BII-PKPPRI Ingatkan Buruh Jangan Mau Dijadikan “Sapi Perah” Politik Sepihak

BERBAGI

Redaksikota – Ketua Badan Investigasi Independen Peneliti Kekayaan Pejabat dan Pengusaha Republik Indonesia (BII-PKPPRI), Darsuli Saputra mendukung adanya aksi penyampaian pendapat di muka umum, seperti May Day yang dilakukan oleh elemen buruh hari ini.

Aksi semacam itu juga telah mendapatkan kebebasan dan diatur dalam undang-undang, sehingga sah-sah saja dilakukan. Hanya saja walaupun bebas, aksi penyampaian pendapat di muka umum tetap harus kondusif dan tidak anarkis.

“Menyampaikan pendapat dimuka umum diatur dalam Undang-Undang (UU), dan dalam aksinya tetap kondusif serta tak anarkis. Juga harus tetap hormati pengguna jalan yang lain dan tidak sampai ganggu ketertiban umum,” ungkap Darsuli, Senin (1/5/2017).

Lebih lanjut, Darsuli merasa miris jika para buruh justru menjadi alat politik dan nafsu para petinggi serikatnya. Seperti kejadian aksi buruh mengatasnamakan FSP LEM SPSI, yang berunjuk rasa di Jalan merdeka. Dalam aksi tersebut, tampak massa yang berbaju hitam itu melakukan tindakan anarkis, yakni membakar karangan bunga di jalanan.

Dalam aksinya tersebut, Darsuli menilai jika nampak jelas buruh seolah-olah telah menjadi alat nafsu politik pihak tertentu untuk kepentingannya sendiri.

“Kami minta agar akar rumput buruh yang ada di bawah jangan tersesat dan dipolitisir dengan demo-demo yang bernuansa politis itu. Jadi bukan seperti buruh sedang demo tapi untuk pesanan partai atau pihak tertentu,” cetusnya.

Lebih jauh, Darsuli pun mengakui bahwa massa buruh itu akan kerap dijadikan lahan basah oleh kepentingan tertentu. Jika ini tetap saja berlajut, justru perpecahan di antara mereka akan mudah terjadi.

“Buruh kasian jika mau diajak panas-panasan, sementara yang di elit atasnya malah main politik. Cara begini yang membuat serikat buruh terpecah belah dan tidak bersatu,” tuturnya.

Sementara itu, Darsuli pun menyarankan agar perayaan May Day tahun depan, buruh tidak harus aksi turun kejalan tapi bisa juga gelar kegiatan positif lainnya yang bermanfaat bagi sesama.

“Mendingan bikin acara baksos, pasar murah, istighosah, atau donor darah itu lebih manfaat sekali. Daripada buang-buang duit buat perayaan seperti itu (Unjuk rasa -red),” tukasnya.