Gara-gara Haknya Tak Dipenuhi Perusahaan, Puluhan Buruh KPS Demo Pabrik

BERBAGI

SERANG, Redaksikota – Puluhan Buruh PT Karya Putra Sukses (KPS) yang berlokasi di Jalan Lanud Gorda, Kampung Maja, Kecamatan Kibin melakukan aksi unjuk rasa di halaman pabrik. Aksi tersebut dilakukan untuk menuntut perusahaan agar membayar upah lembur secara normatif dan menghapus sistem kerja harian lepas.

Pantauan Redaksikota, aksi yang dilakukan sejak pukul 08.00 WIB tersebut berlangsung cukup tertib. Massa aksi bergantian melakukan orasi untuk menyampaikan aspirasinya. Aksi tersebut pun mendapatkan pengawalan ketat dari pihak kepolisian setempat. Sementara itu, perusahaan yang memproduksi furniture dan meubel tersebut tidak beroperasi sejak pagi hari.

Sekretaris DPC SBSI Kabupaten Serang Faizal Rahman mengatakan, bahwa aksi yang dilakukan tersebut untuk menuntut permasalahan yang sifatnya normatif. Dimana PT KPS memiliki salah seorang karyawan yang di-PHK karena meninggal dunia. Namun sampai saat ini haknya yakni pesangon tidak juga diberikan oleh perusahaan.

Kedua, kata dia, PT KPS sendiri selama ini tidak pernah memperhitungkan upah lembur karyawan sesuai dengan perhitungan undang-undang. Selain itu perusahaan pun mempekerjakan karyawan dengan jam kerja yang molor namun tidak pernah dihitung lembur.

Padahal, perusahaan sendiri sesuai dengan nota dinas tenaga kerja tidak diperbolehkan mempekerjakan pekerja harian lepas atau pun Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Namun rupanya saat ini perusahaan masih mempekerjakan pekerja PKWT dan hal itu dianggap sangat menciderai para pekerja.

Selain itu ujar dia, perusahaan pun melakukan mutasi pada dua orang karyawan yang diduga mutasi itu dilakukan atas dasar ketidak sukaan. Dua orang yang dimutasi tersebut adalah pengurus serikat buruh atas nama Sarman dan Heri Sudiyanto.

“Mutasi kebagian umum dimana pekerjaan mereka adalah dibagian kebun dan bagian mendorong gerbang atau menjadi pengganti pekerjaan security. Kami sangat prihatin dengan arogansinya PT KPS,” kata Faizal kepada wartawan di lokasi, Rabu (10/1/2018).

Kemudian, pihak perusahaan pun sempat mengeluarkan statemen menantang terkait adanya mogok kerja sampai kapanpun akan dilayani. “Itu yang membuat kami juga saat ini sampai seterusnya melakukan perlawanan kepada manajemen KPS,” ucapnya.

Untuk saat ini, kata Faizal pekerja harian lepas di perusahaan tersebut berjumlah 150 orang. Total pekerja seluruhnya bersama karyawan tetap berjumlah 300 orang. Oleh karena itu, hampir separuh karyawan di perusahaan itu adalah harian lepas. Untuk karyawan tetap mereka dibayar secara normative sesuai UMK, sedangkan PHL dibayar Rp. 130.000-150.000 per hari. “Lebih setengahnya malah,” katanya.

Secara aturan, lanjutnya, jam kerja pekerja itu tidak boleh lebih dari 40 jam per Minggu. Namun KPS setiap harinya bisa 1-2 jam overtime. Overtime tersebut pun tidak dihitung lembur. Itu artinya, dalam satu minggu pekerja di perusahaan itu bisa mencapai 12 jam overtime. ”Tidak dibayar lembur itu,” ujarnya.

Pihaknya pun mengaku sudah menyampaikan surat kepada dinas tenaga kerja untuk meminta dilakukannya mediasi. Seharusnya, pada hari ini (Rabu) mereka melakukan mediasi dengan dinas tenaga kerja. “Karena ada unjuk rasa sehingga kami minta di schedulkan ulang agar pihak dinas memanggil lagi pihak perusahaan untuk melakukan mediasi ini,” tuturnya.

Ia menuturkan, jika kemudian tuntutan mereka tidak juga dipenuhi, pihaknya akan tetap melakukan mogok kerja. Kemudian, pihaknya pun akan menyurati manajemen. Sebab ada kekhawatiran dialog yang telah dilakukan itu tidak sampai ke atasan langsung. “Artinya kami akan menyurati manajemen terkait dengan beberapa hal yang kami sampaikan. Baru hari ini (Aksi), rencananya sampai tuntutan kami dipenuhi sama perusahaan, karena diantara tuntutan ini sampai saat ini belum ada yang diberikan,” katanya.

Sementara itu, saat mencoba melakukan konfirmasi, pihak perusahaan tidak dapat ditemui. (jiwa)