Tentang Sistem Percepatan Dwelling Time, Jokowi Jangan Hanya Marah-marah

BERBAGI
Presiden Jokowi, Joko Widodo, Petikemas Kalibaru
Presiden Jokowi sedang melakukan peninjauan langsung area petikemas pelabuhan Kalibaru, Tanjung Priok. [foto : biro pers setpres]

Redaksikota – Presiden RI, Joko Widodo untuk ke dua kalinya menunjukkan kemarahan saat Peresmian pengoperasian Terminal Petikemas Kalibaru Tanjung Priok pada (13/9/2016). Kemarahan orang nomor satu di Republik Indonesia tersebut karena target Dwelling Time hanya 2 hari tidak tercapai, malah pelabuhan tua di Belawan masih 7-8 hari.

Hal tersebut ditanggapi oleh Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono yang mengatakan, bahwa kemarahan Presiden Jokowi itu merupakan hal yang sangat lumrah.

“Begini kalau Joko Widodo marah lumrah saja, karena apa yang dicita-citakan yaitu dwelling time yang lebih singkat tidak kunjung terealisasi. Saya juga kalau jadi Presiden pasti marah tapi enggak kayak Joko Widodo marah sampai menunjukan kemarahannya di depan publik terkesan kalau dia itu udah kerja tapi bawahannya yang salah terus,” kata Arief melalui keterangan tertulisnya yang diterima Redaksikota, Rabu (14/9/2016).

Selain itu, Arif juga menambahkan bahwa seharusnya Jokowi jangan menunjukan kemarahannya, akan tetapi lebih menguatkan kekompakan antar lembaga dan departemen.

“Harusnya Joko Widodo jangan menunjukan kemarahan, justru harusnya dia harus lebih wise (bijaksana), kalau untuk mencapai dwelling time yang lebih singkat menjadi 2 hari itu butuh sebuah kerja team yang kompak lintasan lembaga dan Departemen,” katanya.

Dwelling Time akan lebih singkat kalau terjadi yang namanya sebuah kerja sama yang baik antar Lembaga atau Departemen terkait, untuk menyamakan visi misi dwelling time yang singkat,” lanjut Arief.

Dalam paparanya, untuk memperpendek sistem dwelling timenya sudah ada, akan tetapi tingginya keegoisan dari masing-masing sektoral membuat dwelling time yang singkat tidak tercapai.

“Sistem untuk memperpendek dwelling time memang sudah ada namun masih tingginya ego sektoral sehingga dwelling time yang singkat tidak dapat tercapai,” ucapnya.

Terkait Pelabuhan tua belawan, memang sudah overload. Sehingga butuh Pelabuhan pengganti yang didukung juga oleh peralatan yang lebih canggih, untuk mendukung terjadinya dwelling time yang lebih singkat.

Politisi Partai Gerindra ini pun menyarankan agar Presiden perbanyak istighfar, agar diberikan kesabaran. Dan ia menekankan kemarahan seperti itu tidak perlu ditunjukkan di depan kamera, namun lebih pada kemarahan di balik layar dengan bentuk gaya kemarahan yang lebih elegan, seperti menyindir dan melakukan upaya pergantian (reshuffle) jika pun diperlukan, agar bawahan bisa bekerja dan menerjemahkan keinginan pemimpinnya, yakni Presiden sebagai kepala Negara.

“Lebih baik pak Joko Widodo jangan keliatan marah-marah, lebih baik banyak Istighfar aja agar diberikan kesabaran dalam melakukan revolusi mental di setiap Lembaga atau Departemen untuk mencapai dwelling time yang lebih pendek. Mungkin dengan menyidir dan melakukan evaluasi atau menganti para pejabat terkait yang tidak juga sanggup menciptakan dwelling time yang singkat pun bisa dilakukan. Tapi gak perlu marah-marah begitu lah,” tandasnya. [ian]