Faizal Assegaf Tantang Prabowo Subianto

BERBAGI

Redaksiskota – Ketua Progres 98, Faizal Assegaf geram dengan tindakan oknum partai Gerindra yang dinilai telah melakukan pendzoliman terhadap La Nyalla Mattalitti. Baginya sikap oknum Gerindra yang dianggap memeras mantan Ketua Umum PSSI tersebut adalah bentuk kebrobrokan yang ditunjukkan di internal partai berlambang kepala garuda itu.

Bahkan ia menantang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk keluar dan menghadapi dirinya dan publik untuk menjelaskan secara jujur apa yang sebenarnya terjadi, sehingga La Nyalla sampai batal maju sebagai calon Gubernur Jawa Timur 2018.

“Tapi kita minta pak Prabowo keluar dan segera klarifikasi terhadap kadernya yakni supriyatno, apakah ini penyusup atau siapa. Tapi pak Prabowo harus bertindak tegas. kalau berdasarkan rekaman suara ada setoran Rp6 miliar,” kata Faizal di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018).

Dalam rekaman bukti-bukti kuat setoran uang tunah dari La Nyalla kepada pihak oknum pengurus Partai Gerindra itu membuat dirinya yakni ada keterlibatan Ketua Umum Partai Gerindra di dalamnya. Pun demikian dugaan itu pun harus diperkuat dengan keterangan resmi dari mantan Danjen Kopassus tersebut.

“Bahwa ada tim kecil yang isinya pengurus DPD Gerindra Jawa timur terlibat rekaman suara yang minta uang ke pak La Nyalla. Apakah lingkaran kecil itu langsung di bawah kendali pak Prabowo atau memang pak Prabowo dijebak. Ayolah pak prabowo jangan sembunyi di Hambalang, keluar dan jelaskan. Kan enggak lucu kalau tokoh oposisi yang dibela ulama malah melakukan hal itu,” tantang Faizal.

Untuk menghadapi Prabowo dan para oknum partai Gerindra, Faizal Assegaf akan melakukan dua bentuk upaya yakni dengan menggunakan jaringan para ulama dan umat, atau melakukan langkah kedua yakni melalui instrumen hukum yang ada.

“Ini membuka perlawanan politik kita pada mereka. Dua jalur yang akan kita tempuh jalur sosial melalui jaringan ulama dan umat islam dan jalur hukum,” terangnya.

Bagi Faizal, sosok Prabowo Subianto sama sekali tidak boleh kebal dari hukum. Sekalipun dia melakukan kesalahan maka hukum harus bisa menyentuh sosok mantan menantu Presiden Soeharto itu.

“Sehari setelah ke Mabes Polri kita akan ke KPK untuk mendesak proses hukum. Jangan katakan Prabowo kebal hukum, tidak ada itu dia tidak kebal hukum, sekali salah tetap salah,” tegasnya. (*)