BEM-Nas Ingin Wujudkan Target 500 Pengusaha Muda Baru

BERBAGI

Redaksikota – Badan Eksekutif Mahasiswa Nasionalis (BEM-Nas) mengadakan kegiatan Fokus Grup Diskusi dan Buka Bersama di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Diskusi yang bertema “Refleksi Pancasila; Menagih Janji Implementasi Pancasila dalam Setiap Lini Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” ini di hadiri oleh delapan BEM dari Jabodetabek-Banten yakni; UIN Jakarta, STEBANK Jakarta, Universitas Pamulang, Universitas Krisnadwipayana, Universitas Islam Assyafiiyah, STIE Swadaya, UIN SMH Banten, dan UAI.

Riyan Hidayat selaku Koordinator Pusat BEM Nasionalis mengatakan, bahwa pihaknya telah melaksanakan aksi 22 Mei lalu dengan membawa tiga persoalan penting; Pendidikan, Ekonomi, dan Politik.

“22 Mei lalu kita sudah melakukan aksi di DPR dan Istana Presiden RI. Kita menuntut tiga persoalan penting yang harus segera ditindak lanjuti. Persoalan pendidikan, ekonomi, dan politik. Insya Allah dalam waktu dekat ini kita akan menindaklanjuti hal yang sudah kita mulai; audiensi dan rapat dengar pendapat dengan pihak-pihak terkait,” kata Riyan di tengah-tengah kegiatan tersebut.

Selain itu, Riyan juga mengungkapkan bahwa setiap mahasiswa harus mampu melihat celah potensi yang bisa dikembangkan demi kemajuan bangsa dan negara.

Bahkan Presiden DEMA UIN Syarif Hidayatullah ini pun menegaskan jika pihaknya memiliki target pencapaian besar, yakni menciptakan 500 pengusaha muda yang notabane adalah berasal dari kalangan Mahasiswa.

“Realitas hari ini menuntut kita (mahasiswa) harus mampu melihat celah potensi yang bisa dikembangkan demi kemajuan bangsa dan negara. Dalam ruang lingkup kewirausahaan misalnya. Tahun ini BEM-Nas menargetkan akan memunculkan 500 Pengusaha Muda dari kalangan mahasiswa,” tegasnya.

Jika pencapaian itu bisa direalisasikan, Riyan pun mengatakan bahwa itu merupakan bagian dari tekadnya untuk membuat stigma jika Mahasiswa tidak hanya sebagai agent of control, melainkan mampu melakukan tindakan real yang sangat konstruktif dalam memaknai cita-cita bangsa.

“Jadi, kegiatan mahasiswa bukan hanya mengkritik, menekan atau teriak di jalan atau aksi demonstrasi saja, tetapi juga membuat suatu kegiatan konstruktif, demi menopang kemajuan negara dan bangsa yang kita cita-citakan. Ini juga bagian dari Pancasila,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Presiden Mahasiswa STEBANK Jakarta, Fahmi, mengutarakan bahwa gerakan mahasiswa hari ini cenderung pragmatis. Maka perlu adanya upaya agar Pancasila mampu menjadi resolusi di setiap zamannya.

“Kecenderungan pragmatisme gerakan mahasiswa hari ini harus segera dihentikan. Saya meyakini kalau nilai-nilai Pancasila mampu menjadi resolusi bagi pragmatisme. Bahkan kalau saja proses pemahaman Pancasila itu baik, maka seorang mahasiswa akan menjunjung tinggi idealismenya,” katanya disela-sela diskusi.

Selain itu, Andrean Saefudin yang merupakan perwakilan dari Universitas Pamulang juga mengutarakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dari Pancasila itu harus dikongkritkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan cara membuat ide-ide konstruktif.

“Pancasila harus di kongkritkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan cara membuat ide-ide konstruktif. Saya sepakat dengan target BEM Nasionalis yang akan mencetak 500 Pengusaha Muda tahun ini.” pungkasnya.