Karyono Wibowo Ingatkan Gerindra Tidak “Sombong” Prabowo Menang Telak

BERBAGI
Karyono Wibowo
Direktur Strategi INDO SURVEY & STRATEGY, Karyono Wibowo.

Redaksikota – Direktur Strategi Indo Survey & Strategy, Karyono Wibowo menilai kepercayaan diri Partai Gerindra terhadap kemenangan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 memang perlu diacungi jempol. Bahkan hal ini positif dan menjadi hal lumrah bagi partai manapun yang mengusung calon tertentu.

Namun Karyono pun mengingatkan agar kepercayaan diri yang terlalu berlebihan tersebut tidak menggelapkan mata mereka. Justru menurutnya, kepercayaan diri yang berlebihan tersebut rentan bisa membahayakan mereka sendiri.

“Akan tetapi percaya diri yang berlebihan bisa berakibat fatal,” kata Karyono dalam keterangan persnya yang diterima Redaksikota, Selasa (12/9/2017).

Apalagi jika persoalan utama keyakinan tersebut hanya berdasar dari perspektif publik yang menilai kinerja Presiden Joko Widodo saat ini tidak memuaskan, janji-janji politiknya saat kampanye banyak yang berlum terealisasi. Padahal dikatakan Karyono, penilaian semacam itu juga tidak bisa serta merta ditelan dan dijadikan dasar posisi Prabowo akan semakin aman dan sangat berpotensi menang bertarung di Pilpres 2019 mendatang itu.

“Tetapi yang perlu dipahami oleh Gerindra, bahwa pernyataan tersebut tidak seluruhnya diterima oleh seluruh masyarakat,” tukasnya.

Data kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi pun dikatakan Karyono diambil juga dari hasil survei beberapa lembaga survei di Indonesia.

“Kika merujuk dari hasil survei sejumlah lembaga survei dalam rilisnya, justru pernyataan Ketua DPP Gerindra Moh Nizar Zahro, beberapa hari lalu bertolak belakang dengan hasil survei yang menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi masih di atas 60 persen, dan saat ini mengalami tren kenaikan,” terang Karyono.

Pertarungan Pilpres 2019 berpotensi Semakin Panas
Peneliti senior dari Indonesia Public Institute (IPI) ini juga tak menampik jika dua sosok yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih menjadi prioritas tertinggi untuk bertarung di Pilpres 2019 mendatang.

Namun yang harus diantisipasi adalah jika nanti hanya ada dua kandidat atau head to head antara Jokowi dan Prabowo, maka pertarungan pilpres akan berlangsung sangat panas.

“Persaingannya akan lebih keras dibanding pilpres 2014 lalu. Pertarungan isu dan propaganda akan lebih keras karena hanya ada dua pasangan calon yang berhadap-hadapan. Apalagi dua tokoh ini pernah bertarung di pilpres 2014,” pungkas Karyono.

Munculnya potensi besar akan pertarungan besar dua sosok ini, Karyono mengingatkan agar seluruh kubu pendukung harus bisa bermain dengan elegan dan mengedepankan nilai-nilai demokrasi, menghindari konflik yang bisa menggesek peradaban sosial. Sehingga potensi perpecahan di kalangan grassroot atau masyarakat luas bisa dihindari.

“Mereka harus memahami dan menyadari bahwa kontestasi elektoral dalam sistem demokrasi bukan sekadar kalah menang. Energi yang dikeluarkan seluruhnya harus diletakkan dalam kerangka menjaga persatuan dan untuk kemajuan bangsa dan negara,” tegasnya.

Partai Gerindra Prabowo Menang Telak
Perlu diketahui, sebelumnya Ketua DPP Partai Gerindra Moh Nizar Zahro menilai jika Prabowo Subianto masih memiliki magnet yang sangat kuat untuk menarik lebih banyak dukungan rakyat Indonesia dalam bursa Pilpres 2019 mendatang.

“Sampai saat ini menurut beberapa hasil survei menyatakan bahwa popularitas dan elektabilitas Prabowo Subianto (PS) makin menanjak. Dan hanya PS lah yang saat ini diprediksi mampu mengalahkan Jokowi,” kata Nizar dikutip dari JPNN.com di Jakarta, Minggu (10/9/2017).

Ketua Umum Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) Gerindra ini mengatakan, hal itu tidak terlepas dari banyaknya warga yang sudah telanjur berharap tinggi kepada Jokowi tapi mendapatkan fakta yang menyakitkan.

“Banyak janji politik Jokowi yang tidak ditepati. Rakyat kecewa dengan kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM, TDL, dan juga kecewa dengan kebijakan menumpuk utang,” ujar anggota Komisi V DPR ini.

Bahkan, katanya, akumulasi kekecewaan itu pula yang menyebabkan pendukung mantan gubernur DKI Jakarta memindahkan dukungannya kepada Prabowo Subianto.