat persaudaraan dan toleransi dalam bingkai Pancasila dan NKRI

6. Mengajak Seluruh Masyarakat Indonesia untuk tidak terprovokasi dengan adanya pemberitaan hoax dan mengajak Masyarakat Indonesia untuk tetap bersatu, mendukung Pemerintah RI, Polri dan TNI