Direktur Wahid Foundation Nilai Kelompok Ekstremis dan Radikal di Indonesia Masih Bisa Diatasi

BERBAGI

Redaksikota – Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman atau yang karib disapa Yenny Wahid menyampaikan walaupun memang angka tingkat radikalisme dan intoleran di Indonesia tinggi, namun hal itu masih terbilang kecil.

Hal ini disampaikan Yenny ketika menghadiri acara “Induksi Peserta Kompetisi Concept Note Toleran – Tolak Ujaran Kebencian” di hadapan beberapa lembaga dari seluruh Indonesia yang sengaja diundang ke Jakarta.

“Beberapa waktu PM Inggris David Camaron datang menemui kami. Dia bilang, Muslim di Indonesia 200 juta orang tapi yang bergi ke Syria hanya 500 orang, Tapi di Inggris, Islamnya 2 juta orang tapi yang berangkat 5 ribu. Dia tanya apa yang terjadi, saya jawab karena Indonesia punya Pancasila,” kata Yenny Wahid di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (4/12/2017).

Selain itu, merujuk pada hasil survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation bersama dengan Lingkar Survei Indonesia (LSI) menemukan angka, sebanyak 72 persen orang Indonesia khususnya muslim yang tidak setuju dengan gerakan radikalisme dan intoleransi. Angka tersebut masih sangat besar untuk menangkal paham dan kelompok radikal dan intoleran.

Sebagai negara yang memiliki banyak suku, ras, agama dan golongan, Indonesia memiliki kerentanan besar untuk terjadinya konflik dan perpecahan, namun sampai saat ini persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia masih tetap terjaga. Dan ini disebut Yenny bahwa Indonesia memiliki kelebihan dan menjadi sorotan tersendiri bagi bangsa dan negara lainnya.

“Iindonesia sekarang jadi sorotan, ngapain David Cameron jauh-jauh dari Inggris ke Indonesia, karena dia mau bertanya. Tadi pagi juga saya satu panggung dalam kegiatan yang dihadiri oleh first ladies Afghanistan dan berbicara soal perdamaian,” terangnya.

Cara Agar Paham Radikal dan Intoleran Tersingkir dari Indonesia

Sebagai seorang petinggi dari sebuah lembaga yang sangat concern terhadap upaya menangkal radikalisme dan intoleran dalam penyebaran kampanye narasi damai, Yenny Wahid memberikan catatan agar seluruh kelompok toleran dan moderat harus sudah mulai aktif melakukan upaya “mencuri” panggung yang saat ini sedang dipakai oleh kelompok-kelompok radikal dan intoleran dalam mengkampanyekan narasi mereka.

“Indonesia justru punya peluang besar hadapi intoleran. Syaratnya, bahwa yang namanya silent majority saat ini harus menjadi noise majority. Orang-orang Islam moderat harus lebih bersuara lagi untuk merebut ruang-ruang publik yang selama ini dikuasai oleh kelompok-kelompok penyebar hatespeech. Maka dari itu, kami bikin program ini, kita bisa sebar narasi damai,” ujar Yenny.

Lebih lanjut, Yenny juga menekankan bahwa Islam seharusnya menyebarkan narasi perdamaian dan toleransi yang baik. Dan dikatakan Yenny, itulah salah satu alasan mengapa lembaga Wahid Foundation tersebut didirikan.

“Pesan islam yang utama adalah pesan damai, kita sampaikan ke dunia internasional. Dan inilah salah satu alasan kita dirikan Wahid Foundation,” kata Yenny.

Selain itu, salah satu yang mendorong Wahid Foundation tetap konsisten dalam menjalankan visi dan misinya itu adalah ingin merepresentasikan semangat ayahnya yakni Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Yenny menegaskan jika Gus Dur adalah sosok yang sangat membela kelompok-kelompok yang dilemahkan.

“Gus Dur tidak hanya pembela minoritas, tapi Gus Dur membela orang yang dilemahkan. Bukan masalah minoritas atau mayoritas, tapi ketika ada tindakan intimidasi, kekerasan dan diskriminasi, maka kita akan bela,” tegasnya.

Terakhir, Yenny menyampaikan jika salah satu upaya Wahid Foundation saat ini adalah, bagaimana caranya agar hoax tidak berkembang luas. Baginya, Hoax adalah sebuah konten negatif yang memiliki dampak kerusakan yang jauh lebih besar.

“Yang jadi misi kita adalah perangi hoax. Hoax harus diperangi karena ini mampu membuat dampak buruk dan dampak kerusakan yang sangat luar biasa. Sosial media bisa jadi sebuah mekanisme yang bisa meng-kotak-kotakkan bangsa kita,” terang Yenny.

“Maka dari itu, kita tidak boleh hanya berpangku tangan karena kita ada kepedulian di sana,” tutupnya. (*)