22 Mei, KSPI Akan Ikut Hadir Aksi di Depan Istana

BERBAGI
FSPMI
Buruh FSPMI

Redaksikota – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mengatakan bahwa momentum Kebangkitan Nasional bisa jadi bahan refleksi pemerintah untuk lebih dalam melihat nasib rakyatnya, khususnya kaum buruh yang masih terlunta-lunta nasib kesejahteraanya.

“Saat ini, beban kehidupan buruh dan masyarakat umum semakin berat dengan adanya kebijakan dari pemerintah yang menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 900 VA. Seperti diketahui, mulai 1 Mei 2017, untuk ketiga kalinya harus merasakan harga listrik yang semakin mahal,” kata Iqbal dalam siaran persnya yang diterima Redaksikota, Jumat (19/5/2017).

Dampak dari kenaikan TDL ini dikatakan Iqbal setali tiga uang dengan semakin meroketnya harga kebutuhan pokok. Terlebih lagi kebijakan kenaikan TDL itu juga berada di momentum yang kurang tepat, yakni menjelang Bulan Suci Ramadhan, yang tentu harga akan semakin jauh lebih tinggi lagi.

“Apalagi kenaikan harga kebutuhan pokok juga makin tinggi, terutama menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya, dimana harga-harga seperti bawang putih, minyak goreng, hingga daging akan cenderung naik,” pungkasnya.

Bukan hanya harga kebutuhan pokok saja, Iqbal yang juga menjadi pengurus ILO ini menyatakan jika persoalan lain juga tengah menyelimuti rakyat Indonesia, yakni pada sektor penikmatan energi seperti gas dan bahan bakar minyak yang dinilainya tidak ada keberpihakan kepada rakyat menengah kebawah.

“Kebijakan ini sangat ironis, karena terjadi pada saat yang bersamaan harga energi dunia sedang turun. Selain itu, kenaikan upah buruh dibatasi melalui PP 78/2015 yang semakin menurunkan daya beli,” tegasnya.

Ditambah lagi dengan berbagai persoalan yang kini tengah pelik terjadi di Indonesia. Untuk itu, Iqbal pun menandaskan bahwa momentum Hari Kebangkitan Nasional ini bisa dijadikan refleksi dan momentum yang tepat untuk mengoreksi dan mengevaluasi pemerintahan saat ini, agar berbagai persoalan bangsa dapat segera dientaskan.

“Hari Kebangkitan Nasional adalah momentum bagi gerakan buruh, khususnya KSPI, untuk menyuarakan kesejahteraan dan keadilan sosial,” kata Iqbal menandaskan.

Lebih lanjut, Iqbal juga mengatakan jika pihaknya akan menggelar refleksi dan diskusi terkait dengan berbagai persoalan yang akan menjadi sorotan mereka.

“Elemen buruh bersama-sama dengan gerakan sosial yang lain merencanakan kegiatan refleksi bertema ‘bangun demokrasi rakyat, lawan kebangkitan orde baru’ pada tanggal 21 Mei 2017,” terang Iqbal.

Dan pada esoknya, Iqbal pun menyatakan bahwa buruh akan turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya. Dan titik aksi yang akan menjadi konsentrasinya adalah depan Istana Merdeka.

“Keesokan harinya, elemen mahasiswa akan turun ke jalan dengan melakukan unjuk rasa di Istana Negara pada tanggal 22 Mei 2017,” terangnya.

Diketahui, dalam aksi yang akan mereka gelar tersebut juga bertepatan dengan rencana aksi Mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI). Dan terkait dengan jadwal yang bersamaan itu, Iqbal mengatakan tidak ada masalah. Bahkan ia menegaskan jika buruh akan mendukung siapapun ormaa atau kelompok yang bergerak dengan tujuan untuk kepentingan rakyat Indonesia.

“Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mendukung setiap gerakan yang bertujuan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah demi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” tegas Iqbal.

“Oleh karena itu, KSPI akan ikut berpartisipasi dalam kegiatan refleksi dan unjuk rasa pada tanggal 21 dan 22 Mei 2017 tersebut,” imbuhnya.