Belum Pernah Disidangkan, Kasus 6 Laskar FPI Sulit Dibawa Ke ICC

Dosen fakultas hukum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Erfandi.

Redaksikota.com – Perjalanan kasus meninggalnya 6 orang laskar khusus FPI, yang saat ini dibawa dibawa ke International Crime Court (ICC) oleh tim pengacara keluarga korban sepertinya tidak akan mudah. Karena, ada beberapa hal yang bisa menjadi halangan yang membuatnya menjadi cukup sulit untuk bisa di respon oleh ICC.

Seperti yang dipaparkan oleh Dosen fakultas hukum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Erfandi, dalam diskusi online yang digelar oleh Institut Demokrasi Republikan (ID-Republikan). “Kalau kasusnya belum pernah disidangkan di dalam negeri maka tidak bisa dibawa ke Mahkamah Internasional” Katanya, Senin (8/2/2021).

Selain itu Erfandi juga menjelaskan, tentang syarat dalam mengadukan pelanggatan HAM ke Internasional. “Salah satu syarat mengadukan pelanggaran HAM ke Mahkamah Internasional adalah ketika negara itu sudah melakukan ratifikasi terhadap statuta roma,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur, perjalanan kasus tersebut akan sulit direspon sesuai dengan apa yang harapkan oleh pelapor.

Ada beberapa faktor, diantaranya tentang belum diratifikasinya statuta roma oleh Indonesia. “Indonesia blm meratifikasi statuta roma. Kalau mau gunakan mekanisme ini akan sulit,” kata Isnur.

“Ada dugaan unable, dimana Indonesia tidak bisa melakukan penuntutan. Atau unwilling maksudnya Indonesia tidak mau melakukan penuntutan dan penegakan hukumnya. Kalau di dalam negeri masih ada unsur dan mekanisme hukum yang bisa dilalui, maka ICC tidak bisa turun tangan,” lanjut Isnur.