Biadab! Protokoler Kementerian PUPR Cekik Wartawan Saat Ambil Foto Menteri Basuki

BERBAGI
Tri Wibowo Santoso
Ketua Umum Poros Wartawan Jakarta (PWJ), Tri Wibowo Santoso. [foto : Redaksikota.com]

Redaksikota – Ketua Umum Poros Wartawan Jakarta (PWJ), Tri Wibowo Santoso mengecam keras atas perlakuan yang brutal yang dilakukan oleh protokoler Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Republik Indonesia.

Menurut pria yang karib disapa Bowo tersebut, sikap protokoler Kementerian tersebut telah menyalahi Undang-undang tentang Pers. Bahkan pidana yang bisa dijeratkan ke oknum tersebut bisa sampai kurungan penjara sepanjang 2 tahun.

“Melarang jurnalis meliput sama dengan melanggar UU No 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Pelanggaran terhadap UU ini, bisa dipidana paling lama dua tahun,” tandas Bowo, panggilan akrab Ketua Umum PWJ di Jakarta, Rabu (31/5/2017).

Bowo menambahkan, perbuatan protokoler kementerian PUPR itu tidak hanya melanggar UU Pers No 40 Tahun 1999, tapi juga telah melanggar Pasal 335 KUHP, mengenai perbuatan tidak menyenangkan.

Karena itu PWJ meminta menteri PUPR untuk bertanggung jawab dan menegur anak buahnya yang berprilaku kasar agar hal ini tidak terulang kembali, Menteri PUPR juga harus memberikan sanksi tegas terhadap bawahannya.

“Iya dong Menteri Basuki harus menegur dan bertanggung jawab, itukan anak buahnya, menteri juga harus memberikan sanksi tegas agar menjadi pembelajaran bagi siapapun pelaku kekerasan ” pungkas Bowo.

Kronologi Kebrutalan Protokoler Kementerian PUPR Pada Wartawan Rakyat Merdeka
Kejadian berlangsung di Ruang Serbaguna lantai 17, Gedung Utama Kementerian PUPR, setelah adzan magrib tadi.

Ketika itu Menteri Basoeki Hadimoeljono hendak membagi-bagikan plakat di acara pengukuhan pengurus Badan Kejuruan Teknik Lingkungan Persatuan Insinyur Indonesia periode 2017-2020.

Saat itu, Bunaiya mengaku hendak memfoto menteri. Di saat bersamaan, seorang petugas protokoler memintanya minggir karena hendak menaruh gelas. Bunaiya yang sedang menjalankan tugas meminta izin untuk mengambil foto lebih dahulu sebelum menyingkir. Tetapi, kata makian yang ia dapat.

“Saya bilang sebentar bang belum dapat foto bagus. Tapi orang protokol PUPR itu bilang ‘monyet nih anak’,” cerita Bunaiya.

Bunaiya yang tidak terima dihina kemudian menanyakan maksud orang tersebut. Tapi petugas protokoler itu malah mencekik sembari mendorongnya ke luar ruangan.

“‘Gue protokoler sini. Lu jangan macam-macam‘, dia bilang gitu sambil cekik dan dorong saya keluar ruangan,” lanjut Bunaiya.

Tak hanya itu, petugas protokoler PUPR itu mengelilingi Bunaiya bersama pelayan dan petugas keamanan seolah hendak menangkap penjahat kriminal. Ia pun memegang kartu pers milik Bunaiya.

“Bodo amat lu dari Rakyat Merdeka kek. Terus salah satu pelayan membentak saya untuk keluar dari ruangan. Saya juga dituduh wartawan abal-abal,” ungkap Bunaiya.

Dia kemudian digiring dua orang petugas keamanan PUPR ke lift sambil terus memarahinya.

“Saya sudah bilang pekerjaan wartawan dilindungi undang-undang dan mereka tidak bisa melarang saya begitu caranya. Tapi mereka tidak peduli,” ucap Bunaiya.