Peran Tajam Media Mainstream, Bendung Hoax dan Hate Speech di Era 4.0

JAKARTA – Ketua Forum Wartawan Joeang (FWJ) Idris menyebut perkembangan jurnalisme tak bisa dipisahkan dari kemajuan teknologi. Kata dia, keberadaan ponsel pintar yang kian merata saat ini membuat orang bisa mendistribusikan informasi dengan munculnya fenomena citizen journailism.

Sehingga hal ini muncul peluang adanya berita-berita negatif berbau provokatif, ujaran kebencian dan hoax.

“Dengan perkembangan teknologi semakin pesat menuju 4.0, dinamika kelompok oposisi yang anti pemerintah pun menyesuaikan. Apalagi pandemi covid-19 saat ini, justru semakin dimanfaatkan untuk melakukan serangan narasi negatif ke Pemerintah,” terang Idris, 11 Maret 2021.

“Peran media mainstream harus berkaloborasi menangkal berita provokatif, hate speech, dan hoax yang kian merajalela,” kata Idris lagi.

Dan kondisi saat ini publik rentan dimanfaatkan oleh kelompok oposisi dengan narasi-narasi provokatif bahkan tendensius.

“Publik sekarang tidak bisa membedakan konten dari yang legitimate atau antah berantah sehingga yang terjadi kegaduhan seperti sekarang,” lanjut dia.

Meski demikian, dia mengatakan bahwa perusahaan besar seperti media massa nasional masih memiliki peluang dalam memposisikan diri di tengah derasnya arus informasi pada media sosial sekarang ini.

“Media punya peluang untuk jadi lembaga klarifikasi atau clearing house. Sekarang ini tidak banyak yang benar-benar jadi lembaga clearing house,” terangnya.

Dikatakannya, tak jarang cepatnya informasi yang tersebar, menurut dia, kerap menimbulkan kegaduhan yang berujung pada kecemasan masyarakat yang seharusnya tidak perlu terjadi.

“Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat harus melek informasi agar tidak terkena tipu daya narasi menyesatkan,” tandasnya.