Demi Selamatkan Posisi Golkar, Hari Purwanto Sarankan Jusuf Kalla Jadi Plt Ketum

BERBAGI
Jusuf Kalla Golkar

Redaksikota – Direktur Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanti menilai bahwa posisi Partai Golkar yang masih berada di dalam gerbong pemerintahan Jokowi-JK saat ini perlu diselamatkan. Batapa tidak, berbagai kalangan akar rumput partai justru masih belum menentu pasca Ketua Umum mereka, Setya Novanto dijebloskan ke penjara terkait dengan kasus korupsi e-KTP.

“Golkar menghadapi tantangan yang pelik karena akar rumput sedang terombang-ambing dengan tergerusnya Partai Golkar dampak dari Kasus yang menimpa Ketua Umumnya,” kata Hari dalam keterangannya yang diterima Redaksikota, Minggu (3/12/2017).

Langkah penyelesaian yang sangat bisa dilakukan untuk menyelematkan posisi Golkar adalah dengan segera memilih Ketum baru melalui mekanisme Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub). Apalagi beberapa nama tokoh yang siap mengisi kursi Novanto juga sudah menyeruak ke permukaan.

“Nama-nama sudah mulai dipasang antara lain Airlangga Hartato, Idrus Marham, Indra Bambang Utoyo serta Titiek Suharto yang siap menggantikan Ketua Umum Partai Golkar. Munaslub menjadi langkah penentu kepemimpinan Partai Golkar selanjutnya, sebab partai berlambang pohon beringin tersebut harus segera mempersiapkan diri menghadapi Pilkada serentak pada 2018 dan Pemilihan Anggota Legislatif sekaligus Pemilihan Presiden Wakil Presiden pada 2019,” terangnya.

Namun demikian, Hari Purwanto yang juga merupakan eks aktivis 98 ini menilai posisi Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden Indonesia saat ini bisa menjadi solutif bagi persoalan gejolak partai era orde baru itu.

Apalagi menurut Hari, kecerdikan dan kemampuan Jusuf Kalla untuk mengontrol Golkar juga sudah teruji, yakni saat dirinya menjabat sebagai Wakil Presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

“Sebagai mantan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla harus tetap menjaga gerbong strategisnya di internal Partai Golkar. Kepiawaian Jusuf Kalla tidak diragukan, bahkan sudah teruji saat menjadi Wakil Presiden SBY, dimana JK berhasil menjadi Ketua Umum Partai Golkar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hari pun menilai jika ketokohan Jusuf Kalla saat ini bisa dijadikan alat pemersatu Golkar kembali, yakni memegang tongkat estafet sementara DPP Partai Golkar hingga partai tersebut menggelar Munaslub dan mendapatkan pemimpin baru.

“Sebenarnya Jusuf Kalla bisa menjadi Plt ketua umum Golkar sampai menuju pergantian Ketua Umum defenitif, dan menjaga hubungan Partai Golkar dengan pemerintah disebabkan JK juga menjadi wakil Presiden dari Presiden Jokowi,” tegasnya. (ibn)