Lebih Pilih Wawancara dengan Media Ketimbang dengan Polisi, Novel Disemprot Anggota Dewan

BERBAGI

Redaksikota – Polemik kasus teror yang dialami Novel Baswedan memang tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Apalagi setelah Novel mengumbang informasi jika ada oknum jenderal polisi yang terlibat dalam aksi serangan yang memaksa dirinya harus menjalani perawatan intensif di Singapura itu.

Namun sayangnya, sikap Novel yang memilih menerima wartawan untuk menggali informasi kasus teror yang dialaminya itu ketimbang menyampaikan fakta-fakta yang dimilikinya kepada tim penyidik Polri pun mendapatkan reaksi keras dari anggota DPR RI, Masinton Pasaribu.

Menurut Masinton yang merupakan anggota komisi III DPR RI menilai seharusnya Novel bisa menjalani pemeriksaan dengan polisi ketimbang menerima wawancana wartawan. Hal ini disampaikan agar kasus yang kini heboh itu bisa segera dituntaskan oleh aparat kepolisian.

“Kalau (Novel) tidak percaya (polisi) kemudian kita percayakan pada siapa penanganan kasus ini?,” kata Masinton di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8/2017).

Selain itu, politisi PDI Perjuangan ini juga menilai bahwa saat ini Novel masih menjalani perawatan dan penyembuhan mata kirinya. Namun karena kondisinya yang padat menerima wawancara wartawan sehingga membuat mata kirinya sedikit berdampak.

“Kemudian semua disampaikan ke media, beliau kemarin kondisi matanya tambah parah lagi disebabkan karena aktivitasnya meladeni media. Loh, ini kan penyakit tambah parah ini dibikin-bikin sendiri atau apa?” tukas Masinton.

Setelah kondisinya sempat dikabarkan membaik, Novel harus kembali beristirahat selama dua minggu ke depan dikarenakan tekanan mata meningkat. Tekanan mata yang normal seharusnya berada di bawah angka 10-20 mmHg, tapi saat ini tekanan mata kiri Novel sekitar 26 sampai 27 mmHg.

Berdasarkan keterangan dokter, proses wawancara bisa berpengaruh pada peningkatan emosi sehingga kesehatan mata Novel memburuk.

Selain dikritik karena menerima wawancara, Novel juga disebut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono menolak diperiksa polisi.

Padahal, polisi yang saat itu akan pergi ke Singapura untuk menemui Novel, hanya meminta beberapa jam saja untuk pemeriksaan.

“Saya tidak tahu siapa yang bisa menangani ini kalau polisi sudah tidak dipercaya. Kalau benar ada keterlibatan Jenderal besar di kasusnya, pelaporan kenapa tidak dilakukan? Kenapa hanya menyampaikan ke media? Menurut saya sedang berpolitik kalau hanya beropini. Kalau mencari kebenaran, tempuh dong langkah hukum,” katanya.